Oleh:
Maretha Hamida
Dosen S-1 Gizi STIKes Muhammadiyah Bojonegoro
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga memberi kesempatan tubuh melakukan “reset metabolik”. Dalam 6–8 jam pertama setelah sahur, tubuh masih menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama, sementara sebagian lainnya disimpan sebagai glikogen di hati dan otot.
Ketika cadangan gula mulai menurun, tubuh beralih membakar lemak sebagai sumber energi alternatif melalui proses yang dikenal sebagai metabolic switching. Peralihan ini membuat metabolisme menjadi lebih fleksibel dan efisien dalam memanfaatkan energi. Jika dijalani dengan pola makan yang tepat, fase ini dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan.
Pada kondisi puasa yang terkontrol, sensitivitas insulin cenderung meningkat sehingga kadar gula darah lebih stabil. Stabilitas ini membantu mencegah lonjakan dan penurunan gula darah yang drastis yang sering menyebabkan rasa lemas atau mengantuk.
Oleh karena itu, kualitas sahur memegang peranan penting dalam menjaga energi sepanjang hari. Konsumsi karbohidrat kompleks, protein, dan serat tinggi dapat memperlambat pelepasan glukosa ke dalam darah serta mempertahankan rasa kenyang lebih lama. Sebaliknya, makanan tinggi gula sederhana justru membuat energi cepat habis dan memicu rasa lapar lebih awal.
Konsep functional fasting menekankan pentingnya memilih pangan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memberi manfaat fisiologis tambahan. Pangan seperti beras merah, bekatul, tempe, sayuran hijau, serta buah kaya antioksidan membantu menjaga keseimbangan metabolik selama Ramadhan. Kandungan serat mendukung kesehatan pencernaan dan kontrol gula darah, sementara senyawa bioaktif seperti fenolik dan antioksidan membantu menekan stres oksidatif dalam tubuh.
Berbuka pun sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tubuh dapat beradaptasi kembali tanpa lonjakan gula darah berlebihan. Dengan strategi ini, puasa tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga menjadi cara cerdas untuk mengoptimalkan kesehatan metabolisme secara alami. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana