RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Musik menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang mendengarkan lagu ketika bekerja, berolahraga, berkendara, bersantai, bahkan ketika sedang merasa sedih. Bukan tanpa alasan, musik ternyata dapat berkaitan dengan perubahan suasana hati atau mood seseorang.
Dalam psikologi, musik diketahui memiliki hubungan dengan proses pengaturan emosi. Melodi, tempo, ritme, lirik, hingga pengalaman pribadi seseorang terhadap sebuah lagu dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan merespons musik tersebut.
Sebuah systematic review dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology pada 2026 menganalisis 32 penelitian mengenai kebiasaan mendengarkan musik dan intervensi berbasis musik pada orang dewasa. Hasilnya menunjukkan adanya manfaat kecil hingga sedang terhadap kecemasan, gejala depresi, dan kesejahteraan emosional. Peneliti juga menemukan bahwa program musik yang lebih terstruktur cenderung memberikan efek yang lebih besar dibandingkan sekadar mendengarkan musik secara pasif.
Musik dan Pengaturan Emosi
Menurut kajian psikologi, salah satu alasan musik dapat memengaruhi mood adalah karena musik dapat digunakan sebagai bagian dari proses regulasi emosi. Seseorang secara sadar maupun tidak sadar dapat memilih lagu tertentu untuk mempertahankan, mengubah, atau mengelola perasaannya.
Meta-analisis yang diterbitkan dalam Psychology of Music menemukan bahwa aktivitas bermusik, termasuk mendengarkan, memainkan, maupun menciptakan musik, memiliki efek positif terhadap regulasi emosi. Analisis tersebut mencakup delapan penelitian dengan total 441 peserta dan menemukan efek keseluruhan sebesar d = 0,45.
Artinya, musik berpotensi menjadi salah satu sarana yang membantu seseorang mengelola emosinya. Namun, respons setiap orang terhadap musik tidak selalu sama.
Baca Juga: Sering Bicara Sendiri? Ini Penjelasannya Menurut Psikologi
Musik Bisa Memicu Respons pada Otak
Pengaruh musik terhadap suasana hati juga berkaitan dengan aktivitas otak. Penelitian yang dilakukan Valorie N. Salimpoor dan rekan-rekannya, yang diterbitkan dalam Nature Neuroscience, menemukan adanya pelepasan dopamin di striatum ketika seseorang mengalami puncak emosi saat mendengarkan musik.
Dopamin merupakan neurotransmiter yang berkaitan dengan sistem penghargaan dan pengalaman menyenangkan. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa musik yang dianggap menyenangkan dapat berhubungan dengan respons biologis yang membuat pengalaman mendengarkan musik terasa lebih memuaskan.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa lebih bersemangat ketika mendengarkan lagu favoritnya. Musik bukan sekadar rangkaian suara, tetapi dapat berinteraksi dengan sistem otak yang berkaitan dengan emosi dan penghargaan.
Mengapa Lagu Sedih Justru Bisa Membuat Nyaman ?
Menariknya, orang tidak selalu memilih musik yang ceria ketika sedang mengalami bad mood. Lagu dengan nuansa sedih juga sering dipilih ketika seseorang sedang kecewa, kehilangan, atau merasa kesepian.
Dalam konteks regulasi emosi, musik dapat menjadi media untuk mengenali dan memproses perasaan. Lagu yang memiliki suasana serupa dengan kondisi emosional seseorang terkadang dapat memberikan perasaan bahwa emosinya "terwakili".
Namun, efek tersebut sangat dipengaruhi oleh individu. Pengalaman pribadi, selera musik, kondisi psikologis, konteks mendengarkan, serta kenangan yang berkaitan dengan sebuah lagu dapat menentukan respons emosional seseorang.
Tempo dan Lirik Juga Berperan
Tempo musik juga dapat memberikan kesan psikologis yang berbeda. Musik dengan ritme cepat umumnya dapat terasa lebih energik, sedangkan musik dengan tempo lebih lambat dapat memberikan suasana yang lebih tenang bagi sebagian pendengar.
Selain itu, lirik dapat memperkuat respons emosional karena kata-kata dalam lagu dapat berhubungan langsung dengan pengalaman atau pikiran pendengarnya.
Karena itu, satu lagu yang membuat seseorang merasa bahagia belum tentu memberikan efek yang sama kepada orang lain.
Baca Juga: Sering Memendam Perasaan? Ini Dampaknya bagi Kondisi Psikologis Perempuan
Musik Bisa Menjadi Salah Satu Cara Mengelola Mood
Kajian terbaru pada 2026 juga menunjukkan bahwa musik dapat menjadi salah satu aktivitas yang mendukung kesejahteraan emosional. Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian masih memiliki variasi dan diperlukan penelitian yang lebih ketat untuk memahami mekanisme serta besarnya efek musik secara lebih pasti.
Dengan demikian, mendengarkan musik dapat menjadi salah satu aktivitas sederhana untuk membantu mengelola suasana hati dalam kehidupan sehari-hari. Memilih lagu sesuai kebutuhan, misalnya musik yang menenangkan ketika ingin bersantai atau lagu yang membangkitkan semangat ketika beraktivitas, dapat menjadi bagian dari strategi regulasi emosi.
Namun, musik tidak dapat dianggap sebagai pengganti bantuan profesional untuk masalah kesehatan mental. Jika perubahan mood berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang tetap perlu mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Pada akhirnya, psikologi menunjukkan bahwa hubungan musik dan mood bukan sekadar perasaan subjektif. Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara aktivitas bermusik, regulasi emosi, sistem penghargaan otak, dan kesejahteraan psikologis. Meski responsnya berbeda pada setiap orang, musik memang memiliki potensi untuk menjadi salah satu bagian dari cara manusia memahami dan mengelola emosinya. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko