Oleh:
dr. Alvi Chomariyati, Sp.PD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo / Anggota IDI Bojonegoro
SETIAP memasuki bulan Ramadan, pertanyaan yang sering muncul di ruang praktik adalah: “Dok, apakah puasa aman untuk lambung?” Kekhawatiran ini wajar, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat maag, gastritis, atau tukak lambung. Secara medis, puasa justru dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan lambung.
Dalam kondisi normal, lambung memproduksi asam yang membantu proses pencernaan dan membunuh kuman. Masalah muncul bukan semata karena asam lambung, melainkan karena ketidakseimbangan antara faktor agresif (asam, pepsin, infeksi bakteri) dan faktor protektif (lapisan mukus lambung).
Gaya hidup modern: jadwal makan yang tidak menentu, konsumsi kopi berlebihan, makanan pedas dan berlemak, serta tekanan psikologis yang tinggi menjadi penyebab utama keluhan dispepsia.
Saat berpuasa, tubuh mengalami fase adaptasi metabolik. Produksi asam lambung tetap ada, pada individu sehat, lapisan pelindung lambung mampu menjaga keseimbangan tersebut. Justru dengan jadwal makan yang teratur, (sahur dan berbuka) lambung memiliki waktu istirahat dari stimulasi makanan sepanjang hari.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa intermiten dapat memperbaiki sensitivitas insulin, mengurangi inflamasi sistemik, serta memberi kesempatan sistem pencernaan melakukan proses pemulihan sel (cellular repair). Hal ini berpotensi menurunkan iritasi akibat pola makan yang sebelumnya tidak terkontrol. Namun, pada individu dengan tukak lambung aktif atau perdarahan saluran cerna, puasa tentu perlu pertimbangan khusus dan konsultasi dokter.
Istilah “maag” di masyarakat sering merujuk pada dispepsia atau gastritis ringan. Pada kasus ringan hingga sedang yang stabil, puasa umumnya tetap dapat dijalankan dengan beberapa catatan: Jangan melewatkan sahur. Sahur membantu menstabilkan produksi asam lambung.
Hindari makan berlebihan dan langsung mengonsumsi makanan pedas atau gorengan saat berbuka. Batasi kopi dan minuman bersoda. Kelola stres dan istirahat cukup. Minum obat sesuai anjuran dokter. Sebaliknya, bila muncul muntah darah, tinja hitam, nyeri hebat, atau penurunan berat badan drastis, puasa sebaiknya dihentikan dan segera mencari pertolongan medis.
Sebagai dokter spesialis penyakit dalam, saya selalu menekankan bahwa keputusan berpuasa bersifat individual. Tidak semua pasien sama. Evaluasi klinis, riwayat penyakit, serta terapi yang sedang dijalani harus menjadi dasar pertimbangan. Bagi mayoritas individu dengan gangguan lambung ringan dan terkontrol, puasa aman dan bahkan bermanfaat bila dijalankan dengan pola makan yang bijak. Namun pada kasus berat atau komplikasi, kesehatan tetap menjadi prioritas utama.
Pada akhirnya, puasa yang dijalankan dengan ilmu, disiplin, dan keseimbangan justru dapat menjadi momentum memperbaiki gaya hidup. Lambung tidak membutuhkan makan terus-menerus, tetapi membutuhkan keteraturan. Semoga Ramadan menjadi waktu bukan hanya untuk menyucikan jiwa, tetapi juga menyehatkan tubuh. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana