RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Banyak orang tua percaya bahwa terlalu banyak mengonsumsi makanan manis, seperti permen, cokelat, kue, atau minuman bersoda, dapat membuat anak menjadi lebih aktif, sulit diam, bahkan tidak bisa berkonsentrasi. Anggapan ini telah berkembang selama bertahun-tahun. Namun, benarkah gula menjadi penyebab utama anak hiperaktif?
Mitos yang Masih Dipercaya
Saat menghadiri pesta ulang tahun atau acara keluarga, tidak sedikit orang tua yang membatasi konsumsi makanan manis karena khawatir anak akan menjadi "tidak terkendali". Persepsi tersebut muncul karena anak-anak biasanya terlihat lebih bersemangat setelah mengonsumsi berbagai camilan manis.
Namun, para ahli menilai bahwa perilaku tersebut tidak selalu disebabkan oleh kandungan gula. Suasana pesta yang ramai, permainan bersama teman, serta rasa senang sering kali menjadi faktor yang membuat anak tampak lebih aktif daripada biasanya.
Apa Kata Penelitian?
Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tidak ada bukti kuat yang menyatakan konsumsi gula secara langsung menyebabkan hiperaktivitas pada anak. Bahkan, beberapa penelitian menemukan bahwa orang tua cenderung menilai anak lebih hiperaktif ketika mereka percaya anak telah mengonsumsi gula, meskipun sebenarnya makanan yang diberikan tidak mengandung gula.
Baca Juga: Masih Percaya? 5 Mitos Unik yang Masih Langgeng di Era Modern
Kondisi hiperaktif sendiri merupakan gejala yang dapat berkaitan dengan gangguan seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk genetika, perkembangan otak, dan lingkungan. Hingga saat ini, konsumsi gula belum terbukti sebagai penyebab ADHD.
Mengapa Konsumsi Gula Tetap Perlu Dibatasi?
Meski tidak terbukti menyebabkan hiperaktif, konsumsi gula berlebih tetap tidak dianjurkan. Asupan gula yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti:
- Obesitas pada anak.
- Kerusakan gigi.
- Risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari.
- Pola makan yang kurang seimbang karena anak lebih memilih makanan tinggi gula dibanding makanan bergizi.
Karena itu, orang tua tetap disarankan membatasi konsumsi makanan dan minuman manis sesuai kebutuhan gizi anak.
Tips Mengurangi Konsumsi Gula pada Anak
Untuk menjaga kesehatan anak, orang tua dapat menerapkan beberapa langkah sederhana, antara lain:
- Menyediakan buah segar sebagai camilan.
- Mengurangi minuman kemasan yang tinggi gula.
- Membiasakan anak minum air putih.
- Membaca label informasi gizi sebelum membeli makanan.
- Memberikan contoh pola makan sehat di lingkungan keluarga.
Kesimpulan
Jawabannya: Mitos. Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang kuat bahwa konsumsi makanan manis secara langsung menyebabkan anak menjadi hiperaktif.
Baca Juga: Mitos atau Fakta? Terlalu Sering Makan Mi Instan Menyebabkan Usus Mengkerut
Meski demikian, konsumsi gula tetap perlu dibatasi karena dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.
Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang cukup, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan dan perilaku anak. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko