Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Momentum “Reset” Kesehatan Masyarakat

Muhammad Suaeb • Rabu, 11 Maret 2026 | 10:00 WIB

Nurul Jariyatin, Akademisi kesehatan masyarakat dan Dosen ISTeK ICsada Bojonegoro.
Nurul Jariyatin, Akademisi kesehatan masyarakat dan Dosen ISTeK ICsada Bojonegoro.

 

Oleh:
Nurul Jariyatin
Akademisi kesehatan masyarakat dan Dosen ISTeK ICsada Bojonegoro.

 

MENJELANG waktu berbuka di bulan Ramadan, sudut-sudut kota Bojonegoro selalu berubah menjadi lebih hidup. Warga berbondong-bondong mencari takjil, masjid kembali ramai oleh tarawih dan tadarus, dan suasana kebersamaan terasa lebih kuat dibanding hari-hari biasa.

Namun di balik suasana religius itu, Ramadan sebenarnya menyimpan peluang yang jarang disadari: ia dapat menjadi momentum untuk memperbaiki kesehatan masyarakat. Di tengah meningkatnya penyakit tidak menular, terutama hipertensi, Ramadan bisa menjadi semacam “reset alami” bagi tubuh dan gaya hidup manusia.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro tahun 2024 mencatat sekitar 106 ribu warga hidup dengan hipertensi. Angka ini tentu bukan jumlah kecil.

Hipertensi bahkan sering disebut sebagai silent killer karena kerap tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat memicu penyakit serius seperti stroke dan serangan jantung. Jika tidak dikendalikan, hipertensi bukan hanya menurunkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga meningkatkan beban sistem kesehatan.

Di sinilah Ramadan sebenarnya menghadirkan peluang perubahan. Selama hampir dua belas jam setiap hari, umat Islam menahan makan dan minum. Tubuh dipaksa beradaptasi dengan pola metabolisme yang berbeda dari biasanya.

Jeda makan yang cukup panjang memberi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan penyesuaian metabolik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat membantu menurunkan tekanan darah, memperbaiki sensitivitas insulin, serta meningkatkan efisien metabolisme energi.

Dengan kata lain, puasa Ramadan sebenarnya dapat menjadi intervensi gaya hidup yang sederhana namun menjangkau banyak orang sekaligus. Sayangnya, potensi kesehatan ini sering kali tidak dimanfaatkan secara optimal. Ramadan justru kerap diwarnai oleh kebiasaan yang bertolak belakang dengan tujuan puasa.

Fenomena “balas dendam saat berbuka” masih sangat umum terjadi. Setelah seharian menahan lapar, banyak orang langsung mengonsumsi berbagai makanan tinggi kalori seperti gorengan, minuman manis, atau makanan bersantan.

Jika pola ini terus berlangsung, puasa hanya berubah menjadi pergeseran jam makan, bukan perbaikan pola makan. Padahal esensi puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kesadaran dalam mengonsumsi makanan.

Kita belajar mengenali kebutuhan tubuh, bukan sekadar mengikuti selera. Dalam konsep kesehatan modern, praktik ini dikenal sebagai mindful eating—makan dengan kesadaran.

Ramadan juga memiliki kekuatan lain yang sering luput dari perhatian, yaitu modal sosial masyarakat. Tradisi buka bersama, salat tarawih berjamaah, hingga tadarus menciptakan ruang perjumpaan yang lebih intens antarwarga.

Interaksi sosial semacam ini penting bagi kesehatan masyarakat. Hubungan sosial yang kuat dapat menurunkan tingkat stres, meningkatkan rasa bahagia, serta memperkuat dukungan emosional dalam kehidupan sehari-hari.

Stres yang terkendali memiliki hubungan erat dengan kesehatan jantung dan tekanan darah. Karena itu, Ramadan tidak hanya berdampak pada spiritualitas individu, tetapi juga memperkuat kesehatan masyarakat secara kolektif.

Ramadan seharusnya tidak berhenti sebagai ritual tahunan semata. Ia bisa menjadi momentum untuk memulai kebiasaan hidup yang lebih sehat—mulai dari pola makan yang lebih seimbang, pengendalian stres, hingga penguatan hubungan sosial dalam masyarakat.

Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, Ramadan dapat menjadi titik awal perubahan gaya hidup yang lebih sehat bagi masyarakat Bojonegoro.

Pada akhirnya, puasa tidak hanya mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga. Ia juga mengajarkan disiplin, kesadaran diri, dan kesederhanaan dalam menjalani hidup. Nilai-nilai inilah yang sebenarnya dapat menjadi kunci untuk melakukan “reset” kesehatan masyarakat. (*)

 

 

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#reset #ramadan #metabolisme #makan #kesehatan #puasa #Gaya Hidup #takjil #tubuh #Makanan