Tips Melakukan Intermittent Fasting untuk Pekerja: Tetap Produktif Tanpa Mengorbankan Kesehatan

Andhika Feriawan • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 21:30 WIB
Bagi pekerja dengan aktivitas yang padat, penerapan intermittent fasting perlu dilakukan secara tepat agar tidak mengganggu konsentrasi maupun produktivitas. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)
Bagi pekerja dengan aktivitas yang padat, penerapan intermittent fasting perlu dilakukan secara tepat agar tidak mengganggu konsentrasi maupun produktivitas. (MAGNIFIC/ANDHIKA FERIAWAN/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Intermittent fasting (IF) atau pola makan dengan mengatur waktu berpuasa semakin populer di kalangan pekerja. Selain dinilai praktis, metode ini dipercaya dapat membantu mengontrol berat badan, meningkatkan metabolisme, dan memperbaiki pola makan. Namun, bagi pekerja dengan aktivitas yang padat, penerapan intermittent fasting perlu dilakukan secara tepat agar tidak mengganggu konsentrasi maupun produktivitas.

Para ahli gizi mengingatkan bahwa keberhasilan intermittent fasting tidak hanya bergantung pada lamanya waktu berpuasa, tetapi juga pada kualitas makanan yang dikonsumsi saat waktu berbuka dan sahur makan. Dengan perencanaan yang baik, pekerja dapat menjalani pola makan ini tanpa mengalami penurunan energi selama jam kerja.

Beberapa tips yang dapat diterapkan pekerja saat menjalani intermittent fasting antara lain:

1. Pilih Jadwal Puasa yang Sesuai dengan Rutinitas Kerja

Metode 16:8 menjadi salah satu pola intermittent fasting yang paling banyak dipilih. Dalam metode ini, seseorang berpuasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam. Pekerja dapat menyesuaikan jadwal makan, misalnya mulai pukul 12.00 hingga 20.00, sehingga waktu makan tetap selaras dengan jam istirahat kantor.

2. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

Saat waktu makan tiba, utamakan makanan yang mengandung protein, karbohidrat kompleks, lemak sehat, sayuran, dan buah. Kombinasi nutrisi tersebut membantu menjaga rasa kenyang lebih lama dan menyediakan energi yang stabil sepanjang hari.

Baca Juga: 304 Warga Bojonegoro Kerja ke Luar Negeri, Terbanyak di Taiwan, Diipicu Minimnya Lowongan Pekerjaan

3. Penuhi Kebutuhan Cairan

Meski sedang berpuasa, tubuh tetap membutuhkan cairan yang cukup. Minumlah air putih secara bertahap selama periode makan untuk mencegah dehidrasi. Kopi atau teh tanpa gula dapat dikonsumsi saat waktu puasa, namun sebaiknya tidak berlebihan agar tidak memicu gangguan lambung atau dehidrasi.

4. Hindari Makan Berlebihan

Sebagian orang cenderung "balas dendam" saat waktu makan tiba. Kebiasaan ini justru dapat menyebabkan rasa kantuk, gangguan pencernaan, dan menghambat tujuan dari intermittent fasting. Makanlah secukupnya dengan porsi yang terkontrol.

5. Sesuaikan Aktivitas Fisik

Olahraga ringan hingga sedang dapat dilakukan sebelum waktu berbuka atau beberapa jam setelah makan. Bagi pekerja yang memiliki aktivitas fisik tinggi, intensitas latihan perlu disesuaikan agar tubuh tidak mudah lelah.

6. Dengarkan Respons Tubuh

Apabila muncul gejala seperti pusing, lemas berlebihan, sulit berkonsentrasi, atau keluhan kesehatan lainnya, pekerja disarankan mengevaluasi pola puasa yang dijalankan. Intermittent fasting tidak cocok untuk semua orang, terutama individu dengan kondisi medis tertentu, ibu hamil, atau mereka yang memiliki riwayat gangguan makan.

Pakar kesehatan menegaskan bahwa intermittent fasting bukan sekadar tren diet, melainkan salah satu pola makan yang memerlukan disiplin dan keseimbangan nutrisi. Bagi pekerja, penerapan metode ini sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan kebutuhan energi selama menjalankan aktivitas.

Dengan perencanaan yang tepat, kualitas makanan yang baik, serta pola hidup sehat, intermittent fasting dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga berat badan sekaligus mendukung kesehatan tanpa mengurangi produktivitas di tempat kerja. (*)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
intermittent fasting Pekerja kesehatan berat badan diet