RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bekam menjadi salah satu metode pengobatan tradisional yang masih populer hingga saat ini. Terapi yang dilakukan dengan menempelkan cangkir khusus pada permukaan kulit untuk menciptakan tekanan vakum ini dipercaya mampu mengeluarkan "racun" dari dalam tubuh dan membuat badan terasa lebih sehat.
Namun, benarkah anggapan tersebut? Apakah manfaat bekam telah terbukti secara ilmiah atau hanya sekadar mitos?
Apa Itu Bekam?
Cupping therapy atau biasa disebut Bekam merupakan terapi tradisional yang telah dipraktikkan selama ribuan tahun di berbagai negara, termasuk Tiongkok, Timur Tengah, hingga Indonesia. Terapi ini dilakukan dengan menciptakan hisapan pada kulit menggunakan cangkir berbahan kaca, silikon, maupun plastik.
Secara umum terdapat dua jenis bekam, yaitu bekam kering yang hanya menggunakan hisapan, serta bekam basah yang dilakukan dengan sayatan kecil pada kulit untuk mengeluarkan sedikit darah.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Benarkah Buah Nanas Dapat Menyebabkan Keguguran pada Ibu Hamil?
Mitos: Bekam Mengeluarkan Racun dari Dalam Tubuh
Salah satu klaim paling populer adalah bekam mampu mengeluarkan racun atau toksin dari dalam tubuh. Namun faktanya, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa darah yang keluar saat bekam mengandung racun yang harus dibuang.
Dalam dunia medis, organ seperti hati dan ginjal memiliki peran utama dalam menyaring serta membuang zat-zat sisa metabolisme dan racun dari tubuh. Dengan kata lain, proses detoksifikasi tubuh sebenarnya sudah berlangsung secara alami.
Fakta: Bekam Bisa Memberikan Efek Relaksasi
Meski klaim detoksifikasi belum terbukti, beberapa penelitian menunjukkan bahwa bekam dapat memberikan manfaat tertentu, terutama dalam mengurangi nyeri otot dan memberikan efek relaksasi.
Hisapan yang terjadi pada kulit diduga meningkatkan aliran darah di area tertentu sehingga membantu mengurangi ketegangan otot. Tak sedikit orang juga merasa tubuh menjadi lebih ringan dan rileks setelah menjalani terapi ini.
Namun demikian, manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitasnya pada berbagai kondisi kesehatan.
Bekam Bukan Pengganti Pengobatan Medis
Para ahli menegaskan bahwa bekam sebaiknya hanya dijadikan sebagai terapi pendamping, bukan sebagai pengganti pengobatan medis yang telah terbukti efektif.
Apabila seseorang mengalami penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau infeksi tertentu, pemeriksaan dan pengobatan dari tenaga kesehatan tetap menjadi pilihan utama.
Siapa Saja yang Sebaiknya Menghindari Bekam?
Tidak semua orang dianjurkan menjalani terapi bekam. Beberapa kelompok yang perlu berhati-hati antara lain:
- Penderita gangguan pembekuan darah.
- Orang yang mengonsumsi obat pengencer darah.
- Ibu hamil, terutama pada area tubuh tertentu.
- Orang dengan infeksi atau luka terbuka pada kulit.
- Penderita anemia berat.
Melakukan bekam pada kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko perdarahan, infeksi, maupun komplikasi lainnya.
Baca Juga: 7 Tips Merawat Ginjal agar Tetap Sehat, Cegah Penyakit Sejak Dini
Pastikan Dilakukan oleh Terapis yang Kompeten
Jika ingin mencoba terapi bekam, pastikan dilakukan oleh terapis yang berpengalaman dengan peralatan steril untuk meminimalkan risiko infeksi.
Bekam yang dilakukan secara tidak higienis dapat menyebabkan penularan penyakit melalui darah, iritasi kulit, memar berlebihan, hingga infeksi serius.
Jadi, apakah bekam dapat membuat tubuh lebih sehat? Jawabannya adalah sebagian fakta, namun tidak sepenuhnya seperti yang dipercaya masyarakat.
Bekam memang berpotensi membantu meredakan nyeri otot, meningkatkan rasa rileks, dan memberikan efek nyaman bagi sebagian orang. Namun, klaim bahwa bekam mampu mengeluarkan racun dari tubuh atau menyembuhkan berbagai penyakit belum didukung bukti ilmiah yang kuat.
Karena itu, terapi bekam sebaiknya dipandang sebagai pelengkap gaya hidup sehat, bukan sebagai pengganti pengobatan medis. Menjaga pola makan bergizi, rutin berolahraga, tidur yang cukup, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala tetap menjadi cara terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko