Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Rais Putro, Perajin Wayang yang Masih Eksis di Lamongan

M. Yusuf Purwanto • Sabtu, 17 Juni 2023 | 19:57 WIB
CEKATAN: Rais Putro saat memahat gambar wayang berbahan kertas karton di teras rumahnya, kemarin (16/6). (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
CEKATAN: Rais Putro saat memahat gambar wayang berbahan kertas karton di teras rumahnya, kemarin (16/6). (ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
LAMONGAN, Radar Lamongan - Wayang menjadi salah satu warisan kesenian. Namun kegemaran milenial terhadap wayang semakin minim di tengah gempuran teknologi. Hal itu tak menciutkan semangat Rais Putro, salah satu perajin wayang di Desa Sidomukti, Kecamatan/ Kabupaten Lamongan yang masih eksis memproduksi wayang hingga saat ini.

Tidak hanya wayang berbahan kulit sapi, tapi pria 62 tahun tersebut juga memproduksi wayang berbahan kertas karton. Wayang berbahan kulit sapi biasanya digunakan untuk pementasan. Sedangkan, wayang berbahan kertas karton untuk hiasan dinding.

Meski harganya jauh lebih murah, tapi pengerjaan wayang berbahan kertas karton lebih sulit dibandingkan kulit sapi. Terutama saat proses pengecatan. Sebab jika tidak hati-hati, maka cat mudah terkelupas dari kertas karton.

Beda kalau kulit, tentunya cenderung lebih mudah pengerjaan, namun dengan harga lebih mahal, tutur Rais, sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan, Jumat (16/6).

Rais tampak cekatan dalam mengambar hingga memahat wayang berbahan kertas karton di teras rumahnya. Selanjutnya, dia menunjukkan beragam jenis wayang hasil karyanya. Ketertarikan Rais pada wayang sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Sejak umur 11 tahun sudah suka wayang kulit, apalagi orang tua juga hobi, ujarnya.

Saat berusia 20 tahunan, Rais mulai belajar membuat wayang. Selanjutnya, Rais juga sempat bergabung dalam pertunjukan karawitan wayang saat usianya masih 30 tahunan. Rais lalu menceritakan proses pembuatan wayang berbahan kulit sapi.

Kalau saya ini mulai dari awal beli kulit sapi dari penyembelih hingga dijemur sendiri di rumah, ucapnya.

Setelah itu kulit sapi dibersihkan, hingga tidak ada sisa daging atau gajih yang menempel. Kulit sapi lalu dikeringkan selama satu bulan penuh di bawah sinar matahari. Setelah kering, kulit tersebut dibersihkan  bulunya terlebih dulu dengan ampelas gerinda. Barulah kulit tersebut disisakan dengan tebal kurang lebih 1 centimeter (cm) hingga 1,5 cm.

Pembersihan pengambilan gajih sendiri, tentunya kalau tidak bersih akan menyulitkan dalam proses menggambar dan pengecatan, katanya.

Rais membutuhkan waktu satu hari untuk menggambar satu wayang berukuran kecil. Sedangkan menggambar wayang berukuran besar membutuhkan waktu hingga tiga hari.

Proses pembuatan sama antara wayang berbahan kulit sapi dan kertas karton, hanya saja bahan dan harganya yang berbeda, imbuhnya.

Wayang kulit produksinya dipesan sejumlah dalang kenamaan. Seperti almarhum Ki Anom Subroto, almarhum Ki Kasiran, almarhum Ki Anom  Sae'an, Ki Anom Hartono, Ki Anom Priyanto, dan sejumlah dalang dari wilayah Lamongan dan sekitarnya.

Sedangkan untuk harga (wayang kulit, Red) mulai Rp 200 ribu hingga 600 ribu, tergantung besar kecilnya wayang, terang Rais. (mal/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto
#Perajin Wayang Kulit #wayang kulit #Hobi #lamongan