RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Triple burden of malnutrition menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius. Istilah ini merujuk pada tiga masalah gizi yang dapat terjadi secara bersamaan, yakni kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, serta kelebihan gizi atau obesitas.
Ketiga masalah tersebut dapat dialami oleh kelompok masyarakat yang sama, bahkan terjadi dalam satu keluarga. Misalnya, seorang anak mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi, sementara anggota keluarga lainnya mengalami kelebihan berat badan karena pola makan yang tidak seimbang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga kualitas dan keragaman zat gizi yang diperoleh tubuh.
Oleh karena itu, pencegahan triple burden of malnutrition membutuhkan pendekatan menyeluruh, mulai dari penerapan pola makan sehat di lingkungan keluarga hingga penguatan kebijakan kesehatan dan akses terhadap pangan bergizi.
Memahami Tiga Beban Masalah Gizi
Sebelum melakukan pencegahan, masyarakat perlu memahami tiga komponen utama dalam triple burden of malnutrition.
Pertama, kekurangan gizi yang dapat menyebabkan berat badan rendah, gangguan pertumbuhan, hingga stunting pada anak. Kondisi ini dapat terjadi ketika asupan makanan tidak mencukupi kebutuhan tubuh atau ketika tubuh mengalami gangguan dalam menyerap zat gizi.
Kedua, kekurangan zat gizi mikro atau micronutrient deficiencies. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memperoleh vitamin dan mineral yang dibutuhkan dalam jumlah memadai. Contohnya adalah kekurangan zat besi yang dapat menyebabkan anemia serta kekurangan vitamin A yang dapat mengganggu kesehatan mata dan fungsi kekebalan tubuh.
Baca Juga: 7 Sayuran Underrated, Padahal Kandungan Gizinya Luar Biasa Menurut Penelitian Terbaru
Ketiga, kelebihan gizi yang dapat ditandai dengan berat badan berlebih atau obesitas. Kondisi ini berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk pola makan, aktivitas fisik, lingkungan, faktor genetik, dan kondisi kesehatan tertentu. Dalam jangka panjang, obesitas dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolik lainnya.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa malnutrisi mencakup kekurangan gizi, ketidakseimbangan vitamin dan mineral, serta kelebihan berat badan dan obesitas. Dengan demikian, penanganan masalah gizi perlu dilakukan secara terintegrasi, bukan hanya berfokus pada satu jenis gangguan.
1. Mengonsumsi Makanan dengan Gizi Seimbang
Salah satu langkah utama untuk mencegah triple burden of malnutrition adalah membiasakan konsumsi makanan dengan gizi seimbang.
Pola makan sehari-hari sebaiknya mencakup makanan pokok sebagai sumber energi, lauk-pauk sebagai sumber protein, sayuran, buah-buahan, serta lemak dalam jumlah yang sesuai kebutuhan tubuh.
Sumber protein dapat diperoleh dari ikan, telur, daging, ayam, tahu, dan tempe. Sementara itu, sayuran dan buah-buahan menyediakan berbagai vitamin, mineral, serta serat yang mendukung fungsi tubuh.
Mengonsumsi makanan yang beragam membantu mengurangi risiko kekurangan zat gizi tertentu. Sebaliknya, kebiasaan mengandalkan satu atau dua jenis makanan dalam jangka panjang dapat membuat kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi secara optimal.
Pedoman Gizi Seimbang dari Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya mengonsumsi aneka ragam pangan, membiasakan perilaku hidup bersih, melakukan aktivitas fisik, serta memantau berat badan secara teratur.
Artinya, pola makan sehat tidak cukup hanya dengan mengurangi porsi makan. Masyarakat juga perlu memperhatikan komposisi makanan dan memastikan tubuh memperoleh zat gizi yang dibutuhkan.
2. Memperhatikan Kualitas Makanan, Bukan Hanya Jumlahnya
Makanan yang membuat perut kenyang belum tentu memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.
Sebagai contoh, makanan yang didominasi sumber karbohidrat dengan sedikit protein, sayuran, dan buah-buahan mungkin menyediakan energi, tetapi belum tentu memberikan cukup zat besi, vitamin, protein, dan zat gizi penting lainnya.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya memperhatikan kualitas makanan, bukan sekadar jumlah kalori yang dikonsumsi.
Masyarakat dapat mulai dengan mengombinasikan berbagai kelompok pangan dalam satu hari. Konsumsi sumber karbohidrat dapat disertai protein hewani atau nabati, sayuran, dan buah-buahan sesuai kebutuhan.
Selain itu, pemilihan bahan pangan lokal dapat menjadi salah satu cara memenuhi kebutuhan gizi secara lebih terjangkau. Tempe, tahu, telur, ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan buah-buahan yang tersedia secara musiman dapat menjadi bagian dari menu sehari-hari.
Namun, pemenuhan gizi tetap perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, kebutuhan energi, dan tahap kehidupan seseorang.
3. Membatasi Konsumsi Gula, Garam, dan Lemak Berlebihan
Di tengah meningkatnya kemudahan memperoleh makanan siap saji, minuman manis, dan makanan ringan kemasan, masyarakat perlu lebih memperhatikan kandungan gizi produk yang dikonsumsi.
Konsumsi makanan dan minuman tinggi gula secara berlebihan dapat meningkatkan asupan energi tanpa selalu memberikan zat gizi yang memadai. Apabila berlangsung terus-menerus dan tidak diimbangi pengeluaran energi yang sesuai, kebiasaan ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan.
Sementara itu, konsumsi garam berlebihan berkaitan dengan peningkatan tekanan darah. Asupan lemak juga perlu diperhatikan, terutama jika pola makan didominasi makanan yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
WHO merekomendasikan agar konsumsi gula bebas dibatasi hingga kurang dari 10 persen total asupan energi harian, dengan pengurangan hingga di bawah 5 persen dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
WHO juga merekomendasikan konsumsi garam kurang dari 5 gram per hari untuk orang dewasa, setara dengan kurang lebih satu sendok teh dari seluruh sumber makanan. Rekomendasi tersebut merupakan batas konsumsi, bukan target yang harus dihabiskan.
Upaya ini tidak berarti masyarakat harus menghindari semua makanan manis atau berlemak. Hal yang lebih penting adalah memperhatikan frekuensi, porsi, dan keseimbangan pola makan secara keseluruhan.
Baca Juga: Rekomendasi Superfood yang Kaya Nutrisi untuk Menjaga Kesehatan Tubuh
4. Memantau Pertumbuhan Anak Secara Berkala
Pemantauan pertumbuhan merupakan langkah penting untuk mendeteksi masalah gizi sejak dini, terutama pada bayi dan anak-anak.
Orang tua dapat memanfaatkan layanan posyandu atau fasilitas kesehatan untuk memantau berat badan, panjang atau tinggi badan, serta perkembangan anak sesuai usianya.
Hasil pengukuran tersebut perlu dinilai menggunakan standar pertumbuhan yang sesuai, bukan hanya berdasarkan perbandingan dengan anak lain.
Jika berat badan anak tidak bertambah sesuai harapan, pertumbuhannya melambat, atau ditemukan tanda gangguan gizi lainnya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Deteksi dini dapat membantu menentukan apakah anak memerlukan perbaikan pola makan, pemeriksaan lebih lanjut, atau intervensi gizi tertentu.
Pemantauan juga penting untuk mengenali risiko kelebihan berat badan sejak awal. Dengan demikian, perhatian terhadap pertumbuhan anak tidak hanya berfokus pada pencegahan berat badan rendah dan stunting, tetapi juga pada pencegahan obesitas.
5. Memenuhi Kebutuhan Gizi Sejak Masa Kehamilan
Pencegahan masalah gizi perlu dimulai sejak sebelum kelahiran. Status gizi ibu selama kehamilan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.
Ibu hamil membutuhkan asupan energi, protein, vitamin, dan mineral yang sesuai dengan kebutuhannya. Zat besi dan asam folat, misalnya, merupakan zat gizi penting selama kehamilan.
Pemeriksaan kehamilan secara rutin dapat membantu memantau kondisi ibu dan janin serta mengidentifikasi kebutuhan intervensi gizi.
Setelah bayi lahir, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dianjurkan apabila memungkinkan secara medis. Setelah usia enam bulan, bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI atau MPASI yang aman, cukup, beragam, dan sesuai tahap perkembangannya, sambil tetap melanjutkan pemberian ASI hingga usia dua tahun atau lebih.
MPASI sebaiknya tidak hanya berfokus pada makanan yang mengenyangkan, tetapi juga menyediakan protein, zat besi, serta berbagai vitamin dan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
Pendekatan ini membantu membangun fondasi kesehatan sejak awal kehidupan sekaligus mengurangi risiko gangguan pertumbuhan dan kekurangan zat gizi.
6. Menjaga Aktivitas Fisik dan Kebiasaan Hidup Sehat
Pencegahan triple burden of malnutrition tidak hanya berkaitan dengan makanan. Aktivitas fisik, tidur, dan kebiasaan hidup sehari-hari juga berperan dalam menjaga kesehatan tubuh.
Aktivitas fisik yang teratur membantu menjaga kebugaran, mendukung kesehatan jantung, serta membantu pengaturan berat badan. Jenis dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan.
WHO merekomendasikan anak dan remaja berusia 5–17 tahun melakukan rata-rata sedikitnya 60 menit aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat per hari sepanjang minggu. Sementara itu, orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu.
Aktivitas tersebut dapat berupa berjalan kaki, bersepeda, bermain di luar ruangan, berenang, atau berolahraga sesuai kemampuan.
