Kemudian diberikan bumbu halus, salah satunya kencur. Bumbu masak ini memiliki banyak manfaat, di antaranya menurunkan stres. Sehingga, menikmati seblak dengan kandungan kencur yang tinggi, dipercaya bisa mengurangi stres.
Salah satu pedagang seblak di Lamongan, Ena Purnamasari mengatakan, idealnya seblak itu memiliki cita rasa dengan takaran kencur yang lebih dominan. Namun praktiknya, banyak yang tidak suka dan meminta dikurangi.
''Pernah ada yang tidak suka sampai benar-benar dikurangi, padahal seblak ini dominan kencur. Sehingga tantangan supaya rasanya tetap enak, tapi kencurnya dikurangi," ujar Mama Hana, sapaan akrabnya.
Untuk kerupuk, diakuinya, ada jenis khusus. Namun, di Lamongan tidak ada, yang membuat dia harus mencari kerupuk dengan cita rasa sama. Dia mengatakan, seblak memiliki banyak varian toping. Yakni bakso, sosis, sea food juga lainnya. Sedangkan, untuk bumbu tidak berbeda. Hanya varian topingnya yang sesuai permintaan pembeli.
''Kalau proses (menghidangkan, Red) untuk satu porsi lima menit," tutur perempuan kelahiran Bandung, Jawa Barat tersebut.
Untuk tingkat kematangan sudah diatur supaya tidak benyek. Sebab, jika tingkat kematangan tidak pas, maka akan mempengaruhi selera makan. Sejak menjajakan seblak sejak Tahun 2017 di Lamongan, Mama Hana memiliki banyak pelanggan setia.
"Saya harus bisa mengatur waktu antara keluarga dan usaha, jadi dibatasi pesanannya," terang ibu tiga anak tersebut.
Selain itu, pembatasan order dilakukan, karena dia menyiapkan hidangan sendiri. Mama Hana menuturkan, target produksi harus terpenuhi setiap harinya. Minimal order diberlakukan, karena keterbatasan tenaga. Dia pernah melibatkan orang lain dalam proses pembuatan. Meski bahan dan bumbunya sama, tapi cara pengolahan dari tangan yang beda, cukup mempengaruhi kualitas rasa.
''Jadi saya belum berani membuka warung besar, karena untuk rasa memang kita utamakan," terangnya. (rka/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto