Musim Kemarau Bikin Anak Lebih Rentan Sakit? Dokter Ungkap 6 Penyakit yang Sering Muncul dan Cara Mencegahnya

Hakam Alghivari • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 20:18 WIB
Ilustrasi anak dan ibu. (MAGNIFIC)
Ilustrasi anak dan ibu. (MAGNIFIC)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM  – Musim kemarau tidak hanya identik dengan cuaca panas dan langit cerah. Di balik perubahan musim tersebut, anak-anak justru menjadi kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan. Udara yang lebih kering, paparan debu yang meningkat, serta suhu lingkungan yang tinggi dapat memengaruhi sistem pernapasan, keseimbangan cairan tubuh, hingga kesehatan kulit anak.

Menurut World Health Organization (WHO), anak membutuhkan asupan cairan yang cukup, aktivitas fisik yang sesuai, serta lingkungan yang bersih untuk menjaga daya tahan tubuh.

Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa sistem kekebalan tubuh anak masih berkembang sehingga lebih mudah terpengaruh oleh perubahan cuaca dibandingkan orang dewasa.

Baca Juga: 6 Bahaya Paparan Layar HP pada Anak, Bisa Ganggu Perkembangan Otak hingga Kesehatan Mental

Kondisi tersebut membuat sejumlah penyakit lebih sering ditemukan selama musim kemarau. Meski umumnya tidak berbahaya apabila ditangani sejak dini, orang tua tetap perlu mengenali gejalanya agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Mengapa Anak Lebih Mudah Sakit Saat Musim Kemarau?

Perubahan cuaca memengaruhi kondisi lingkungan secara langsung. Kelembapan udara yang menurun membuat saluran napas dan selaput lendir menjadi lebih kering sehingga lebih mudah mengalami iritasi. Di sisi lain, debu beterbangan lebih banyak dan berpotensi membawa partikel yang mengganggu saluran pernapasan.

Cuaca panas juga membuat tubuh anak kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat. Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi, risiko dehidrasi akan meningkat. Dalam kondisi tertentu, kurangnya cairan juga dapat memengaruhi konsentrasi, aktivitas, hingga daya tahan tubuh anak terhadap infeksi.

Baca Juga: Tips Melakukan Intermittent Fasting untuk Pekerja: Tetap Produktif Tanpa Mengorbankan Kesehatan

1. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA)

ISPA menjadi salah satu penyakit yang paling sering menyerang anak saat musim kemarau. Debu, polusi udara, dan virus yang beredar dapat memicu batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga demam.

Anak yang memiliki riwayat alergi atau asma biasanya lebih sensitif terhadap udara kering dan partikel debu sehingga gejalanya dapat muncul lebih sering.

Untuk mengurangi risikonya, orang tua disarankan menjaga kebersihan tangan anak, menghindari paparan asap rokok, serta menggunakan masker ketika kualitas udara sedang buruk.

2. Dehidrasi

Dehidrasi merupakan kondisi ketika tubuh kehilangan lebih banyak cairan daripada yang dikonsumsi. Anak-anak lebih rentan mengalami kondisi ini karena proporsi cairan tubuh mereka lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Gejala dehidrasi dapat berupa bibir kering, lemas, jarang buang air kecil, mata cekung, hingga anak menjadi lebih rewel.

WHO menganjurkan agar anak memperoleh asupan air putih yang cukup setiap hari, terutama ketika cuaca panas atau setelah banyak beraktivitas di luar ruangan. Buah-buahan dengan kandungan air tinggi seperti semangka, jeruk, dan melon juga dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan.

3. Diare

Meski sering dikaitkan dengan musim hujan, diare juga dapat meningkat pada musim kemarau apabila kualitas air bersih menurun atau kebersihan makanan tidak terjaga.

Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet. Langkah sederhana ini terbukti mampu menurunkan risiko penularan berbagai penyakit infeksi saluran pencernaan.

Baca Juga: Musim Kemarau Diam-Diam Merusak Skin Barrier, Dermatolog Ungkap 7 Tanda yang Sering Diabaikan

4. Mimisan

Udara yang kering dapat menyebabkan pembuluh darah halus di dalam hidung lebih mudah pecah. Akibatnya, anak menjadi lebih sering mengalami mimisan, terutama jika memiliki kebiasaan mengorek hidung atau terlalu sering berada di lingkungan berdebu.

Sebagian besar mimisan tidak berbahaya dan dapat berhenti dengan sendirinya. Namun, apabila perdarahan berlangsung lebih dari 20 menit atau terjadi berulang tanpa penyebab yang jelas, anak sebaiknya diperiksakan ke dokter.

5. Iritasi Mata

Paparan debu dan angin selama musim kemarau dapat menyebabkan mata merah, gatal, berair, atau terasa seperti kemasukan pasir. Jika anak mengucek mata dengan tangan yang kotor, risiko infeksi mata juga akan meningkat.

Orang tua dianjurkan membiasakan anak mencuci tangan sebelum menyentuh wajah serta membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara sedang sangat berdebu.

6. Gangguan Kulit

Cuaca panas dapat memicu biang keringat, ruam, hingga iritasi kulit. Sebaliknya, udara yang terlalu kering juga dapat membuat kulit kehilangan kelembapan sehingga menjadi pecah-pecah dan gatal.

Untuk mencegahnya, gunakan pakaian berbahan katun yang menyerap keringat, mandikan anak secara teratur, dan oleskan pelembap apabila kulit tampak kering.

Cara Menjaga Anak Tetap Sehat Selama Musim Kemarau

Para ahli menilai pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan. Orang tua dapat membantu menjaga kesehatan anak dengan memastikan kebutuhan cairan terpenuhi, menyediakan makanan bergizi seimbang, membiasakan cuci tangan memakai sabun, serta mengurangi paparan debu dan asap rokok.

Selain itu, waktu bermain di luar ruangan sebaiknya diatur agar tidak dilakukan saat matahari sedang terik. Anak juga perlu memperoleh waktu tidur yang cukup karena kualitas istirahat berperan penting dalam menjaga sistem imun.

Kapan Orang Tua Harus Waspada?

Tidak semua penyakit saat musim kemarau dapat ditangani di rumah. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam tinggi lebih dari dua hari, sesak napas, diare yang disertai tanda-tanda dehidrasi, muntah terus-menerus, kejang, atau tampak lemas dan sulit dibangunkan.

Penanganan medis sejak dini dapat mencegah komplikasi, terutama pada bayi dan balita yang lebih rentan mengalami penurunan kondisi secara cepat.

Baca Juga: 7 Langkah Mengatasi Kulit Kering Saat Musim Kemarau, Tak Perlu Mahal karena Bahannya Sudah Ada di Dapur

Musim kemarau memang meningkatkan risiko berbagai penyakit pada anak, tetapi sebagian besar dapat dicegah melalui langkah sederhana. Menjaga kecukupan cairan, membatasi paparan debu, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memenuhi kebutuhan gizi dan istirahat merupakan kunci utama untuk mempertahankan daya tahan tubuh anak.

Dengan mengenali gejala sejak awal dan menerapkan upaya pencegahan yang tepat, orang tua dapat membantu anak tetap sehat dan aktif menjalani aktivitas selama musim kemarau.

Editor : Hakam Alghivari
rentan sakit anak Kemarau