Selain itu, tidur yang cukup dan teratur dapat mendukung kesehatan secara keseluruhan. Membiasakan waktu makan yang teratur, mengurangi perilaku sedentari, serta membatasi waktu duduk terlalu lama juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat.
Meski demikian, aktivitas fisik bukan pengganti pemenuhan gizi. Tubuh tetap membutuhkan makanan yang cukup dan berkualitas untuk mendukung pertumbuhan, pemulihan, dan aktivitas sehari-hari.
7. Memperkuat Edukasi Gizi dan Akses terhadap Pangan Bergizi
Pencegahan masalah gizi tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada individu atau keluarga. Lingkungan sosial dan kondisi ekonomi juga memengaruhi kemampuan seseorang untuk memperoleh makanan bergizi.
Harga pangan, ketersediaan bahan makanan, akses terhadap air bersih, sanitasi, pendidikan, serta layanan kesehatan dapat memengaruhi status gizi masyarakat.
Karena itu, edukasi gizi perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui keluarga, sekolah, posyandu, puskesmas, dan berbagai program kesehatan masyarakat.
Sekolah, misalnya, dapat membantu membentuk kebiasaan makan sehat melalui pendidikan gizi dan penyediaan makanan yang memenuhi standar keamanan serta kualitas gizi. Keluarga juga dapat membiasakan anak mengonsumsi makanan beragam sejak dini.
Di tingkat masyarakat, peningkatan akses terhadap pangan bergizi dan layanan kesehatan sangat penting, terutama bagi keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi.
Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya juga perlu memastikan bahwa program perbaikan gizi tidak hanya berorientasi pada penanganan stunting, tetapi turut memperhatikan anemia, kekurangan zat gizi mikro, kelebihan berat badan, dan obesitas.
Dengan pendekatan tersebut, upaya perbaikan gizi dapat menjangkau berbagai kelompok usia dan lapisan masyarakat.
Apa Kata Penelitian tentang Pencegahan Masalah Gizi?
Pentingnya pendekatan menyeluruh dalam mengatasi malnutrisi juga didukung oleh berbagai penelitian ilmiah.
Salah satunya adalah seri penelitian Maternal and Child Nutrition yang diterbitkan jurnal medis The Lancet pada 2013. Seri penelitian ini menyoroti pentingnya intervensi gizi pada masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan anak atau periode 1.000 hari pertama kehidupan.
Penelitian tersebut menekankan bahwa intervensi gizi pada periode penting ini dapat membantu mengurangi berbagai dampak kekurangan gizi terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, perbaikan gizi juga perlu disertai dukungan kesehatan, sanitasi, dan lingkungan yang memadai.
Selanjutnya, laporan Global Nutrition Report menyoroti bahwa berbagai bentuk malnutrisi dapat muncul bersamaan dan memerlukan kebijakan yang terintegrasi. Perbaikan pola makan, sistem pangan, layanan kesehatan, serta lingkungan yang mendukung pilihan makanan sehat merupakan bagian penting dari upaya tersebut.
Sementara itu, rekomendasi WHO mengenai pola makan sehat menekankan konsumsi makanan yang beragam, pembatasan gula dan garam, serta keseimbangan asupan energi. Prinsip-prinsip ini relevan untuk mencegah kekurangan zat gizi sekaligus mengurangi risiko kelebihan berat badan.
Temuan dan rekomendasi tersebut memperlihatkan bahwa pencegahan masalah gizi tidak cukup dilakukan melalui satu intervensi. Diperlukan kombinasi edukasi, pemenuhan kebutuhan pangan, pelayanan kesehatan, dan kebijakan publik yang mendukung pola hidup sehat.
Triple Burden of Malnutrition Bukan Sekadar Masalah Berat Badan
Triple burden of malnutrition menunjukkan bahwa persoalan gizi memiliki banyak dimensi. Kekurangan gizi dapat menghambat pertumbuhan, kekurangan vitamin dan mineral dapat mengganggu fungsi tubuh, sedangkan kelebihan gizi meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Ketiganya dapat muncul dalam masyarakat yang sama, bahkan dalam satu keluarga. Karena itu, keberhasilan perbaikan gizi tidak cukup dinilai dari penurunan angka stunting atau obesitas saja, tetapi juga dari terpenuhinya kebutuhan nutrisi secara menyeluruh.
Pemahaman tentang kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pola makan sehat bukan hanya tentang makan lebih sedikit atau lebih banyak, melainkan tentang memenuhi kebutuhan tubuh melalui makanan yang beragam, bergizi, dan seimbang.
Dengan dukungan keluarga, tenaga kesehatan, masyarakat, dan pemerintah, upaya mengatasi tiga beban masalah gizi dapat dilakukan secara lebih terarah untuk mendukung kualitas hidup masyarakat dalam jangka panjang. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko