Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Flores

M. Yusuf Purwanto • Senin, 27 Juni 2022 - 15:00 WIB
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
ANJANI mulai mengemasi pakaiannya. Sementara Pak Rudi ayahnya tengah menunggunya di luar. Dengan berat hati Pak Rrudi seolah belum ihklas melepas sang putri hendak menjadi seorang pekerja migran Indonesia (PMI). Perempuan sederhana itu akan bekerja di Singapura.

 

Bu Sumartipun berusaha menenangkan hati suaminya sedang terlihat begitu cemas. ‘’Sudahlah Pak, toh putrimu Anjani kan sudah menginjak usia dewasa. Diakan pergi ke Singapura untuk bekerja?’’ ujarnya dengan kalem.

 

‘’Tapi Bu, apakah ibu tidak merasa cemas tentang nasib dan masa depan putri kita. Bapak tidak ingin putri kita menjadi korban kekerasan,’’ gelisah Pak Rudi.

 

‘’Sudahlah kita serahkan saja semuanya kepada Allah, mudah-mudahan  Anjani dapat pulang ke tanah air dengan selamat,‘’ ujarnya sambil menjahit baju.

 

‘’Bu, Anjani berangkat ke Singapura dulu. Doakan ya semoga Anjani dapat majikan yang baik. Assalammualaikum ya, Anjani pamit dulu semoga Bapak dan Ibu sehat-sehat selalu,’’ katanya sambil menarik koper dengan buru-buru.

 

Anjani pun segera bergegas masuk ke dalam mobil dan melambaikan salam perpisahan kepada para warga sekitar. Hujan pun turun dengan deras, dengan terburu-buru dia meminta sopir taksi untuk mengantarkannya menuju bandara dengan cepat.

 

Setibanya di bandara Anjani pun bergegas berlari menuju loket tiket. Seketika dirinya teringat pesan sang ibu dan waktu tengah menunjukkan pukul 22.00.

 

Pesawat yang dia tumpangi akan segera berangkat. Anjani berdoa kepada Allah agar selamat sampai tujuan. Dengan mata sebabnya Anjani pun tak kuasa menangis. Seandainya ia memiliki cukup uang pasti dia akan melanjutkan kuliahnya di Institut Teknologi Bandung (ITB).

 

Maklum, untuk makan sehari saja, dia masih mengandalkan diri kepada orang tuanya yang hanya seorang penjahit pakaian. Dalam perjalanan dia pun memandangi langit malam dan memikirkan nasib orang tuanya yang sudah sepuh.

 

‘’Bagaimana nasib orang tuaku nanti? Aku takut mereka akan pergi meninggalkanku,’’ ujarnya sambil menggigit jari.

 

Malam semakin larut, Anjani pun mulai kelelahan dan tertidur pulas. Keesokan harinya Anjani tiba di Singapura. Dia pun bergegas mencari mobil taksi, namun tidak ada satupun yang mau berhenti. Ia merasa kesulitan beradaptasi dengan dunia luar. Ia pun terpaksa harus mencari bantuan seorang diri tanpa harus mengandalkan orang lain.

 

‘’Seandainya saja ini adalah Jakarta, maka aku pun tidak perlu repot-repot memesan taksi semahal dan sesusah ini,’’ ucapnya sambil menggerutu.

 

Di Negeri Singa itu dirinya merasa asing karena ia tidak cukup fasih berbahasa asing. Maklum hanya lulusan SMA, pikirnya. Untunglah nasib baik masih berpihak padanya. Ia pun bertemu dengan seorang pemuda asal Indonesia asal Bali. Bayu, namanya.

 

Dengan senang hati, pemuda Bali itu bersedia mengantarkan gadis lugu tersebut. Dan menolong sudah menjadi tugas wajib terhadap sesama manusia. ‘’Terima kasih sudah bersedia mengantarkan saya. Ngomong-ngomong tinggal di mana? Kok jauh-jauh sampai ke Singapura‘’ tanya Anjani dengan heran.

 

‘’Saya seorang mahasiswa. Sudah dua tahun bermukim di Singapura. Saya mendapatkan beasiswa jadi belajar di sini dengan harapan bisa membahagiakan ibu,’’ ucapnya dengan santun.

 

Kemudian Bayu pun bertanya kembali kepada Anjani. ‘’Kalau kamu ke sini ingin ngapain? Kuliah atau bekerja?’’ gumamnya.

 

‘’Kerja sebagai seorang PMI. Maklum saya hanya lulusan SMA, makanya datang jauh-jauh ke Singapura untuk bekerja,‘’ jawabnya sambil malu-malu.

 

Bayu pun menawarkan pekerjaan kepada Anjani untuk bekerja di sebuah kafe dekat dengan kawasan Chinatown. Keduanya pun saling memberikan nomor kontak. Keduanya pun terlihat begitu akrab, namun tanpa disadari benih-benih cinta mulai bersemi di antara mereka. Sayangnya, Anjani hanya mengganggap hubungan di antara mereka sebatas teman saja.

 

Keesokan harinya, Anjani pun mulai melamar kerja di kafe tersebut. Namun, keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak padanya. Surat lamarannya ditolak oleh perusahaan kafe tersebut lantaran ia kurang fasih berbahasa asing.

 

Dengan raut wajah sedih pun, Anjani mulai berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Menawarkan ijazahnya hingga akhirnya dia diterima di sebuah perusahan ekspedisi barang. Dengan raut wajah senang, Anjani pun bersyukur masih ada orang ingin bersedia menerimanya bekerja.

Baginya gaji kecil atau besar adalah rezeki dari Tuhan yang patut ia syukuri.

 

Keesokan harinya saat dia hendak pergi menuju kantor, kembali bertemu dengan Bayu, pemuda asal Pulau Bali pernah menolongnya. Keduanya pun saling bertegur sapa dan tersipu malu seperti layaknya sepasang kekasih sedang jatuh hati.

 

Keduanya pergi naik taksi. Anjani pergi menuju kantor, sementara Bayu pergi menuju kampus. Setibanya di kantor Anjani pun disibukkan pekerjaan, namun tiba-tiba dirinya teringat orang tuanya. Namun, apa daya, dirinya adalah tulang punggung keluarga harus menafkahi keluarga di kampung halamannya.

 

Dua tahun sudah Anjani menetap di Singapura. Tentu orang tuanya merindukan anaknya. Selama dua tahun, mereka menunggu kabar kepulangannya, namun tak ada kabarnya. Jangankan untuk pulang mudik, menelpon pun sepertinya tidak ingin sama sekali. Mereka mulai berpikir bahwa Anjani sudah melupakan mereka.

 

Anjani sebenarnya ingin berjumpa dengan orang tuanya. Namun, ada tugas penting harus ia kerjakan ada kontrak kerja harus diselesaikan. Kemudian dia menelpon orang tuanya dan betapa terkejutnya hati mereka.

 

Bahagianya bukan main akhirnya putri kesayangan mau menghubungi mereka meski sebatas dunia virtual. Bu Sumarti pun kemudian bertanya mengapa putrinya itu baru ingin menghubungi. Percakapan mereka berubah menjadi sebuah pertemuan penuh haru dan bahagia.

‘’Ibu, Bapak, bagaimana kabar kalian di sana, Anjani berharap kalian dalam keadaan sehat,’’ ujarnya melegakan.

 

‘’Kami juga berharap kamu baik-baik saja di sana. Mengapa kamu tidak pulang ke Indonesia? Apakah kamu tidak rindu masakan ibu,‘’ ‘’ gumam mereka berdua.

 

‘’Bukan Anjani tidak ingin pulang, tapi ibu kan tahu pemerintah Singapura sedang menerapkan lockdown total. Dua tahun sudah pandemi Covid-19 menguasai seluruh penjuru warga dunia. Perusahaan tempat Anjani bekerja pun terpaksa harus mengalami gulung tikar.

Membuat Anjani terpaksa menjadi korban pemberhentian hubungan kerja (PHK). Ttempat di mana dia bekerja, mau tidak mau, ia pun terpaksa harus mencari penghasilan tambahan.

 

Dari pekerjaan sampingan sampai freelance harus ia kerjakan demi bertahan hidup dengan selembar dolar. Dari penghasilannya bekerja ia sisihkan menabung berharap dapat berangkat naik haji bersama dengan orang tuanya.

 

Sampai pada suatu hari, Anjani bertemu kembali dengan Bayu, pemuda asal Pulau Bali ketika kali pertama hijrah ke Singapura. Dia terkejut dengan penampilan yang semakin gagah serta maskulin. Dua sejoli itu terlihat bahagia seperti layaknya seorang kekasih sedang di mabuk asmara.

 

‘’Ini Bayu kan? Kok penampilannya terlihat jauh beda ya hehehe.’’ ujar Anjani dengan sedikit meledeknya.

 

‘’Oh mas ingin melamar kerja ya?’’ tanyanya lagi.

 

‘’Bukan saya ingin mengajakmu pulang ke Flores karena sudah dua tahun kamu dan saya tidak pulang,’’ jawabnya.

 

‘’Memang ada kejadian apa di Flores?’’ tanyanya dengan raut wajah bingung.

 

Lalu tanpa berpikir panjang Anjanipun menuruti perkataan Bayu, ia pun dengan sigap menurunkan koper dan pergi menuju bandara. Akhirnya Anjani dapat bernapas lega ia akhirnya dapat pulang ke Flores dan dapat bertemu kembali dengan keluarganya. Raut wajahnya terlihat sangat bahagia.

 

Baginya kebahagiaan terbesar adalah berkumpul bersama keluarganya. Bayu sepertinya menyukai kepribadian gadis lugu tersebut. Supel sopan dan mudah bergaul dengan siapapun mungkin ingin meminangnya. Namun, Anjani hanya mengganggapnya rekan sebaya.

 

Anjani dan Bayu segera bergegas menuju bandara. Keduanya tampak begitu bergembira. Pesawat mereka tumpangi akan segera lepas landas meninggalkan bandara penerbangan.

 

Bayu menatap angkasa, tanpa sadar Anjani terlelap di samping pundaknya. Bayu hanya bisa tersenyum menyaksikan Anjani tertidur pulas. Keesokan paginya setibanya di Indonesia, Anjani dan Bayu mengucapkan salam perpisahan.

 

Anjani dengan berat hati memeluk Bayu dan melambaikan tangan dari kejauhan. Kepulangan mereka berdua disambut meriah oleh warga sekitar dan ketua adat. Ibu dan ayahnya menyambut kepulangan putrinya dengan penuh haru biru. ‘’Selesai sudah perjuanganmu nak,’’ gumam Bu Surmati sambil meneteskan air mata.

 

Raut kebahagiaan tergambar jelas wajah keduanya melihat putri mereka satu satunya pulang ke tanah air dengan selamat. ‘’Tuh kan benar apa kata Bapak, Anjani putri kita pasti akan pulang’’ gumam Pak Rudi tersenyum bahagia.

 

Senyumannya ranum. Kegembiraan terpancar jelas kedua wajahnya seperti menandakan datangnya seribu musim. Malam harinya, mereka mengadakan pengajian sebagai bentuk syukur atas kepulangan putrinya.

 

Para warga dan ketua adat berdatangan dan turut mendoakan keselamatan dan keberkahan kepada keluarga Pak Rudi. Melihat banyak orang mendoakan, Anjani pun tersenyum dan merasa bersyukur karena dikelilingi oleh tetangga baik.

 

Baginya tidak ada tempat menyenangkan di dunia seperti kampung halamannya di Flores meski terkesan sederhana, namun terdapat banyak kebahagiaan. (*)

 

*) Alumni SMA Taman Siswa.

Editor : M. Yusuf Purwanto
#cerpen #pinarak bojonegoro #lembar budaya #Flores #bojonegoro #kampung halaman