RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bibir sumbing merupakan salah satu kelainan bawaan yang terjadi ketika bibir atau langit-langit mulut janin tidak menyatu secara sempurna selama masa kehamilan. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan bayi untuk menyusu, berbicara, hingga tumbuh kembangnya apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Meski belum diketahui secara pasti penyebab utamanya, para ahli menyebut bibir sumbing umumnya dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan selama masa kehamilan.
Penyebab Bibir Sumbing pada Bayi
Berikut beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan bibir sumbing:
1. Faktor Genetik
Riwayat keluarga menjadi salah satu faktor risiko utama. Jika salah satu orang tua atau anggota keluarga memiliki riwayat bibir sumbing, peluang bayi mengalami kondisi serupa dapat meningkat.
2. Kekurangan Asam Folat
Kurangnya asupan asam folat sebelum dan selama awal kehamilan dapat meningkatkan risiko terjadinya kelainan bawaan, termasuk bibir sumbing. Karena itu, ibu hamil dianjurkan memenuhi kebutuhan asam folat sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
3. Kebiasaan Merokok dan Konsumsi Alkohol
Paparan asap rokok, baik sebagai perokok aktif maupun pasif, serta konsumsi alkohol selama kehamilan telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko berbagai kelainan bawaan pada janin, termasuk bibir sumbing.
4. Penggunaan Obat-obatan Tertentu
Beberapa jenis obat yang dikonsumsi selama kehamilan tanpa pengawasan dokter dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin. Oleh karena itu, ibu hamil sebaiknya selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun.
5. Kondisi Kesehatan Ibu
Penyakit tertentu, seperti diabetes yang tidak terkontrol atau obesitas sebelum kehamilan, juga diketahui dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan kelainan bawaan.
Baca Juga: Mencegah Seks Bebas dan Kehamilan Remaja: Langkah Nyata Melindungi Masa Depan Anak Sekolah
Dampak Bibir Sumbing pada Bayi
Bibir sumbing tidak hanya memengaruhi penampilan fisik, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada masa awal kehidupan.
Salah satu dampak yang paling sering dialami adalah kesulitan menyusu. Celah pada bibir atau langit-langit mulut membuat bayi sulit menghasilkan daya isap yang cukup untuk memperoleh ASI atau susu secara optimal.
Mengutip penjelasan dr. Kristaninta dalam seminar mengenai cara pemberian ASI pada bayi sumbing yang dikutip oleh KumparanMOM, anak dengan bibir sumbing juga berisiko mengalami kesulitan makan dan minum.
"Selain itu, anak juga berisiko mengalami kesulitan makan dan minum. Saat menyusu atau makan, makanan maupun susu dapat masuk ke rongga hidung sehingga anak mudah tersedak. Bayi juga cenderung lebih cepat lelah ketika menyusu karena proses mengisap tidak optimal," jelas dr. Kristaninta saat seminar cara pemberian ASI pada bayi sumbing, Minggu (19/7).
Baca Juga: Imunisasi: Hadiah Cinta untuk Masa Depan Anak
Selain gangguan menyusu, bayi dengan bibir sumbing juga dapat mengalami:
-
Risiko infeksi telinga yang lebih tinggi.
-
Gangguan perkembangan bicara apabila celah mengenai langit-langit mulut.
-
Masalah pertumbuhan jika kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi dengan baik.
-
Tantangan psikologis dan sosial saat anak bertambah besar jika tidak mendapatkan dukungan dan penanganan yang memadai.
Apakah Bibir Sumbing Bisa Diobati?
Kabar baiknya, bibir sumbing dapat ditangani melalui operasi rekonstruksi yang umumnya dilakukan saat bayi berusia beberapa bulan, sesuai kondisi kesehatan dan rekomendasi dokter spesialis bedah plastik atau bedah mulut.
Selain operasi, anak mungkin memerlukan perawatan lanjutan seperti terapi wicara, perawatan gigi dan ortodonti, pemantauan tumbuh kembang, serta pendampingan dari tim medis multidisiplin.
Kesimpulan
Bibir sumbing merupakan kelainan bawaan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari genetik hingga kondisi kesehatan ibu selama kehamilan. Kondisi ini dapat menyebabkan bayi mengalami kesulitan menyusu, makan, dan minum, sehingga membutuhkan penanganan sejak dini.
Dengan diagnosis yang cepat, dukungan nutrisi yang tepat, serta perawatan medis yang komprehensif, sebagian besar anak dengan bibir sumbing dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta memiliki kualitas hidup yang optimal. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko