Matcha hingga Mentai, Ini Tren Kuliner Kekinian yang Menarik Perhatian Anak Muda

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 22:07 WIB
Mentai salah satu saus kondimen yang trennya sedang naik. (AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Mentai salah satu saus kondimen yang trennya sedang naik. (AI/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tren kuliner terus berkembang seiring perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi masyarakat, terutama generasi muda. Matcha, mentai, hingga berbagai makanan dengan tampilan menarik kini semakin mudah ditemukan di kafe, restoran, maupun media sosial. Popularitasnya tidak hanya didorong oleh cita rasa, tetapi juga pengalaman menikmati makanan dan daya tarik visual yang ditawarkan.

Perkembangan industri kuliner menghadirkan berbagai inovasi makanan dan minuman yang menarik perhatian anak muda. Jika sebelumnya kopi susu menjadi salah satu minuman favorit, kini matcha dengan warna hijau khasnya turut meramaikan pasar. Sementara itu, saus mentai semakin populer sebagai pelengkap berbagai hidangan, mulai dari nasi, sushi, hingga olahan ayam.

Tren ini menunjukkan bahwa kuliner tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan makan dan minum. Bagi sebagian anak muda, mencoba makanan baru juga menjadi bagian dari gaya hidup, sarana berekspresi, sekaligus pengalaman sosial yang bisa dibagikan melalui media sosial.

1. Matcha, Minuman Hijau yang Semakin Populer

Matcha merupakan bubuk teh hijau asal Jepang yang dibuat dari daun teh yang ditanam dan diolah dengan metode khusus. Cita rasanya khas, memadukan sensasi vegetal, sedikit pahit, dan aroma yang berbeda dari teh biasa.

Popularitas matcha semakin terlihat melalui beragam inovasi menu, seperti matcha latte, matcha cloud, matcha dessert, hingga perpaduan matcha dengan cokelat dan berbagai jenis susu.

Warna hijau yang khas menjadi salah satu daya tariknya. Minuman matcha yang disajikan dengan lapisan susu, busa, atau tambahan krim sering kali memiliki tampilan menarik untuk diabadikan dalam foto maupun video.

Selain cita rasa dan tampilannya, matcha juga mengandung senyawa polifenol, termasuk katekin, yang banyak diteliti karena aktivitas antioksidannya.

Baca Juga: Satu Dubai Matcha Chewy Cookie Setara Enam Sendok Gula, Berbahaya bagi Tubuh?

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Molecules pada 2020 membahas kandungan serta potensi manfaat kesehatan teh hijau, termasuk senyawa katekin dan berbagai komponen bioaktifnya. Meski demikian, manfaat yang diperoleh bergantung pada jumlah konsumsi, komposisi produk, dan kondisi individu.

Penting untuk diperhatikan bahwa minuman matcha kekinian tidak selalu rendah gula. Penambahan sirup, susu kental manis, krim, atau pemanis lainnya dapat meningkatkan kandungan kalori dan gula dalam satu sajian.

2. Mentai, Saus Gurih yang Meramaikan Berbagai Menu

Selain matcha, mentai menjadi salah satu elemen kuliner yang banyak digunakan dalam inovasi makanan modern.

Mentai umumnya merujuk pada olahan telur ikan yang berasal dari tradisi kuliner Jepang. Dalam perkembangannya, istilah saus mentai di Indonesia sering digunakan untuk menyebut campuran mayones dan telur ikan, terkadang dengan tambahan saus sambal atau bumbu lain.

Perpaduan rasa gurih, creamy, dan sedikit pedas membuat saus ini cocok disajikan bersama beragam hidangan.

Beberapa menu yang populer menggunakan saus mentai antara lain nasi mentai, salmon mentai, sushi mentai, ayam mentai, dan dimsum mentai. Variasi tersebut memungkinkan pelaku usaha kuliner menghadirkan pilihan menu yang beragam tanpa harus mengubah keseluruhan konsep hidangan.

Salah satu daya tarik mentai terletak pada tekstur sausnya yang lembut dan tampilannya yang menggugah selera. Ketika dipanggang, permukaan saus dapat berubah kecokelatan sehingga memberikan kesan lebih menarik.

Namun, konsumen tetap perlu memperhatikan komposisi bahan. Saus mentai berbahan dasar mayones umumnya mengandung lemak dan dapat menyumbang kalori cukup tinggi, terutama jika digunakan dalam jumlah besar.

3. Dessert Kekinian, dari Matcha hingga Cokelat

Tren kuliner anak muda juga terlihat pada perkembangan makanan penutup atau dessert. Berbagai produk seperti matcha cheesecake, croffle, mochi, cookies dengan isian melimpah, hingga dessert berbahan cokelat terus menghadirkan pilihan baru.

Baca Juga: Salt Bread, Roti Gurih yang Mencuri Perhatian Pencinta Kuliner

Salah satu strategi yang banyak digunakan pelaku usaha adalah menggabungkan rasa yang sudah dikenal dengan tekstur atau tampilan yang berbeda.

Contohnya, perpaduan rasa pahit matcha dengan manisnya cokelat putih, tekstur renyah pada bagian luar cookies dengan isian lembut, atau kombinasi mochi kenyal dengan es krim.

Inovasi tersebut memberikan pengalaman sensoris yang lebih beragam. Konsumen tidak hanya menikmati rasa, tetapi juga memperhatikan tekstur, aroma, suhu, dan penampilan makanan.

Dalam penelitian tentang persepsi konsumen terhadap makanan, karakteristik sensoris seperti rasa, aroma, tekstur, dan penampilan merupakan sejumlah faktor yang dapat memengaruhi penerimaan terhadap suatu produk.

