RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Munculnya isu super flu di Indonesia memicu kekhawatiran publik, bahkan tak sedikit yang mempertanyakannya sebagai potensi “Covid-19 berikutnya”.
Kekhawatiran tersebut wajar, mengingat pengalaman pandemi global yang masih membekas.
Namun, otoritas kesehatan menegaskan bahwa secara ilmiah, karakter Influenza A(H3N2) subclade K sangat berbeda dari virus penyebab Covid-19.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan bahwa hingga kini tidak ada indikator epidemiologis yang mengarah pada risiko pandemi baru.
Mengapa Subclade K Tidak Disamakan dengan Covid-19?
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menjelaskan bahwa Influenza A(H3N2) subclade K merupakan bagian dari virus influenza yang telah lama dikenal, dipantau, dan ditangani oleh sistem kesehatan global.
Berbeda dengan SARS-CoV-2 yang muncul sebagai virus baru (novel virus) pada 2019, subclade K berada dalam keluarga influenza A(H3) yang telah bersirkulasi selama puluhan tahun.
“Tidak ditemukan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul masih serupa dengan flu musiman,” ujar dr. Prima, dikutip dari kemkes.go.id.
Secara klinis, pasien umumnya mengalami demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sakit kepala—tanpa pola komplikasi baru yang agresif.
Dari Sudut Epidemiologi: Virus Lama, Sistem Sudah Siap
Secara epidemiologis, pandemi umumnya dipicu oleh tiga faktor utama: virus baru, populasi tanpa imunitas, dan peningkatan keparahan yang signifikan. Pada subclade K, ketiga faktor tersebut tidak terpenuhi.
Virus ini telah terdeteksi dan dimasukkan dalam sistem surveilans WHO sejak Agustus 2025. Selain itu, vaksin influenza tahunan yang tersedia saat ini masih efektif menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian.
Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, menegaskan bahwa seluruh varian yang ditemukan di Indonesia bukan virus baru dan telah dikenal secara global.
“Tidak ada indikasi peningkatan keganasan dibandingkan influenza lainnya,” katanya, dilansir dari Antara.
Tren Global Justru Menurun
Secara global, peningkatan kasus influenza A(H3) memang terpantau di Amerika Serikat sejak memasuki musim dingin 2025. Namun, di kawasan Asia—termasuk Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Thailand—tren kasus influenza dalam dua bulan terakhir justru menurun, meskipun subclade K menjadi varian dominan.
Di Indonesia sendiri, hasil surveilans menunjukkan tren kasus influenza nasional juga menurun. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus subclade K di delapan provinsi, dengan mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan anak-anak.
Waspada Tanpa Panik
Meski tidak berpotensi menjadi pandemi seperti Covid-19, Kemenkes tetap mengingatkan bahwa influenza bukan penyakit sepele, terutama bagi kelompok dengan daya tahan tubuh lemah.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, melakukan vaksinasi influenza tahunan, serta bertanggung jawab terhadap kesehatan diri dan lingkungan sekitar.
Penggunaan masker saat sakit, etika batuk, dan membatasi aktivitas di luar rumah ketika mengalami gejala flu dinilai sebagai langkah penting untuk mencegah penularan.
Pelajaran dari Pandemi
Pengalaman Covid-19 mengajarkan satu hal krusial: kewaspadaan harus dibangun di atas data, bukan ketakutan. Dalam konteks Influenza A(H3N2) subclade K, sistem kesehatan Indonesia dinilai berada dalam posisi yang jauh lebih siap—baik dari sisi surveilans, layanan medis, maupun literasi publik.
Alih-alih menjadi “Covid-19 berikutnya”, kemunculan subclade K lebih tepat dibaca sebagai pengingat bahwa ancaman penyakit menular selalu ada, tetapi bisa dikendalikan dengan kesiapan, transparansi informasi, dan kedewasaan publik dalam menyikapinya. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari