RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Anggapan bahwa wanita berkumis memiliki nafsu seksual yang lebih tinggi cukup sering berkembang di masyarakat. Biasanya, perempuan dengan rambut di atas bibir atau bagian wajah lainnya dikaitkan dengan kadar hormon androgen yang lebih tinggi sehingga dianggap memiliki libido yang juga lebih besar.
Namun, secara medis, anggapan bahwa wanita berkumis pasti mempunyai nafsu seksual lebih tinggi tidak dapat dibenarkan begitu saja.
Rambut wajah yang tumbuh lebih tebal pada perempuan dikenal dalam dunia medis sebagai hirsutisme, terutama jika pertumbuhannya mengikuti pola rambut yang dipengaruhi androgen. Kondisi ini dapat berkaitan dengan kadar androgen, sensitivitas folikel rambut terhadap hormon, faktor genetik, maupun kondisi tertentu seperti sindrom ovarium polikistik atau PCOS. Pedoman Endocrine Society menjelaskan bahwa pertumbuhan rambut seksual memang dipengaruhi androgen, tetapi tingkat pertumbuhan rambut tidak selalu berbanding lurus dengan kadar hormon androgen dalam tubuh.
Lantas, bagaimana dengan kaitannya terhadap libido ?
Androgen memang berkaitan dengan fungsi seksual
Androgen, termasuk testosteron, memiliki peran dalam fungsi seksual perempuan. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam The Journal of Sexual Medicine pada 2022 menganalisis puluhan penelitian dengan ribuan perempuan.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Kurang Minum Air Bisa Bikin Sulit Fokus, Ini Penjelasannya
Hasil penelitian tersebut menemukan adanya hubungan antara kadar testosteron endogen dengan hasrat seksual dan fungsi seksual perempuan. Namun, para peneliti juga menegaskan bahwa hubungan antara androgen dan fungsi seksual perempuan merupakan persoalan kompleks dan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Artinya, keberadaan rambut wajah tidak dapat digunakan sebagai indikator sederhana untuk menentukan tinggi atau rendahnya libido seseorang.
Kumis tidak otomatis berarti testosteron tinggi
Menurut pedoman Endocrine Society, hirsutisme terjadi melalui interaksi antara kadar androgen dalam darah dan sensitivitas folikel rambut terhadap androgen. Karena itu, perempuan dapat mengalami pertumbuhan rambut wajah meskipun kadar androgen darahnya tidak selalu tinggi.
Bahkan, pedoman tersebut menyebutkan adanya kasus idiopathic hirsutism, yaitu pertumbuhan rambut berlebih yang terjadi tanpa ditemukan kelebihan androgen.
Faktor lain seperti genetik, sensitivitas reseptor androgen pada folikel rambut, usia, etnis, serta kondisi hormonal juga dapat memengaruhi pertumbuhan rambut.
Libido dipengaruhi banyak faktor
Hasrat seksual perempuan tidak hanya ditentukan oleh hormon. Kondisi psikologis, kualitas hubungan dengan pasangan, tingkat stres, pengalaman seksual, kondisi kesehatan, obat-obatan, kualitas tidur, serta perubahan hormon pada berbagai tahap kehidupan dapat ikut berperan.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Mata Kiri Kedutan Bakal Dapat Kabar Buruk, Ini Penjelasannya!
Karena itu, menghubungkan satu ciri fisik seperti kumis dengan tingkat libido seseorang merupakan penyederhanaan yang tidak didukung bukti ilmiah yang cukup.
Penelitian mengenai androgen dan fungsi seksual memang menunjukkan adanya hubungan tertentu, tetapi hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap perempuan dengan rambut wajah lebih lebat otomatis mempunyai dorongan seksual lebih tinggi.
Kapan rambut wajah perlu diperiksa ?
Rambut halus di wajah sebenarnya dapat muncul secara normal pada perempuan. Namun, jika rambut wajah tiba-tiba tumbuh jauh lebih tebal atau cepat, terutama disertai menstruasi tidak teratur, jerawat berat, kerontokan rambut kepala dengan pola tertentu, atau perubahan fisik lainnya, kondisi tersebut sebaiknya diperiksakan ke dokter.
Pedoman Endocrine Society merekomendasikan evaluasi kadar androgen pada perempuan dengan hirsutisme sedang hingga berat, terutama apabila pertumbuhannya berlangsung cepat atau disertai gangguan menstruasi maupun tanda klinis lain yang mengarah pada gangguan hormonal.
Dengan demikian, anggapan bahwa wanita berkumis memiliki nafsu seksual lebih tinggi lebih tepat disebut mitos jika digunakan sebagai aturan umum. Rambut wajah memang dapat berkaitan dengan aktivitas androgen pada sebagian perempuan, tetapi keberadaan kumis tidak dapat dijadikan ukuran untuk menilai libido seseorang.
Hubungan antara hormon dan hasrat seksual jauh lebih kompleks. Untuk mengetahui adanya gangguan hormonal, pemeriksaan medis dan evaluasi gejala secara menyeluruh jauh lebih dapat diandalkan dibandingkan menilai seseorang hanya berdasarkan ciri fisiknya. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko