RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Cuaca panas dan udara berdebu dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Paparan debu, asap kendaraan, serta partikel halus di udara bisa mengiritasi saluran napas, memicu batuk, dan memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit pernapasan.
Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama oleh anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki riwayat asma atau penyakit paru kronis. Gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, dan sesak napas perlu diperhatikan agar masyarakat dapat menentukan kapan harus mencari pertolongan medis.
Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama musim kemarau, ketika udara kering dan debu lebih mudah beterbangan.
Apa Hubungan Cuaca Panas, Debu, dan ISPA?
ISPA merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung dan tenggorokan hingga saluran napas bagian bawah. Penyebabnya dapat berupa virus atau bakteri.
Baca Juga: Musim Pancaroba Waspadai ISPA
Sementara itu, debu dan polusi udara tidak selalu menyebabkan infeksi secara langsung. Partikel yang terhirup dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memperburuk gejala penyakit yang sudah ada, termasuk asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa polusi udara mengandung berbagai partikel dan zat pencemar yang dapat memengaruhi kesehatan paru-paru. Paparan partikel halus juga berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan dan memburuknya asma.
Karena itu, batuk atau tenggorokan terasa kering saat cuaca panas tidak otomatis berarti seseorang terkena ISPA. Pemeriksaan dan penilaian gejala secara menyeluruh diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Gejala ISPA yang Perlu Diwaspadai
Gejala ISPA dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba. Tingkat keparahannya juga berbeda-beda, bergantung pada penyebab dan kondisi kesehatan seseorang.
Berikut beberapa gejala yang perlu diperhatikan.
1. Batuk kering atau berdahak
Batuk merupakan salah satu gejala umum infeksi saluran pernapasan. Paparan debu juga dapat memicu batuk akibat iritasi. Jika batuk semakin berat atau tidak kunjung membaik, sebaiknya lakukan pemeriksaan medis.
2. Pilek dan hidung tersumbat
Peradangan pada saluran pernapasan bagian atas dapat menyebabkan hidung berair, bersin, atau tersumbat. Keluhan serupa juga bisa terjadi akibat alergi dan iritasi, sehingga penyebabnya tidak dapat dipastikan hanya dari satu gejala.
3. Sakit tenggorokan
Tenggorokan dapat terasa gatal, kering, atau nyeri ketika menelan. Udara kering dan paparan partikel debu bisa memperburuk iritasi, sedangkan infeksi dapat menimbulkan keluhan yang serupa.
Baca Juga: Sering Lewat Jalan Berdebu? Waspadai Dampaknya bagi Pernapasan
4. Demam dan badan terasa lemas
Demam, sakit kepala, nyeri otot, serta tubuh lemas dapat menyertai infeksi saluran pernapasan. Jika demam berlangsung lama atau kondisi tubuh semakin menurun, pemeriksaan kesehatan diperlukan.
5. Sesak napas atau napas lebih cepat
Sesak napas merupakan tanda yang perlu mendapat perhatian serius, terlebih jika muncul saat beristirahat atau disertai nyeri dada. Kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai akibat cuaca panas semata. Kementerian Kesehatan juga mencantumkan batuk, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, dan gejala pernapasan lainnya sebagai tanda yang perlu dikenali masyarakat.
Siapa yang Lebih Rentan?
Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Begitu pula ibu hamil dan orang dengan penyakit penyerta, seperti asma, PPOK, penyakit jantung, atau diabetes.
Paparan asap dan partikel halus dapat memperburuk kondisi pernapasan, terutama pada orang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan paru. Orang yang bekerja di luar ruangan dalam waktu lama juga perlu mengurangi paparan debu dan asap sebisa mungkin.
Cara Mengurangi Risiko Gangguan Pernapasan saat Cuaca Panas
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi paparan debu dan polusi udara.
Gunakan masker saat udara berdebu. Masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator yang pas di wajah, dapat membantu mengurangi paparan partikulat. Masker tidak sepenuhnya menghilangkan risiko, terutama jika terdapat kebocoran di bagian tepi.
Kurangi aktivitas luar ruangan ketika udara tercemar. Jika terlihat kabut asap atau debu pekat, batasi aktivitas fisik berat di luar ruangan. Periksa informasi kualitas udara jika tersedia di wilayah setempat.
Jaga kebersihan lingkungan. Bersihkan debu menggunakan metode yang tidak membuatnya beterbangan kembali. Hindari membakar sampah karena asap pembakaran dapat menambah pencemaran udara.
Baca Juga: Mengapa Anak Lebih Rentan Mengalami Masalah Pernapasan? Ini Penjelasan Dokter
Cukupi kebutuhan cairan. Minum air secara teratur membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi saat cuaca panas. Namun, minum air bukan pengobatan untuk ISPA.
Jangan mengabaikan gejala yang memburuk. Jika batuk atau demam tidak membaik, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan. Hindari mengonsumsi antibiotik tanpa resep karena tidak semua ISPA disebabkan oleh bakteri.
Kapan Harus Segera ke Fasilitas Kesehatan?
Masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas, napas cepat atau berat, nyeri dada, maupun kondisi yang memburuk dengan cepat. Bibir atau wajah yang tampak kebiruan juga merupakan tanda darurat. Pada bayi dan anak kecil, kesulitan bernapas, sulit minum, atau penurunan kesadaran membutuhkan penanganan segera.
Sementara itu, batuk atau pilek yang menetap, demam berkepanjangan, dan keluhan yang kembali memburuk setelah sempat membaik juga perlu diperiksa. Jangan menunggu gejala menjadi berat, khususnya bagi kelompok rentan.
Menjaga kualitas udara di sekitar rumah, mengurangi paparan debu dan asap, serta mengenali tanda bahaya dapat membantu masyarakat melindungi kesehatan pernapasan selama cuaca panas dan musim kemarau. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko