RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Ancaman pandemi Hantavirus yang kini mengguncang dunia di tahun 2026 bukanlah sebuah kejutan bagi para ilmuwan karena aliansi vaksin dunia, Gavi, telah memperingatkan potensi Hantavirus sebagai "Pandemi Berikutnya" sejak 10 Mei 2021.
Dengan tingkat kematian (fatality rate) mencapai 35-50% pada jenis New World (HPS), virus yang menyebar lewat tikus ini menjadi sorotan utama setelah terdeteksinya transmisi antarmanusia yang lebih berkelanjutan.
Peringatan yang Terabaikan?
Lima tahun silam, melalui platform VaccinesWork, Gavi menyoroti mutasi pada virus Andes di Argentina dan Chile sebagai alarm bahaya bagi kesehatan global. Laporan tersebut secara eksplisit menyatakan kekhawatiran para ahli kala itu.
Baca Juga: Waspadai Persebaran Hantavirus, Kemenkes Jalin Kerjasama Skrining dengan WHO
"Epidemi penularan hantavirus dari manusia ke manusia dari virus Andes di Argentina dan Chile menunjukkan bahwa virus ini dapat berevolusi untuk mempertahankan transmisi antarmanusia," tulis laporan VaccinesWork pada tahun 2021.
Kini di tahun 2026, kekhawatiran tersebut benar-benar menjadi kenyataan di tengah laporan kasus yang kembali mencuat secara global.
Pada Januari 2021 juga telah dirilis jurnal penelitian terkait berjudul Hantavirus: The Next Pandemic We Are Waiting For? di PubMed Central (PMC7826498). Ada 4 penulis di antaratanya Abbas Khan, Mazhar Khan, Saeed Ullah, dan Dong-Qing Wei.
"Skenario yang paling sulit diatasi adalah penularan hantavirus dari manusia ke manusia, yang dilaporkan pada tahun 2005 dan 2019, yang berpotensi menyebabkan pandemi global lain dengan virus yang lebih mematikan dibandingkan dengan virus corona," tulis jurnal tersebut.
Juga ada salah satu akun Twitter/X @iamasoothsayer yang juga telah memprediksi pada 2022. Dia ngetwit bahwa pada 2026 terjadi pandemi hantavirus.
Mengenal Gejala Hantavirus: Dari Gejala Flu hingga Gagal Organ
Hantavirus merupakan genus Orthohantavirus yang secara tradisional menular melalui aerosol dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Para ahli membagi ancaman ini menjadi dua kategori besar berdasarkan wilayah dan dampaknya:
- Old World Hantavirus (Eropa & Asia): Memicu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan tingkat kematian berkisar antara 5-15%.
- New World Hantavirus (Amerika): Menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang jauh lebih mematikan dengan fatalitas mencapai 50% akibat penumpukan cairan di paru-paru dan syok kardiovaskular.
Gejala awalnya sangat mengecoh karena mirip dengan flu biasa, seperti demam, nyeri tubuh, dan muntah.
Namun, masa inkubasinya yang panjang, yakni antara 2 hingga 4 minggu, memungkinkan pengidapnya bepergian dan menyebarkan virus ke berbagai wilayah sebelum mereka menyadari bahwa mereka sedang sakit.
Tantangan Vaksin dan Pengobatan
Hingga saat ini, perlindungan medis terhadap Hantavirus masih sangat terbatas dan menghadapi tantangan besar:
- Vaksin HFRS: Sudah dikembangkan oleh Korea Selatan sejak tahun 1990, namun penggunaannya masih terbatas di China dan Korea Selatan karena bukti efektivitasnya dianggap belum cukup kuat secara global.
- Vaksin HPS: Masih dalam tahap uji klinis (fase 1 dan 2a) sehingga belum tersedia untuk penggunaan luas di masyarakat.
- Pengobatan: Sebagian besar penanganan bersifat suportif, seperti penggunaan alat bantu napas atau ventilator. Penggunaan obat antivirus ribavirin sendiri masih diperdebatkan efektivitasnya di kalangan medis.
Cara Mengurangi Risiko: Lindungi Rumah Anda
Gavi menekankan bahwa langkah pencegahan paling krusial saat ini adalah memutus kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan pengerat. Berikut adalah langkah praktis yang dapat dilakukan:
- Simpan semua bahan makanan dalam wadah yang tertutup rapat agar tidak terjangkau tikus.
- Jaga kebersihan lingkungan rumah secara rutin dan segera lakukan pengendalian profesional jika ditemukan tanda-tanda infestasi tikus.
- Berhati-hatilah saat membersihkan kotoran tikus; hindari menyapu kering karena dapat memicu debu aerosol yang terhirup.
- Gunakan disinfektan untuk membasahi area kotoran tikus sebelum dibersihkan guna mematikan virus.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai pengawasan genomik virus dan perkembangan terkini, Anda dapat merujuk pada publikasi resmi di Gavi, the Vaccine Alliance. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko