Menurut dia, ada rencana perluasan sasaran, khususnya desa yang belum tervaksin karena bulan lalu ada kasus PMK. “Masih ada 23 desa di 9 kecamatan yang ternaknya belum divaksin karena bulan lalu ada yang terindikasi PMK. Belum divaksin karena menunggu sehat dulu,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.
Wahyudi menjelaskan, dibandingkan gelombang pertama, sebaran kasus PMK ada penurunan. Saat ini ternak sakit tersebar di 23 desa. Saat gelombang pertama Mei 2022, kasus PMK menyebar di 184 desa.
“Sekarang sudah 98 persen ternak divaksin, minimal sudah ada pengendalian yang masif untuk penularan,” katanya.
Vaksin masih menjadi upaya pengendalian penularan PMK. Setiap hari, minimal 1.000 ternak tervaksin. Menurut dia, selain vaksin, upaya pengendalian sementara dilakukan dengan isolasi, dan pemberian obat sesuai gejala. Kasus PMK dinilai belum bisa dihindari karena banyaknya ternak luar kota belum tervaksin tapi digunakan jual beli. “Ketika skrining sebagian ternak lolos karena gejala baru muncul dua tiga hari setelah terpapar sehingga pentingnya vaksin itu agar ternak memiliki kekebalan,” ujarnya. (rka/yan) Editor : M. Yusuf Purwanto