Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Bukan Cuma Gula, Mengapa Garam dan Lemak Sama Berbahayanya bagi Diabetes

Hakam Alghivari • Rabu, 24 Desember 2025 | 20:40 WIB

 

Ilustrasi makanan tinggi garam.
Ilustrasi makanan tinggi garam.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Selama ini, diabetes kerap dipersepsikan sebagai penyakit yang semata-mata disebabkan oleh konsumsi gula berlebihan.

Tak sedikit orang merasa aman selama tidak mengonsumsi makanan manis, meski tetap rutin menyantap gorengan, makanan asin, atau daging berlemak.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa garam dan lemak memiliki peran yang sama berbahayanya dalam memicu dan memperburuk diabetes, khususnya Diabetes Melitus Tipe 2.

Diabetes bukan hanya soal kadar gula darah, melainkan gangguan metabolik kompleks yang berkaitan erat dengan tekanan darah, kolesterol, dan peradangan kronis. Di titik inilah peran garam dan lemak menjadi krusial.

Diabetes dan Sindrom Metabolik

Dalam literatur medis, Diabetes Melitus Tipe 2 sering kali muncul sebagai bagian dari sindrom metabolik, yaitu kumpulan kondisi yang mencakup obesitas abdominal, hipertensi, kadar gula darah tinggi, serta gangguan lemak darah.

Jurnal kesehatan mencatat bahwa individu dengan tekanan darah tinggi dan kolesterol abnormal memiliki risiko jauh lebih besar mengalami diabetes dibanding mereka yang hanya terpapar gula tinggi (Hanifah et al., 2021).

Artinya, membatasi gula saja tidak cukup jika asupan garam dan lemak tetap berlebihan.

Garam: Pemicu Tekanan Darah dan Resistensi Insulin

Garam atau natrium selama ini identik dengan hipertensi. Namun, dampaknya terhadap diabetes sering luput dari perhatian. Asupan natrium berlebih terbukti meningkatkan tekanan darah, memperberat kerja jantung, dan memicu peradangan sistemik.

Kondisi ini berkontribusi pada penurunan sensitivitas insulin, yakni keadaan ketika sel tubuh tidak lagi merespons insulin secara optimal.

Beberapa studi di bidang gizi dan kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa konsumsi natrium tinggi berkorelasi dengan peningkatan risiko resistensi insulin, terutama pada individu dengan kelebihan berat badan. Dalam jangka panjang, kombinasi hipertensi dan resistensi insulin menjadi pintu masuk utama diabetes tipe 2.

Baca Juga: Tips Menjaga Kebugaran Pria Dewasa agar Tetap Sehat, Kuat, dan Produktif

Lemak Jenuh dan Lemak Trans, Musuh Ganda bagi Diabetes

Selain garam, lemak jenuh dan lemak trans memiliki peran besar dalam perkembangan diabetes. Lemak jenis ini banyak ditemukan pada gorengan, daging olahan, makanan cepat saji, serta produk susu tinggi lemak.

Penelitian menunjukkan bahwa asupan lemak jenuh berlebih dapat menyebabkan penumpukan lemak di jaringan otot dan hati, yang menghambat kerja insulin.

Sementara itu, lemak trans tidak hanya meningkatkan kolesterol jahat (LDL), tetapi juga memperparah peradangan dan meningkatkan risiko penyakit jantung, komplikasi yang kerap menyertai diabetes.

Kondisi ini menjelaskan mengapa penderita diabetes sering kali juga mengalami penyakit jantung dan hipertensi secara bersamaan.

Mengapa Diabetes Jarang Datang Sendiri

Data epidemiologi menunjukkan bahwa diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung koroner sering muncul sebagai satu paket. Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak menjadi akar masalah yang sama. Ketika tubuh terus-menerus terpapar asupan tersebut, sistem metabolisme kehilangan keseimbangannya.

Gula memicu lonjakan kadar glukosa darah, garam meningkatkan tekanan darah, sementara lemak jenuh memperburuk profil kolesterol. Ketiganya bekerja secara simultan, mempercepat kerusakan pembuluh darah dan fungsi metabolik tubuh.

Mengubah Cara Pandang terhadap Pola Makan

Para ahli gizi menekankan pentingnya melihat diabetes secara lebih utuh. Pencegahan diabetes tidak cukup dengan mengurangi makanan manis, tetapi juga menuntut pengendalian asupan garam dan lemak.

Pola makan seimbang dengan membatasi makanan olahan, mengurangi gorengan, memilih sumber lemak sehat seperti ikan dan kacang-kacangan, serta memperbanyak sayur dan serat terbukti efektif menurunkan risiko diabetes sekaligus penyakit penyertanya.

Diabetes Melitus Tipe 2 bukan hanya persoalan gula darah. Garam dan lemak memiliki kontribusi yang sama besar dalam merusak sistem metabolik tubuh. Persepsi sempit yang hanya menyalahkan gula berpotensi membuat upaya pencegahan menjadi tidak efektif.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, perubahan pola makan secara menyeluruh menjadi kunci utama. Mengendalikan gula, garam, dan lemak secara bersamaan bukan sekadar anjuran medis, melainkan langkah strategis untuk menekan laju penyakit kronis yang kian mengkhawatirkan. (kam/bgs)

 

Editor : Hakam Alghivari
#Garam #diabetes #gula #lemak #Berbahaya #Makanan