Kabid Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan, Bakrudin, menjelaskan, saat ini memasuki musim panen tebu. Musim giling tahun ini dari KTM dimulai 8 Mei. Namun, harganya belum dirilis. “Petani tebu tahun lalu cukup terbantu dengan harga yang cenderung stabil sehingga mereka memiliki modal untuk tanam,” jelasnya.
Ketika harga yang dirilis anjlok, maka otomatis keuntungan petani berkurang. Meski sebagian dari mereka sudah bermitra dengan pabrik, lanjut dia, biaya operasional dan ongkos buruh juga tinggi. “Kalau secara kualitas karena belum tebang, jadi belum diketahui. Tapi mudah-mudahan baik supaya harga pabrikan juga tinggi,” harapnya.
Bakrudin menuturkan, petani tebu panen satu kali. Mereka terkover pupuk bersubsidi. Sedangkan bibitnya ada yang beli dan dibantu pabrik. Dia berharap harga yang dirilis tinggi dan tebu rendemen terbawah tetap dibeli supaya minat petani untuk tanam tahun berikutnya tetap tinggi. “Tentu harga akan menyesuaikan kualitas, tapi mudah-mudahan petani diuntungkan,” tuturnya. (rka/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto