RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kebiasaan tidur setelah makan sering dianggap sebagai salah satu penyebab berat badan bertambah. Tidak sedikit orang percaya bahwa makanan yang baru dikonsumsi akan langsung berubah menjadi lemak ketika tubuh digunakan untuk tidur.
Namun demikian, apakah anggapan tersebut benar ? Secara umum, tidur setelah makan tidak secara langsung menyebabkan berat badan naik. Kenaikan berat badan lebih berkaitan dengan jumlah kalori yang dikonsumsi dibandingkan dengan energi yang digunakan tubuh dalam jangka waktu tertentu.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Bekam Dapat Membuat Tubuh Jadi Lebih Sehat, Simak Penjelasan Medisnya
Tidur Setelah Makan Bukan Penyebab Utama Berat Badan Naik
Tubuh tetap membutuhkan energi meskipun seseorang sedang tidur. Berbagai fungsi dasar seperti bernapas, menjaga suhu tubuh, memompa darah, serta menjalankan kerja organ tetap membutuhkan energi.
Karena itu, makanan yang dikonsumsi sebelum tidur tidak otomatis berubah menjadi lemak hanya karena seseorang kemudian berbaring atau tidur.
Meski demikian, waktu makan dan kebiasaan sebelum tidur tetap dapat berpengaruh secara tidak langsung terhadap berat badan. Misalnya, seseorang terbiasa makan dalam porsi besar pada malam hari, mengonsumsi makanan tinggi kalori, kemudian langsung tidur tanpa memperhatikan total asupan hariannya.
Dalam kondisi tersebut, masalah utamanya bukan semata-mata karena tidur setelah makan, melainkan karena asupan energi yang berlebihan.
Mengapa Makan Larut Malam Sering Dikaitkan dengan Kenaikan Berat Badan?
Makan larut malam kerap dikaitkan dengan peningkatan berat badan karena jenis makanan yang dipilih dan pola makan seseorang.
Pada malam hari, seseorang mungkin lebih mudah mengonsumsi makanan ringan, makanan manis, gorengan, atau makanan tinggi kalori tanpa menyadari jumlah kalorinya. Jika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali dan membuat total asupan kalori melebihi kebutuhan tubuh, berat badan dapat meningkat.
Selain itu, tidur terlalu dekat dengan waktu makan juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada sebagian orang. Berbaring segera setelah makan dapat memperburuk keluhan seperti heartburn atau refluks asam lambung pada orang yang rentan.
Berapa Lama Sebaiknya Menunggu Sebelum Tidur?
Tidak ada aturan bahwa makanan harus menunggu sampai "habis terbakar" sebelum seseorang boleh tidur. Namun, untuk kenyamanan pencernaan, terutama bagi orang yang mudah mengalami refluks, memberi jeda setelah makan sebelum berbaring dapat membantu.
Sebagai kebiasaan sehari-hari, seseorang dapat mengatur waktu makan malam agar tidak terlalu berdekatan dengan waktu tidur. Jika masih lapar menjelang tidur, pilih makanan dalam porsi wajar dan tidak terlalu tinggi lemak atau gula.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Benarkah Onani Bisa Membuat Tubuh Lebih Tinggi?
Jadi menurut rangkuman diatas, apakah tidur setelah makan menyebabkan berat badan naik ? Jawabannya adalah Mitos jika dikatakan tidur setelah makan pasti membuat berat badan naik.
Berat badan terutama dipengaruhi oleh keseimbangan energi, pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta berbagai faktor lainnya. Tidur setelah makan bukanlah penyebab tunggal seseorang mengalami kenaikan berat badan.
Namun, kebiasaan makan dalam jumlah besar, sering ngemil makanan tinggi kalori pada malam hari, dan kurang bergerak dapat berkontribusi terhadap kelebihan asupan energi.
Karena itu, daripada hanya berfokus pada larangan tidur setelah makan, lebih penting memperhatikan pola makan secara keseluruhan, porsi makanan, aktivitas fisik, dan kualitas tidur.
Kesimpulannya, tidur setelah makan tidak otomatis membuat gemuk. Yang lebih menentukan adalah apa yang dimakan, berapa banyak yang dikonsumsi, serta bagaimana pola hidup seseorang secara keseluruhan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko