Panitia Perayaan Natal GKJW Desa Balun Heri Suparno menuturkan, masyarakat sekitar penganut Hindu turut berpartisipasi dalam pembuatan replika pohon Natal yang terbuat dari limbah daur ulang dengan tinggi 250 centimeter (cm). Selain itu, lanjut dia, saudara Muslim ikut membantu pengamanan.
‘’Ikut ambil bagian di dalam memprakarsai kolaborasi. Jadi Perayaan Natal tahun ini, saya anggap suatu perayaan yang spektakuler. Artinya tidak hanya pengisi acara itu dari umat Nasrani, namun ketiga agama yang ada di Desa Balun yakni Islam, Kristen, dan Hindu menjadi satu kesatuan,’’ tutur Heri, sapaan akrabnya.
Kolaborasi saat Perayaan Natal yakni yang memainkan rebana dari Muslim, gamelan khas Bali dimainkan penganut Hindu, dan pemuda Nasrani memainkan alat musik modern.
‘’Dalam menyanyikan Malam Kudus, ini memakai tiga bahasa. Bahasa Indonesia dinyanyikan saudara Kristen, penganut Hindu akan membawakan dengan versi bahasa sansekerta, dan saudara kita Muslim akan membawakan dengan Bahasa Arab,’’ katanya.
Menurut Heri, kerukunan umat beragama di Desa Pancasila tidak hanya saat momen perayaan hari besar keagamaan. Namun, diakuinya, implementasi dalam kehidupan masyarakat itulah yang harus dilakukan. Serta melaksanakan yang menjadi norma dan juga butir dari Pancasila.
‘’Sehingga harapan saya kepada anak muda, sebagai generasi penerus bangsa, mampu untuk melestarikan Desa Pancasila,’’ ucapnya.
Perwakilan Muslim di Desa Balun Puri mengatakan, pihaknya mengagendakan kesiapan dengan gabungan Banser, tokoh masyarakat, Polres dan Koramil. Selain itu, diakuinya, dilakukan pengamanan mulai dari Misa Natal hingga pagi ini.
‘’Kita rencana ada dua shift. Saat Misa Natal malam (tadi malam, Red) sampai besok pagi (hari ini, Red),’’ katanya.
Anggota Anshor Kecamatan Turi ini merasa bangga ikut serta menguatkan peran Desa Pancasila ini. ‘’Adalah betul-betul mencerminkan desa yang Pancasila, meskipun berbeda agama tapi kita tetap rukun,’’ ujarnya.
Perwakilan penganut Hindu setempat Wisnu mengaku ikut andil dalam Perayaan Natal agar pelaksanaannya bisa meriah. Sebaliknya ketika hari besar Hindu, maka dari lintas agama juga ikut membantu.
‘’Intinya bisa memeriahkan bersama-sama,’’ imbuhnya.
Dia menjelaskan, pembuatan replika pohon Natal dari limbah daur ulang ini merupakan inisiatif dari penganut Hindu di Desa Balun. Pertimbangannya bahan limbah tersebut lebih awet dan tidak mudah rusak.
‘’Baru tahun ini, biasanya pakai limbah plastik. Kalau rangkanya tetap kayu, hanya saja hiasan daunnya pakai spon topi,’’ terangnya. (sip/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto