RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora mencatat hingga September ini, terdeteksi sebanyak 1.144 warga Blora positif menderita penyakit tuberkulosis (TBC). Jumlah tersebut merata terdapat di 16 kecamatan. Untuk itu, perlu langkah kolaboratif untuk mengurangi penderita penyakit tersebut.
Sekretaris Dinkes Blora, Nur Betsia Bertawati mengatakan, sebelumnya telah dilaksanakan monev untuk meninjau kembali pelaksanaan rencana aksi daerah (RAD) TBC yang telah dijalankan. Serta mengevaluasi capaian dan mengidentifikasi tantangan dan kendala di lapangan.
Selain itu, monev RAD TBC juga menjadi wadah koordinasi antar sektor, guna memperkuat kolaborasi dan sinergi dalam upaya percepatan eliminasi TBC di Kabupaten Blora.
“Pentingnya komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan, baik dari sektor kesehatan maupun non-kesehatan, dalam memerangi TBC yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat,” jelasnya.
Ia menyebut, program ini merupakan bagian dari program Presiden RI, Prabowo Subianto, yang mana harus ada penurunan 80 persen se-Indonesia.
“Penanggulangan TBC tidak bisa dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan lintas sektor agar upaya kita lebih terarah dan berdampak nyata di masyarakat. Harapannya dari kemungkinan yang tertular, kita mencari bersama-sama agar tidak banyak yang tertular," jelasnya.
Subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Blora, Sutik mengungkapkan, untuk pencegahan penanggulangan TBC dalam satu minggu dievaluasi dari provinsi, dan dari Dinkes Blora sendiri baru sekali dievaluasi.
"Rencana aksi daerah sudah dibuat Tahun 2018, karena adanya penyakit corona kita ulangi kembali untuk penanggulangan kembali. Hingga saat ini sudah ada 1.144 kasus positif TBC yang tersebar di 16 Kecamatan di 12 Puskesmas, mereka, mendapatkan pelayanan kesehatan. Targetnya adalah 1.774," katanya.
Sehingga untuk eliminasi TBC, perlu membuat rencana aksi daerah dan membuat tim percepatan aksi daerah, karena ini merupakan bagian program prioritas utama.
"Penderita TBC rangking kedua sedunia. Untuk menuju eliminasi, perlu adanya penyediaan alat-alat kesehatan, pengobatan, pencegahaan," jelasnya. (luk/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana