Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Tiga Pasien DBD di Bojonegoro Meninggal Dunia: Mulai Januari hingga 12 Desember Tercatat 335 Kasus

Yana Dwi Kurniya Wati • Selasa, 16 Desember 2025 | 16:20 WIB

 

BUKAN PENCEGAHAN: Petugas melakukan pengasapan dnegan fogging di permukiman, tahun ini dinkes mencatat 335 kaus DBD, tiga di antaranya meninggal dunia.
BUKAN PENCEGAHAN: Petugas melakukan pengasapan dnegan fogging di permukiman, tahun ini dinkes mencatat 335 kaus DBD, tiga di antaranya meninggal dunia.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Kabupaten Bojonegoro masih belum terbebas dari penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Berdasar data dinas kesehatan (dinkes), tren kasus tahun ini fluktuatif setiap bulannya. Per 12 Desember tercatat sebanyak 335 kasus DBD, tiga di antaranya meninggal dunia.

Pada Januari terdapat 53 kasus; Februari 48 kasus; Maret 18 kasus; April 30 kasus; dan Mei sejumlah 44 kasus. Kemudian, Juni turun menjadi 27 kasus; Juli 25 kasus; Agustus 26 kasus; September 18 kasus; Oktober 23 kasus; November 18 kasus; dan lima kasus per 12 Desember.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bojonegoro, Fajar Respati mengatakan, tren kasus DBD mengalami penurunan dibanding tahun lalu.

Di 2024 kejadian kasus DBD sebanyak 635 kasus. Klaimnya, ini terjadi karena upaya PSN 3M Plus pada saat Jumat bersih dan pembagian larvasida.

Juga, karena penerbitan Surat Edaran (SE) Bupati Bojonegoro Nomor: 400.7.9.2/2316/412.202/2025 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus DBD pada Musim Pancaroba.

Serta, SE Bupati Bojonegoro Nomor: 400.7.9.2/2652/412.202/2025 tentang Pencegahan dan Pengendalian Kasus Infeksi DBD di Bojonegoro.

Perempuan akrab disapa Fajar itu melanjutkan, DBD bisa terjadi sepanjang tahun. Sebab, nyamuk Aedes Aegypti masih ada.

Namun, pencegahan dan pengendalian tetap bisa dilakukan masyarakat. "Kasus DBD banyak terjadi ketika musim penghujan. Pada musim ini banyak tempat berupa genangan air untuk nyamuk Aedes Aegypti bertelur dan berkembang biak," jelasnya.

Sehingga, tutur Fajar, masyarakat harus tetap waspada dengan memberantas tempat berkembang biak nyamuk penyebab. Agar siklus hidup nyamuk terputus. "Dari telur hingga nyamuk dewasa," ujar perempuan asal Kecamatan Padangan itu. (yna/msu)

Editor : Bhagas Dani Purwoko
#Meninggal Dunia #pasien DBD #kesehatan #Deman berdarah #dinkes aceh #Kasus #fogging