RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Penyakit menular tuberkulosis (TBC) yang menyerang paru-paru manusia masih membayangi sejumlah daerah di Indonesia.
Khususnya wilayah dengan beban kasus tinggi, termasuk Bojonegoro. Ini menjadi pekerjaan rumah (PR) kepala daerah untuk lebih memerhatikan.
Indonesia menempati kasus tertinggi kedua dunia setelah India berdasar perkiraan jumlah Global TB Report 2024. Beban kasus diperkirakan mencapai 1,09 juta jiwa dengan angka kematian sebesar 125 ribu jiwa.
Setara 14 kematian per jam. Sementara, berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, per Oktober lalu ditemukan sebanyak 2.366 kasus TBC.
Menurut Kepala Dinkes Bojonegoro Ninik Susmiati, total kasus setara 78 persen dari penemuan kasus ditargetkan kementerian kesehatan (kemenkes), yakni sekitar 3.000 kasus.
Sedangkan, masyarakat yang mulai pengobatan sebanyak 2.140 kasus atau 90 persen. Dengan angka keberhasilan pengobatan (success rate) 2.308 kasus atau 98 persen.
"Selain itu, dilaksanakan tracing atau investigasi kontak sebanyak 1.234 kontak serumah dari pasien TBC. Telah diberikan terapi pencegahan," katanya saat kampanye di car free day (CFD) di Alun-Alun Bojonegoro itu.
Ninik menyampaikan, kegiatan tersebut didasari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 67 Tahun 2021 tentang Percepatan Penanggulangan TBC. Menjadi program prioritas di sejumlah provinsi dengan beban TBC tinggi.
Meliputi Sumatera Utara, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Sulawesi Selatan.
"Serentak di 264 kabupaten/kota beban TBC tinggi, kami menerima arahan ini melalui radiogram," bebernya dalam kampanye temukan dan obati sampai sembuh (TOSS) TBC pada Minggu (9/11/2025) pagi. (yna/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko