Saat wartawan koran ini mengunjungi rumahnya, terdapat banyak bonsai ditata rapi di samping rumahnya, kemarin (3/6). Tanaman yang dibentuk bonsai bervariatif yakni tanaman simbur, bucida, asem, kawista, mengsian atau yang biasa disebut cung-cung belut, beringin, dolar, santigi dan pohon sakura.
Tampak sejumlah ranting tanaman diberikan kawat, untuk dibentuk sesuai keinginan. Salah satu bonsai yang menarik perhatian, yakni terlihat di pot terdapat tulisan Tahun 2007. Itu menandakan bonsai tersebut ditanam sejak 16 tahun yang lalu.
Pria berusia 55 tahun ini menekuni bonsai sejak Tahun 1985, dengan belajar secara otodidak. Menurut dia, bonsai merupakan seni tanaman yang tak lekang oleh waktu. Bucida dan kawista menjadi tanaman favoritnya.
‘’Saya hanya petani rumahan, belajar dari awal,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.
Dia menjelaskan, bucida ini impor dari Thailand yang dikembangkan di Indonesia lewat buahnya. Sebab, diakui Nipan, perawatan bucida mudah dan tahan panas. Selain itu, bentuk rantingnya bagus dengan daun kecil, serta akarnya cukup subur.
‘’Saya menanam sejak umur lima centimeter, beli dari teman, jadi ganti-ganti polibag,’’ ucap bapak dua anak ini.
Tak hanya bucida, tanaman simbur juga merupakan impor dari Vietnam. Sedangkan, menurut dia, kawista menjadi tanaman lokal dengan perawatan yang cukup mudah. Ukuran daunnya hampir mirip tanaman bucida.
‘’Saya condong melihat dari bahannya, dari Indonesia maupun dari lainnya (impor, Red) sama,’’ ujarnya.
Nipan membuat sendiri media tanam bonsai. Berdasarkan pengalamannya, media terbaik dengan bahan sekam dicampur kotoran kambing, serta ditambah molase atau tetes tebu dan dolomit. Kemudian ditunggu satu minggu baru bisa ditanami. Selain media tanam untuk pupuk cair alami, dia membuat fermentasi dengan cara kotoran kambing dicampur dengan air rendaman pelepah pisang yang sudah membusuk, kemudian diberi tetes tebu dan EM 4.
‘’Saya taruh di tempat tertutup, dan disiramkan satu minggu sekali,’’ imbuhnya.
Nipan memiliki cara tersendiri dalam menyuburkan bonsai kesayangannya. Bukan dengan pupuk NPK atau pupuk kimia lainnya. Dia mengakui, pupuk NPK bagus tapi memiliki efek negatif. Jika tidak sesuai takaran, maka bisa membuat stres tanaman.
‘’Bagus sekali menggunakan pupuk cair fermentasi ini, daunnya kelihatan subur dan hijau,’’ terangnya.
Untuk penyiraman dilakukan pagi dan sore hari. Terutama menghindari penyiraman saat terik matahari. Sebab kurang baik pada tanaman, yang mengakibatkan mudah stres.
Nipan mengatakan, biasanya membentuk tanaman menjadi bonsai saat berumur empat bulan. Namun, dirinya juga melihat kesiapan tanaman dibonsai, dengan adanya banyak cabang pada tanaman.
Dalam membentuk bonsai, dia hanya menggunakan feeling (perasaan) dan pengalaman sebelumnya. Yakni disesuaikan dengan karakter bonsai yang lebih unik dan enak dipandang saat terdapat banyak lekukan.
‘’Jadi tidak semua orang memiliki jiwa seni,’’ ujarnya.
Sejumlah bonsai milik Nipan cukup menarik, yang berada di atas bebatuan. Dia memiliki trik dalam menempel bonsai dengan batu, sehingga akar bisa menyatu. Caranya tanaman dan batu ditanam bersamaan dengan akar ditali pada batu, yang selanjutnya dililit dengan plastik.
‘’Beberapa bulan akar akan banyak menempel pada batu,’’ katanya.
Nipan menjadikan hobinya juga sebagai ladang berbisnis. Dia membeli tanaman kecil seharga Rp 20 ribu, lalu dirawat dan dijadikan bonsai. Setelah besar harganya terdongkrak. Nipan mengaku pernah menjual bonsai miliknya hingga Rp 1 juta per unit.
‘’Alhamdulillah lumayan buat tambahan kebutuhan mas,’’ pungkasnya. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto