RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Suhu udara yang menyengat selama musim kemarau di Bojonegoro mulai berdampak pada kesehatan kulit masyarakat. Paparan sinar matahari yang tinggi membuat kulit wajah lebih mudah kering, kemerahan, hingga mengalami iritasi.
Kondisi tersebut dikeluhkan oleh warga kota ledre ini. Salah satunya, Yoppy Bunga, perempuan asal Desa Kolong, Kecamatan Ngasem tersebut mengatakan, kulit lebih menghitam di musim kemarau ini. Selain itu, kemerahan setiap kali habis keluar rumah akibat panas yang menyengat di musim ini.
‘’Kulit saya agak gosong di kemarau ini. Kalau masalah kulit kering, memang tipe kulit wajah saya kering. Tapi, memang lebih sensitif, setiap habis dari luar, muka dan kulit saya agak kemerahan,’’ kata mahasiswi Universitas Bojonegoro tersebut.
Baca Juga: Dinkes Blora Sebut Partisipasi CKG Baru 68,8 Persen Sepanjang 2025
Dikonfirmasi terpisah, dokter kecantikan di Bojonegoro, dr. Nia Herdiana Putri menyampaikan, di musim kemarau ini, banyak masalah kulit kering dan iritasi akibat paparan sinar matahari. Adapun gejalanya, kebanyakan kemerahan, terkadang juga muncul bintik-bintik semacam dermatitia.
‘’Untuk kasus terbanyakku, tetap jerawat di klinik,’’ ujar pemilik Svarga Klinik tersebut. Lanjut dia, ada beberapa tips mencegah dan menangani permasalahan kulit kering dan iritasi di musim kemarau ini.
Baca Juga: Dinkes Bojonegoro Genjot Cakupan Cek Kesehatan Gratis, Sasar Semua Anak Sekolah
Meliputi, minum banyak air putih minimal 2 liter setiap hari; menggunakan moisturizer sesuai jenis kulit dan bisa diulang setiap tiga jam sekali; menggunakan sunscreen sesuai jenis kulit yang diulang setiap dua jam. Karena paling sering kendala kulit kering dan iritasi terjadi akibat paparan sinar matahari.
‘’Selanjutnya, tidur cukup untuk regenerasi kulit secara optimal dan mengurangi stres pada kulit,’’ pungkasnya. (ewi/bgs)
Editor : Hakam Alghivari