RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kopi menjadi salah satu minuman favorit masyarakat untuk menemani aktivitas sehari-hari. Namun, kebiasaan minum kopi setiap hari kerap dikaitkan dengan risiko kerusakan ginjal. Lantas, apakah anggapan tersebut benar secara ilmiah?
Kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang, mulai dari minuman untuk meningkatkan konsentrasi saat bekerja hingga teman bersantai di pagi hari. Meski demikian, tidak sedikit orang yang khawatir bahwa konsumsi kopi secara rutin dapat mengganggu fungsi ginjal.
Kekhawatiran tersebut muncul karena kopi mengandung kafein yang dapat memengaruhi tekanan darah dan meningkatkan produksi urine dalam kondisi tertentu. Padahal, ginjal memiliki peran penting dalam menyaring darah, membuang zat sisa metabolisme, serta menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh.
Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan antara kebiasaan minum kopi dan kesehatan ginjal berdasarkan penelitian ilmiah?
1. Benarkah Minum Kopi Setiap Hari Bisa Merusak Ginjal?
Anggapan bahwa minum kopi setiap hari pasti menyebabkan kerusakan ginjal tidak sepenuhnya benar. Sejumlah penelitian justru menemukan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah moderat tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi kopi dan risiko penyakit ginjal yang lebih rendah.
Salah satunya adalah penelitian berjudul Coffee Consumption is Associated with a Decreased Risk of Incident Chronic Kidney Disease: A Systematic Review and Meta-analysis of Cohort Studies yang diterbitkan dalam jurnal European Journal of Internal Medicine pada 2020.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Buruk yang Dapat Merusak Organ Ginjal, Sering Dilakukan Tanpa Disadari
Penelitian yang dilakukan oleh Thatsaphan Srithongkul dan Patompong Ungprasert tersebut menganalisis empat studi kohort dengan total 25.849 peserta.
Hasil analisis menemukan bahwa orang yang mengonsumsi kopi memiliki risiko mengalami penyakit ginjal kronis sekitar 13 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi kopi. Namun, hasil ini menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti bahwa kopi secara langsung melindungi ginjal.
Peneliti juga mengakui adanya keterbatasan penelitian, sehingga hasil tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk meningkatkan konsumsi kopi secara berlebihan.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa kopi tidak serta-merta menjadi penyebab kerusakan ginjal. Meski begitu, pengaruhnya terhadap kesehatan tetap bergantung pada jumlah konsumsi, kondisi tubuh, dan kebiasaan hidup seseorang.
2. Kandungan Kafein dan Pengaruhnya terhadap Ginjal
Salah satu komponen utama kopi adalah kafein, yaitu senyawa stimulan yang bekerja pada sistem saraf pusat. Kafein dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, tetapi juga dapat menimbulkan sejumlah efek fisiologis.
Konsumsi kafein dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dalam jangka pendek pada sebagian orang. Hal ini perlu diperhatikan karena tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko penting penyakit ginjal kronis.
Ginjal memiliki pembuluh darah kecil yang berperan dalam proses penyaringan darah. Tekanan darah tinggi yang berlangsung dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah tersebut dan mengganggu kemampuan ginjal menjalankan fungsinya.
Namun, peningkatan tekanan darah sementara setelah mengonsumsi kafein tidak otomatis berarti seseorang mengalami kerusakan ginjal.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Annals of Medicine pada 2022, para peneliti mengevaluasi hubungan konsumsi kopi dan kafein dengan fungsi ginjal menggunakan data individu, analisis genetik, serta meta-analisis.
Hasilnya tidak menemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi kopi atau kafein dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis maupun perubahan laju filtrasi glomerulus atau eGFR, yaitu salah satu indikator kemampuan ginjal menyaring darah.
Baca Juga: 7 Tips Merawat Ginjal agar Tetap Sehat, Cegah Penyakit Sejak Dini
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara konsumsi kopi dan kesehatan ginjal cukup kompleks serta belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan kandungan kafeinnya.
3. Penelitian Justru Menemukan Potensi Manfaat Kopi
Selain meneliti potensi risikonya, para ilmuwan juga mengkaji kemungkinan manfaat kopi terhadap kesehatan ginjal.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis berjudul Effect of Coffee Consumption on Renal Outcome: A Systematic Review and Meta-Analysis of Clinical Studies diterbitkan dalam Journal of Renal Nutrition pada 2021.
Penelitian tersebut menggabungkan hasil dari 12 studi yang melibatkan lebih dari 505.000 peserta.
Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan risiko penyakit ginjal kronis yang lebih rendah. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan dengan penurunan risiko beberapa luaran terkait ginjal, termasuk penyakit ginjal tahap akhir dan albuminuria, yakni kondisi ketika protein albumin ditemukan dalam urine.
Para peneliti membahas kemungkinan peran senyawa dalam kopi yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Secara teoritis, senyawa tersebut dapat membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan yang terlibat dalam berbagai proses penyakit.
