Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Waspadai Persebaran Hantavirus, Kemenkes Jalin Kerjasama Skrining dengan WHO

Yuan Edo Ramadhana • Kamis, 7 Mei 2026 | 18:04 WIB
MV Hondius, tempat terjadinya wabah Hantavirus (Dok. Oceanwide Expedition)
MV Hondius, tempat terjadinya wabah Hantavirus (Dok. Oceanwide Expedition)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Meskipun saat ini baru terkonsentrasi di satu tempat, potensi persebaran Hantavirus masih menghantui masyarakat. Sehingga Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menjalin kerjasama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk memperkuat skrining atau deteksi dini penyakit tersebut.

Sebelumnya sekitar April, kasus persebaran Hantavirus ditemukan dalam beberapa penumpang kapal pesiar MV Hondius, yang saat ini berada di wilayah perairan Tanjung Verde dan bergerak menuju arah Kepulauan Kenari (Gran Canaria), yang merupakan salah satu wilayah kedaulatan Spanyol di benua Afrika.

Menurut BBC, wabah virus tersebut dimulai setelah kapal pesiar berangkat dari Ushuaia, Argentina. Namun WHO melaporkan wabah tersebut baru dilaporkan pada minggu lalu (2/5), dengan temuan dua penumpang positif terkena hantavirus dan lima penumpang menjalani karantina per Senin (4/5).

Rencananya, 147 penumpang dan awak kapal pesiar tersebut bakal diturunkan di Kepulauan Kenari agar dapat diperiksa oleh WHO untuk pengambilan sampel sel tubuh, serta agar dapat diantar pulang ke negara asal masing-masing. Dari jumlah tersebut, tiga diantaranya telah meninggal dunia dalam perjalanan.

Baca Juga: Dinkesda Blora Antisipasi Persebaran Virus Nipah, Wanti-Wanti Masyarakat Tidak Sepelekan Gejala

Meskipun kapal terletak nun jauh dari Indonesia, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tetap mengantisipasi dengan mempersiapkan teknis skrining hantavirus bersama WHO. Modelnya serupa dengan alat skrining untuk penyakit coronavirus atau Covid-19, termasuk keperluan alat reagen dan tes PCR.

"Memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum menyebar kemana-mana. Yang kita lakukan kita mempersiapkan agar skriningnya kita punya," jelas Budi pada Kamis (7/5) sebagaimana dikutip dari Antara.

Berkaitan hal tersebut, Budi meyakini pengadaan alat skrining bakal lebih mudah ketimbang saat pandemi Covid-19 lalu. Hanya saja, reagen yang diperlukan bakal berbeda.

"Kita beruntung sekarang kan mesin PCR kita sudah banyak. Jadi untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah. Cuman dipastikan reagennya masih khusus," tambah Budi.

Menurut catatan dan rilis dari Kemenkes dan WHO, hantavirus atau virus Hantan merupakan sebuah penyakit langka yang bersifat zoonosis, yakni menyebar melalui hewan. Hantavirus umumnya disebabkan dan dibawa oleh hewan pengerat, seperti tikus dan mencit, dan berasal dari berbagai objek atau lingkungan yang tercemar kotoran mereka.

Hantavirus dinamai demikian karena pertama kali ditemukan di Sungai Hantan, yang terletak di Pyonggang, Korea Selatan pada 1976. Penemu penyakit ini, Dr. Ho Wang-Lee, menemukan berbagai tikus yang menjadi vektor atau penyebar penyakit tersebut di sepanjang pesisir sungai.

Hantavirus terbagi menjadi dua jenis gangguan, yakni HFRS yang menyebabkan demam berdarah sekaligus gangguan ginjal, dan HCPS atau galur Andes yang menyebabkan gangguan pernafasan. WHO menyimpulkan bahwa wabah yang menimpa penumpang MV Hondius merupakan varian HCPS. (edo)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#hantavirus #kemenkes #wabah #kesehatan #Skrining