Selanjutnya, pria 33 tahun itu mengajak ke lantai kedua di belakang rumahnya. Ukurannya hanya 6 meter (m) x 3 m. Namun, terlihat sejumlah tanaman anggur impor sudah berbuah. Diantaranya anggur dari Ukraina yakni ninel dan akademik. Sedangkan, anggur dari Amerika meliputi ara 15, hallowen, dan jupiter.
‘’Saya menanam sejak awal Tahun 2020 lalu, saat awal pandemi Covid-19,’’ tutur Anam kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (2/9).
Awalnya, Anam tertarik untuk bisa memetik anggur sendiri. Sehingga, tidak membeli di pasaran, karena harga anggur cukup mahal. Selanjutnya, Anam mencari pengetahuan di internet. Selanjutnya, Anam menemukan komunitas pembudidaya anggur di sosial media. Selanjutnya, Anam mencoba membudidayakan menggunakan media tanam planter black ukuran 70 liter.
Yakni di dalamnya diisi tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang untuk menambah nutrisi. Satu planter black bisa ditanami dua hingga tiga tanaman anggur. Sehingga, diakuinya, cukup efektif dan tidak membutuhkan lahan yang luas.
‘’Pupuknya menggunakan organik seperti pupuk kandang dan urin kelinci yang difermentasi,’’ imbuhnya.
Selain itu, Anam juga menambahkan pupuk NPK dalam perawatannya. Dia menuturkan, tanaman anggur paling cepat berbuah selama 8 bulan perawatan. Menurut dia, lama proses berbuah tergantung dari perawatan dan jenis tanaman anggur.
‘’Paling bagus berbuah pada musim kemarau, karena tidak terkena hujan. Sehingga buah bisa segar,’’ terangnya. (mal/ind)