RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kita sering diajarkan untuk menahan air mata, menyimpan amarah, dan bersikap kuat di hadapan orang lain. Padahal, terus-menerus memendam emosi bisa membuat kita kelelahan secara mental, bahkan fisik.
Dalam psikologi, istilah pelepasan emosi yang sehat dikenal dengan sebutan katarsis. Ini adalah proses ketika seseorang mengeluarkan emosi yang terpendam—baik melalui tangisan, menulis, bicara, atau aktivitas ekspresif lainnya—yang bertujuan untuk meredakan tekanan batin dan menjaga stabilitas psikologis.
Alih-alih dianggap cengeng atau lemah, kemampuan untuk menyalurkan emosi dengan tepat justru merupakan bagian penting dari kesehatan mental. Katarsis bukan sekadar melepaskan perasaan, tetapi juga cara untuk memahami dan berdamai dengan emosi kita sendiri.
Baca Juga: Mengapa Menangis Bisa Jadi Terapi? Ini Penjelasan Psikolog Tentang Katarsis
Apa Itu Katarsis dalam Psikologi?
Secara sederhana, katarsis adalah istilah psikologi yang merujuk pada proses pelepasan emosi secara sadar dan terarah. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh Freud dan Breuer dalam teori psikoanalisis mereka.
Mereka meyakini bahwa emosi yang ditekan terlalu lama dapat menyebabkan gangguan psikologis, dan katarsis menjadi cara untuk mencegahnya.
Menurut penjelasan Alodokter, katarsis bisa terjadi saat seseorang meluapkan emosi seperti marah, sedih, atau kecewa, melalui cara yang tidak merusak diri sendiri maupun orang lain.
Misalnya dengan menangis, berbicara dengan orang yang dipercaya, menulis jurnal pribadi, atau bahkan menonton film yang menyentuh.
Mengapa Memendam Emosi Berbahaya?
Memendam emosi bukan hanya membuat batin terasa penuh, tapi juga dapat menimbulkan dampak fisik. Studi dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa tekanan emosional yang dipendam bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti tekanan darah tinggi, insomnia, hingga sistem imun yang melemah.
Lebih dari itu, menahan emosi terlalu lama bisa memengaruhi hubungan sosial. Orang yang tidak bisa menyalurkan perasaannya secara sehat cenderung mudah meledak, menarik diri, atau mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Katarsis menjadi penting karena membantu kita menghindari ledakan emosi yang tidak terkendali. Ia memberi jalan agar kita bisa melepaskan beban secara bertahap, bukan meledak dalam satu waktu.
Baca Juga: Apa Itu Gut Health? Rahasia Usus Sehat untuk Hidup Lebih Baik dan Bebas Penyakit
Bentuk-Bentuk Katarsis yang Sehat
Katarsis tidak selalu harus dilakukan lewat air mata. Ada banyak bentuk ekspresi yang bisa membantu melepaskan emosi. Misalnya:
- Menulis jurnal atau puisi pribadi
- Menggambar atau melukis tanpa tekanan artistik
- Bicara jujur dengan sahabat, pasangan, atau terapis
- Mendengarkan musik yang sesuai suasana hati
- Menonton film yang menyentuh dan mengizinkan diri menangis
Yang terpenting dari proses ini adalah kesadaran. Katarsis yang sehat terjadi ketika kita sadar akan perasaan yang sedang dialami, dan memilih medium yang tepat untuk menyalurkannya.
Katarsis Bukan Ledakan Emosi Sembarangan
Salah satu kesalahan umum dalam memahami katarsis adalah menganggap bahwa "meluapkan" emosi berarti bebas marah atau menangis tanpa kendali. Padahal, dalam psikologi, katarsis tidak dimaksudkan sebagai ajang pelampiasan destruktif.
Menurut psikolog Dr. Tara Brach, katarsis harus dibedakan dari emotional dumping—yaitu tindakan membebani orang lain dengan emosi kita tanpa proses pengolahan diri.
Dalam katarsis, kita tetap punya kontrol dan refleksi atas perasaan yang sedang dilepas. Dengan kata lain, katarsis bukan tentang meledak, tapi tentang melepaskan. Melepaskan, dengan sadar, untuk menyembuhkan.
Baca Juga: Manfaat Telanjang Kaki di Tanah: Grounding dan Efeknya bagi Kesehatan
Dalam dunia yang menuntut kita untuk selalu terlihat kuat, belajar melepaskan justru menjadi bentuk kekuatan tersendiri.
Katarsis, sebagai istilah psikologi untuk pelepasan emosi, mengajarkan kita bahwa menangis, marah, atau bersedih bukanlah kelemahan—melainkan bagian dari proses penyembuhan.
Jadi, jangan pendam terus. Beri ruang bagi perasaanmu untuk hadir, dikenali, dan akhirnya dilepas. (kam)
Editor : Hakam Alghivari