RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Komet antarbintang 3I/ATLAS kembali menjadi bahan pembicaraan global setelah pada 29 Oktober 2025 pukul 11.15 UTC (18.15 WIB), objek langka ini mencapai perihelion atau titik terdekatnya dengan Matahari. Fenomena ini menandai momen paling intens bagi komet yang berasal dari luar tata surya tersebut.
Menurut laporan EarthSky.org dan NASA’s Small Bodies Database, 3I/ATLAS mencapai jarak sekitar 1,36 AU (203 juta kilometer) dari Matahari. Pada jarak itu, panas Matahari—sekitar 770 watt per meter persegi, memicu pelepasan gas dan debu yang membentuk koma dan ekor terang di sekeliling inti komet.
Saat ini, 3I/ATLAS tidak dapat diamati langsung dari Bumi karena sedang berada dalam fase konjungsi solar, yakni posisi di langit yang sejajar dengan Matahari. Meski begitu, pengamatan aktif dilakukan lewat instrumen antariksa seperti GOES-19, PUNCH, serta James Webb Space Telescope (JWST) yang mendeteksi aktivitas termal di sekitar inti komet.
Data dari i3Atlas.com, portal pelacak lintasan antarbintang yang mengompilasi data real-time NASA JPL, menunjukkan bahwa komet tersebut kini mulai bergerak menjauh dari perihelion dengan kecepatan lebih dari 33 km per detik. Situs tersebut juga mencatat peningkatan kecerlangan akibat pelepasan partikel gas dari sisi menghadap Matahari.
Sebelumnya, ESA’s ExoMars Trace Gas Orbiter (TGO) sempat menangkap citra samar komet ini ketika melintas di dekat planet Mars pada 2–3 Oktober 2025, berjarak sekitar 29 juta kilometer dari planet merah. Citra itu memperlihatkan titik putih kabur yang diidentifikasi sebagai 3I/ATLAS, menjadi bukti visual pertama dari luar orbit Bumi untuk objek antarbintang ketiga ini, setelah 1I/‘Oumuamua (2017) dan 2I/Borisov (2019).
Asal Usul dan Perjalanan Jauh dari Galaksi
Kajian ilmiah yang dilakukan oleh tim astronom Xabier Pérez-Couto (University of A Coruña, Spanyol) menunjukkan bahwa 3I/ATLAS kemungkinan berasal dari arah rasi Sagittarius, dekat pusat galaksi Bima Sakti. Analisis lintasannya selama 10 juta tahun ke belakang menggunakan data observatorium ruang angkasa Gaia menyebutkan bahwa objek ini melintasi setidaknya 93 bintang, namun tanpa interaksi gravitasi signifikan, menandakan asalnya dari sistem bintang yang kini tak teridentifikasi.
Para peneliti memperkirakan 3I/ATLAS merupakan sisa planetesimal es purba yang terlempar keluar dari sistem asalnya miliaran tahun lalu. Dengan diameter inti sekitar 3,5 mil (5,6 kilometer) berdasarkan hasil pengamatan Hubble Space Telescope, komet ini membawa petunjuk berharga tentang proses pembentukan planet di luar tata surya.
Akan Dekati Bumi pada Desember, Tapi Aman
Masih menurut data NASA’s Small Bodies Database, 3I/ATLAS dijadwalkan mencapai titik terdekat dengan Bumi pada 19 Desember 2025, dengan jarak sekitar 267 juta kilometer, sepenuhnya aman bagi planet kita.
Sementara itu, penggemar astronomi dapat memantau pergerakan real-time komet ini melalui fitur interaktif NASA “Eyes on the Solar System” atau langsung lewat i3Atlas.com, yang menampilkan posisi, kecepatan, dan arah visibilitas di langit malam.
Mengapa Jadi Viral
Sejak kemarin (29 Oktober), linimasa media sosial X dan TikTok dipenuhi unggahan soal komet 3I/ATLAS, dari visual animasi orbit hingga teori liar tentang “objek buatan alien”.
Beberapa komentar dipicu oleh spekulasi astrofisikawan Harvard Avi Loeb, yang menilai anomali pada ekor dan kandungan logamnya mungkin menandakan sifat non-alami.
Namun, NASA dan ESA menegaskan tidak ada bukti mendukung klaim tersebut. Semua data spektroskopi menunjukkan komposisi umum seperti air, karbon dioksida, dan senyawa organik ringan, mirip dengan komet pada umumnya di tata surya.
Kesimpulan
Komet 3I/ATLAS kini menjadi objek antarbintang paling banyak diamati sejak 2I/Borisov. Fenomena perihelion pada 29 Oktober bukan hanya momentum ilmiah penting, tetapi juga bukti antusiasme global terhadap penemuan dari luar tata surya.
Sumber:
EarthSky.org (30 Oktober 2025), NASA Small Bodies Database, European Space Agency (ESA), i3Atlas.com (diakses 30 Oktober 2025), Space.com (30 Oktober 2025), Newsweek (30 Oktober 2025)