Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Mampu Menghasilkan Hingga 10 Ribu Tanaman

M. Yusuf Purwanto • Sabtu, 14 Januari 2023 | 23:11 WIB
(ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
(ANJAR DWI PRADIPTA/RDR.LMG)
LAMONGAN, Radar Lamongan - Cuaca cerah menyelimuti Dusun Keduwul, Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi kemarin (13/1). Selanjutnya, Widi Pranata menunjukkan green house yang berada di samping rumahnya. Pria 30 tahun ini tampak sibuk menanam biji di polibeg berukuran kecil.

Rutinitas sebagai pembudidaya bibit hingga penyemaian sayur, tanaman bumbu masak ini, hingga tanaman buah ini ditekuninya sejak Tahun 2019 lalu. Meliputi tanaman cabai hibrida, cabai lokal, pepaya, tomat, bunga kol, brokoli. Selanjutnya tanaman dijual saat berusia sekitar 15 hari hingga 22 hari.

Awalnya, dia hanya bekerja sebagai penjaga toko obat peranian milik saudaranya. Merasa memiliki pengetahuan di bidang pertanian, akhirnya dia mengawali budidaya bibit sayuran. Semula, pria yang akrab disapa Tata ini memiliki green house berukuran 2 meter x 4 meter. Kini, berkembang menjadi 7 meter x 18 meter, dengan kapasitas hingga 50 ribu bibit sayuran.

‘’Untuk memberikan kepercayaan pembeli, di depan rumah juga ditanami cabai hibrida, cabai lokal, brokoli, tomat, dan beragam tanaman yang lainnya,’’ tuturnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan.

Tata memilih menggunakan media tanam cocopeat, yakni bahan dasarnya berupa serabut kelapa yang dihaluskan dan difermentasi. Prosesnya, setelah menuangkan biji, selanjutnya ditutup dengan kain agar pertumbuhan biji lebih maksimal. Menurut dia, media tanam tersebut cukup mudah agar bibit cepat tumbuh. Namun, ada sejumlah bibit yang tumbuh kualitasnya kurang bagus.

‘’Biasanya itu, biji yang sudah tumbuh layu dan membusuk, jadi tak bisa subur,’’ ucap Tata.

Dia mengatakan, hal itu biasanya menjalar ke tanaman yang lainnya. Sterilisasi harus cepat dilakukan, agar jamur merusak tanaman yang lainnya. Selain itu, diakui Tata, hama belalang kerap merusak tanamannya. Sehingga, Tata menutup dengan plastik tebal untuk meminimalisasi hama. Dia menjelaskan, hawa di dalam green house cukup panas. Untuk itu harus dilakukan penyiraman selama tiga kali sehari. Tata menjual tanaman yang masih belia seharga Rp 300 hingga Rp 400 per batang. Saat ini yang paling banyak dicari yakni bibit cabai hibrida, karena masa tanam hanya 75 hari dan sudah bisa dinikmati hasilnya.

‘’Pembibitan seperti ini tentunya melihat pasar dan tidak selalu ada yang beli semua. Pernah juga melakukan pem bibitan 10 ribu cabai, tapi yang laku hanya 5 ribu. Biasanya sisanya ditanam sendiri di sawah,’’ terangnya. (mal/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto
#pasar #Berkebun #budidaya #greenhouse #sayuran