Karena itu, pelaku usaha kuliner perlu memperhatikan keseimbangan rasa dan kualitas bahan, bukan hanya mengandalkan tampilan yang menarik.

4. Media Sosial Ikut Mendorong Popularitas Kuliner

Media sosial menjadi salah satu saluran penting dalam penyebaran tren makanan dan minuman. Foto makanan, video proses memasak, ulasan pelanggan, hingga konten mencoba menu baru dapat membuat sebuah produk dikenal oleh lebih banyak orang.

Makanan dengan warna mencolok, isian yang terlihat saat dipotong, atau proses penyajian yang menarik sering kali memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan konten.

Fenomena ini berkaitan dengan foodstagramming, yaitu kebiasaan membagikan foto atau video makanan melalui media sosial. Aktivitas tersebut dapat membuat pengalaman makan tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga menjadi bagian dari interaksi sosial di ruang digital.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada 2013 oleh Marika Tiggemann dan Madeleine Zaccardo, berjudul “Exercise to be fit, not skinny: The effect of fitspiration imagery on women's body image”, bukan penelitian khusus tentang tren kuliner. Oleh karena itu, penelitian tersebut tidak dapat dijadikan bukti langsung bahwa media sosial menyebabkan popularitas makanan tertentu.

Meski demikian, secara umum, penyebaran konten digital membuka peluang bagi konsumen untuk menemukan produk baru dan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan menu kepada calon pelanggan.

Popularitas suatu makanan di media sosial tetap perlu dibedakan dari kualitas rasa, keamanan pangan, dan nilai gizinya.

5. Mengapa Anak Muda Tertarik Mencoba Kuliner Baru?

Ketertarikan anak muda terhadap kuliner kekinian tidak selalu disebabkan oleh satu faktor. Ada beberapa hal yang dapat memengaruhi keputusan mereka untuk mencoba sebuah produk.

Pertama, rasa penasaran. Menu baru dengan kombinasi bahan yang tidak biasa dapat memunculkan keinginan untuk mengetahui seperti apa rasanya.

Kedua, pengalaman visual. Warna, bentuk, penyajian, dan tekstur makanan dapat membentuk kesan awal sebelum konsumen mencicipinya.

Ketiga, pengaruh lingkungan sosial. Rekomendasi teman, ulasan pelanggan, dan konten kreator dapat menjadi sumber informasi mengenai makanan yang sedang populer.

Keempat, kemudahan akses. Layanan pesan antar dan promosi digital membuat konsumen lebih mudah mencoba berbagai menu tanpa harus datang langsung ke tempat penjual.

Kelima, harga dan nilai yang dirasakan. Konsumen juga mempertimbangkan apakah rasa, porsi, kualitas bahan, dan pengalaman yang diperoleh sepadan dengan uang yang dikeluarkan.

Dalam kajian perilaku konsumen, faktor sosial, pengalaman pribadi, persepsi terhadap produk, serta nilai yang dirasakan dapat berperan dalam keputusan pembelian. Namun, pengaruh setiap faktor dapat berbeda berdasarkan karakteristik konsumen dan jenis produk.

6. Peluang Bisnis di Balik Tren Kuliner Kekinian

Perubahan selera konsumen membuka peluang bagi pelaku usaha makanan dan minuman untuk mengembangkan produk baru.

Matcha dapat diolah menjadi minuman, kue, es krim, maupun makanan penutup. Sementara itu, saus mentai dapat digunakan sebagai variasi menu nasi, ayam, sushi, dan makanan ringan.

Meski demikian, mengikuti tren tidak cukup hanya dengan meniru produk yang sedang populer. Pelaku usaha perlu mempertimbangkan kualitas bahan baku, konsistensi rasa, harga jual, kemasan, serta target konsumen.

Inovasi yang berhasil biasanya tidak hanya menarik perhatian pada awal peluncuran, tetapi juga mampu mempertahankan kepuasan pelanggan.

Pelaku usaha juga perlu memperhatikan keamanan pangan, informasi alergen, dan komposisi produk. Hal ini penting karena bahan seperti susu, telur, ikan, dan mayones dapat menjadi perhatian bagi konsumen dengan alergi atau kebutuhan diet tertentu.

Selain itu, tren yang berkembang cepat menuntut pelaku usaha untuk melakukan evaluasi secara berkala. Menu yang ramai dibicarakan belum tentu memiliki permintaan stabil dalam jangka panjang.

Tren Kuliner Bukan Sekadar soal Viral

Matcha, mentai, dan berbagai dessert kekinian memperlihatkan bagaimana industri kuliner terus beradaptasi dengan perubahan selera konsumen.

Cita rasa, penampilan, pengalaman sensoris, rekomendasi sosial, serta kemudahan akses menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi ketertarikan masyarakat terhadap suatu produk.

Bagi konsumen, mencoba makanan baru dapat menjadi pengalaman menyenangkan selama tetap memperhatikan porsi, kandungan gula, lemak, dan kebutuhan gizi sehari-hari.

Sementara bagi pelaku usaha, tren kuliner dapat menjadi peluang untuk berinovasi dan menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, keberlanjutan bisnis tetap bergantung pada kualitas produk, harga yang sesuai, serta kemampuan memahami kebutuhan pelanggan.

Pada akhirnya, makanan yang menarik perhatian bukan hanya makanan yang ramai di media sosial, melainkan juga produk yang mampu memberikan rasa, kualitas, dan pengalaman yang membuat konsumen ingin kembali menikmatinya. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
mentai kuliner tren Makanan matcha