Sebagai enternainer, Hendra dituntut meng-upgrade ilmunya. Dia harus belajar banyak tentang perkembangan informasi animasi anak-anak. Sehingga, kostum yang digunakan juga selalu update setiap tahun. Selain itu, untuk atraksi sulap juga selalu menjadi andalan dalam setiap pertunjukannya. Namun, badut bukan hanya sekedar entertain. Namun harus ada pengetahuan yang harus ditularkan kepada audiense.
‘’Selain sulap, saya juga sering mengajak berinteraksi dengan kuis untuk menambah pengetahuan anak-anak, jadi harus belajar,” tuturnya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (9/12).
Hendra bisa dibilang sahabat anak-anak. Dia harus bisa membangun kedekatan dengan anak-anak, agar pesan yang ingin disampaikan melalui pertunjukan badut bisa diterima. Ketika perform, biasanya ada hiburan musik dan penyanyi. Saat ini, Hendra banyak mengajak penyanyi dan penari ular yang masih berusia anak-anak. Sehingga, hiburan yang disajikan bisa lebih bervariatif.
‘’Sehingga selama pentas mereka bisa membawakan lagu sesuai dengan usianya,’’ imbuhnya.
Salah satu penyanyi cilik di Lamongan Rahmah Fauziyyah mengaku memiliki hobi menyanyi sejak masih duduk di kelas 1 SD. Dia pertama kali tampil di depan publik saat mengiringi badut. Sebab, setiap pertunjukan badut selalu ada hiburan musik dan penyanyi. Dia harus bisa membagi waktu antara sekolah dan manggung.
‘’Jadi saya masih sering kesulitan ketika ada request (permintaan) lagu umum, karena belum semua dihafal liriknya,” ujar cewek 14 tahun ini.
Penyanyi cilik lainnya, Naura Verda Lituhayu sudah kerap menghibur anak-anak untuk mengiringi badut. Bukan hanya menyanyi, tapi cewek 12 tahun ini juga memiliki kemampuan menari dengan ular. Kini, dia memiliki enam ekor ular peliharaan.
‘’Memang tidak semua meminta untuk perform membawa ular, karena tidak semua berani,” terangnya. (rka/ind) Editor : M. Yusuf Purwanto