Meski demikian, penelitian ini terutama mengandalkan data observasional dan tidak membuktikan bahwa minum kopi secara langsung mencegah penyakit ginjal. Faktor lain, seperti pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan kondisi kesehatan peserta, juga dapat memengaruhi hasil penelitian.
Dengan demikian, kopi tidak tepat dianggap sebagai minuman yang pasti merusak ginjal, tetapi juga tidak dapat dijadikan pengganti pola hidup sehat untuk menjaga fungsi organ tersebut.
4. Kapan Kebiasaan Minum Kopi Perlu Diwaspadai?
Meskipun konsumsi kopi dalam jumlah moderat umumnya dapat ditoleransi oleh banyak orang dewasa yang sehat, kebiasaan ini tetap perlu diperhatikan.
Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang perlu lebih berhati-hati.
Pertama, konsumsi kopi secara berlebihan.
Asupan kafein yang terlalu tinggi dapat menimbulkan jantung berdebar, gangguan tidur, kecemasan, dan peningkatan tekanan darah pada individu tertentu. Efek tersebut dapat berbeda-beda, tergantung sensitivitas seseorang terhadap kafein.
Kedua, memiliki tekanan darah tinggi.
Orang dengan tekanan darah yang belum terkontrol perlu memperhatikan respons tubuh setelah mengonsumsi kopi. Konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu menentukan batas konsumsi yang sesuai.
Ketiga, menambahkan gula secara berlebihan.
Kopi dengan tambahan gula, sirup, krimer manis, atau susu kental manis dapat meningkatkan asupan gula dan kalori harian. Jika dikonsumsi berlebihan dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap masalah metabolisme, termasuk peningkatan risiko diabetes tipe 2.
Diabetes dan hipertensi sendiri merupakan faktor risiko utama penyakit ginjal kronis.
Keempat, sudah memiliki penyakit ginjal.
Orang yang telah didiagnosis mengalami penyakit ginjal kronis perlu menyesuaikan konsumsi kopi dengan kondisi medisnya. Kandungan kalium dan fosfor dari kopi, susu, atau bahan tambahan tertentu dapat menjadi pertimbangan, terutama bagi pasien yang harus membatasi asupan mineral.
National Kidney Foundation menjelaskan bahwa kopi umumnya masih dapat dikonsumsi oleh sebagian pasien penyakit ginjal, tetapi jumlah dan bahan tambahannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
5. Berapa Banyak Kopi yang Aman Dikonsumsi Setiap Hari?
Tidak ada satu batas konsumsi kopi yang berlaku sama untuk semua orang karena kandungan kafein dipengaruhi jenis biji, metode penyeduhan, ukuran sajian, dan jumlah kopi yang digunakan.
Sebagai gambaran umum, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA menyebutkan bahwa konsumsi kafein hingga sekitar 400 miligram per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada kebanyakan orang dewasa yang sehat.
Namun, angka tersebut merupakan acuan umum untuk total asupan kafein, bukan target konsumsi yang harus dicapai dan bukan pula jaminan keamanan bagi setiap individu.
Orang yang sensitif terhadap kafein, memiliki tekanan darah tinggi, mengalami gangguan tidur, sedang hamil, atau memiliki kondisi medis tertentu mungkin memerlukan batas yang lebih rendah.
Untuk menjaga kebiasaan minum kopi tetap sehat, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:
-
Batasi konsumsi sesuai toleransi tubuh. Jangan memaksakan diri minum kopi jika menimbulkan jantung berdebar atau gangguan tidur.
-
Kurangi gula tambahan. Pilih kopi tanpa gula atau dengan sedikit gula untuk mengurangi asupan gula harian.
-
Tetap cukupi kebutuhan cairan. Kopi turut menyumbang asupan cairan, tetapi air putih tetap menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan hidrasi.
-
Pantau tekanan darah. Hal ini penting terutama bagi orang yang memiliki hipertensi atau faktor risiko penyakit ginjal.
-
Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, serta fungsi ginjal dapat membantu mendeteksi risiko sejak dini.
Bagi orang yang telah memiliki penyakit ginjal, jumlah kopi yang sesuai sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi yang memahami kondisi ginjal.
Anggapan bahwa minum kopi setiap hari pasti merusak ginjal merupakan mitos yang tidak didukung secara langsung oleh bukti ilmiah saat ini.
Sejumlah tinjauan sistematis dan meta-analisis justru menemukan bahwa konsumsi kopi berkaitan dengan risiko penyakit ginjal kronis yang lebih rendah. Namun, penelitian lain tidak menemukan hubungan yang signifikan. Karena sebagian besar bukti berasal dari penelitian observasional, belum dapat dipastikan bahwa kopi secara langsung memberikan perlindungan terhadap ginjal.
Hal yang perlu diperhatikan bukan hanya frekuensi minum kopi, tetapi juga jumlah kafein, tambahan gula, tekanan darah, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
Bagi kebanyakan orang dewasa yang sehat, kopi dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari selama dikonsumsi secara wajar. Namun, menjaga kesehatan ginjal tetap membutuhkan pola makan seimbang, aktivitas fisik, pengendalian tekanan darah dan gula darah, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko