Mitos atau Fakta, Penyakit pada Manusia Berawal dari Pikiran? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 17:45 WIB
Stres dipercaya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tubuh terkena penyakit, benarkah ? (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Stres dipercaya menjadi salah satu faktor yang menyebabkan tubuh terkena penyakit, benarkah ? (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Penyakit pada manusia sebenarnya berawal dari pikiran, pernyataan semacam ini cukup sering beredar di masyarakat. Ada anggapan bahwa pikiran negatif, stres, kecemasan, atau terlalu banyak memikirkan sesuatu dapat menjadi penyebab utama berbagai penyakit.

Namun, benarkah seluruh penyakit pada manusia berasal dari pikiran?

Jawabannya tidak sepenuhnya benar. Pikiran dan kondisi psikologis memang dapat memengaruhi kesehatan tubuh, tetapi bukan berarti semua penyakit bermula dari pikiran.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres psikologis yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh, mulai dari sistem saraf, hormon, metabolisme hingga sistem kekebalan tubuh.

Salah satu kajian yang diterbitkan dalam Annual Review of Psychology menjelaskan bahwa stres dapat memengaruhi kesehatan melalui respons sistem saraf otonom dan sistem neuroendokrin. Stres juga dapat memengaruhi perilaku seseorang, seperti pola tidur, aktivitas fisik, pola makan, hingga kebiasaan lain yang berhubungan dengan kesehatan.

Stres Berlebihan Bisa Memengaruhi Kondisi Tubuh

Ketika seseorang menghadapi tekanan, tubuh akan mengaktifkan respons stres. Dalam kondisi tertentu, respons ini merupakan mekanisme normal untuk membantu tubuh menghadapi ancaman.

Masalah dapat muncul ketika stres berlangsung terlalu lama atau terlalu sering.

Baca Juga: Mitos atau Fakta? Kurang Minum Air Bisa Bikin Sulit Fokus, Ini Penjelasannya

Penelitian mengenai allostatic load atau beban kumulatif stres menunjukkan bahwa tekanan psikologis dan berbagai peristiwa kehidupan yang berlangsung terus-menerus dapat berhubungan dengan kondisi kesehatan yang lebih buruk. Konsep ini menggambarkan “beban” yang harus ditanggung tubuh akibat terus beradaptasi terhadap stres.

Dengan kata lain, pikiran memang tidak terpisah sepenuhnya dari tubuh.

Stres kronis dapat memengaruhi pengaturan hormon seperti kortisol, sistem saraf otonom dan sejumlah proses biologis lainnya. Dalam jangka panjang, perubahan tersebut dapat berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan.

Bukan Berarti Semua Penyakit Disebabkan Pikiran

Meski hubungan antara pikiran dan tubuh cukup kuat, tidak tepat jika kemudian menyimpulkan bahwa semua penyakit disebabkan oleh pikiran.

Penyakit manusia memiliki penyebab yang sangat beragam. Faktor genetik, infeksi, pola hidup, lingkungan, usia, paparan zat tertentu, gangguan organ, hingga berbagai faktor biologis lainnya dapat berperan.

Bahkan sebuah tinjauan sistematis terhadap penelitian prospektif menemukan bahwa hubungan antara respons stres psikologis dan penyakit di masa depan memang ada, tetapi hasil penelitian tidak semuanya menunjukkan hubungan yang sama. Dari temuan yang dianalisis, sekitar sepertiga hasil yang dilaporkan signifikan, sementara sebagian besar lainnya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.

Artinya, stres merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan, bukan satu-satunya penyebab penyakit.

Ada yang Disebut Efek Nocebo

Hubungan antara pikiran dan keluhan fisik juga dapat dilihat melalui fenomena yang dikenal sebagai nocebo effect.

Nocebo terjadi ketika ekspektasi negatif seseorang terhadap suatu kondisi atau pengobatan dapat memicu atau memperburuk pengalaman gejala.

Sebuah systematic review yang mencakup 89 penelitian menemukan bahwa ekspektasi terhadap munculnya gejala merupakan salah satu faktor penting yang dapat meningkatkan respons nocebo.

Baca Juga: Mitos atau Fakta? Terlalu Banyak Makan Telur Rebus Bisa Menyebabkan Bisul?

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Health Psychology juga menunjukkan bahwa efek nocebo dapat muncul ketika konteks pengobatan menimbulkan ekspektasi negatif yang kemudian memengaruhi pengalaman gejala.

Hal ini menunjukkan bahwa pikiran dan ekspektasi seseorang memang dapat memengaruhi bagaimana tubuh merasakan dan merespons gejala tertentu.

Namun, fenomena tersebut tidak berarti seseorang “menciptakan” penyakit serius hanya karena berpikir negatif.

Pikiran Positif Bukan Pengganti Pengobatan

Karena adanya hubungan antara kondisi psikologis dan kesehatan fisik, menjaga kesehatan mental tetap penting.

Mengelola stres, mendapatkan tidur yang cukup, berolahraga, menjaga pola makan, memiliki hubungan sosial yang baik, serta mencari bantuan profesional ketika mengalami tekanan psikologis dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat.

Tetapi, ketika seseorang mengalami gejala atau penyakit, pemeriksaan medis tetap diperlukan.

Pernyataan seperti “semua penyakit berasal dari pikiran” justru berpotensi menyesatkan jika membuat seseorang mengabaikan faktor biologis atau menunda pemeriksaan dan pengobatan.

Jadi, Mitos atau Fakta ?

Klaim bahwa penyakit pada manusia berawal dari pikiran adalah mitos jika dimaknai secara harfiah.

Tidak ada dasar ilmiah yang cukup untuk mengatakan bahwa sebagian besar atau 90 persen seluruh penyakit manusia berasal dari pikiran.

Namun, fakta bahwa kondisi psikologis dapat memengaruhi kesehatan tubuh memang didukung oleh penelitian ilmiah. Stres kronis dapat memengaruhi sistem saraf dan hormonal serta berhubungan dengan perubahan biologis yang pada akhirnya dapat berdampak terhadap kesehatan.

Karena itu, hubungan yang lebih tepat bukan “penyakit berasal dari pikiran”, melainkan pikiran, tubuh, perilaku, dan lingkungan saling berinteraksi dalam memengaruhi kesehatan manusia.

Menjaga kesehatan berarti tidak hanya memperhatikan tubuh, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis. Namun, kesehatan mental yang baik tetap bukan pengganti diagnosis maupun pengobatan medis ketika seseorang benar-benar mengalami penyakit.

Editor : Bhagas Dani Purwoko
nocebo penyakit kesehatan pikiran stres