RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tidur masih sering dipandang sebagai kemewahan di tengah gaya hidup modern yang serba cepat.
Banyak orang rela mengorbankan jam tidur demi pekerjaan, hiburan, atau sekadar berselancar di media sosial.
Padahal, berbagai penelitian medis terbaru menegaskan bahwa tidur bukan hanya soal istirahat, tetapi fondasi penting bagi kesehatan jantung, otak, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Kurang Tidur dan Risiko Jantung
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur berhubungan langsung dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Sebuah studi kohort terhadap lebih dari 60 ribu orang dewasa di Tiongkok menemukan bahwa tidur kurang dari enam jam per malam meningkatkan risiko penyakit jantung koroner secara signifikan (Lao et al., Journal of Clinical Sleep Medicine, 2018).
Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis besar yang dipublikasikan di Journal of the American Heart Association (2019). Studi tersebut, yang melibatkan lebih dari 3 juta peserta dari 74 penelitian, menyebutkan adanya pola “J-shaped”: baik tidur terlalu singkat maupun terlalu panjang sama-sama meningkatkan risiko kematian akibat penyakit jantung. Dengan kata lain, tidur ideal berada di kisaran tujuh hingga delapan jam per malam.
Bukan Durasi Saja, Kualitas Juga Penting
Kualitas tidur terbukti sama pentingnya dengan durasi. Penelitian terbaru yang dirangkum dalam BMC Medicine (2022) menemukan bahwa kualitas tidur yang buruk—misalnya sering terbangun di malam hari atau insomnia—berkorelasi dengan risiko lebih tinggi terhadap penyakit jantung dan hipertensi.
Bahkan, meta-analisis yang dipublikasikan tahun 2024 di PubMed menggarisbawahi bahwa insomnia meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami serangan jantung atau fibrilasi atrial.
Bukti dari Asia dan Indonesia
Isu ini tidak hanya relevan di negara maju. Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Public Health (2025) oleh tim peneliti Indonesia menemukan bahwa kurang tidur meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 1,2 kali lipat.
Studi ini menganalisis lebih dari 564 ribu responden dari Asia, Eropa, hingga Afrika, memperkuat argumen bahwa tidur singkat adalah ancaman kesehatan global.
Dampak pada Otak dan Fungsi Kognitif
Bukan hanya jantung, otak juga menjadi korban ketika tubuh kekurangan tidur. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di arXiv (2023) menunjukkan bahwa ketidakstabilan kualitas tidur pada orang lanjut usia berhubungan dengan penurunan fungsi kognitif. Mereka yang tidurnya sering terputus-putus atau tidak efisien memiliki skor lebih rendah dalam tes memori dan kecepatan berpikir.
Hal ini sejalan dengan temuan lain bahwa tidur berperan penting dalam proses consolidation memory—penguatan ingatan jangka panjang. Artinya, gangguan tidur yang terjadi berulang kali bisa mempercepat penurunan daya ingat, bahkan memicu risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Tidur sebagai Investasi Kesehatan
Melihat bukti-bukti tersebut, jelas bahwa tidur bukan sekadar aktivitas pasif, melainkan proses biologis penting yang melindungi tubuh dari berbagai penyakit kronis. “Tidur cukup dan berkualitas adalah investasi kesehatan jangka panjang,” tulis peneliti dari Journal of Clinical Sleep Medicine.
Untuk itu, pola tidur yang konsisten, kebiasaan menghindari kafein atau layar gawai sebelum tidur, serta menjaga lingkungan kamar tetap gelap dan tenang bisa menjadi langkah sederhana dengan dampak luar biasa.
Tidur adalah “obat ajaib” yang kerap diremehkan. Kurang tidur atau kualitas tidur buruk terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung, merusak fungsi otak, hingga menurunkan kualitas hidup. Dengan tidur yang cukup—sekitar 7–8 jam per malam—dan berkualitas, tubuh tidak hanya lebih segar, tetapi juga terlindungi dari ancaman penyakit serius.
Dalam dunia yang terus menuntut produktivitas tanpa henti, meluangkan waktu untuk tidur adalah bentuk perlawanan sekaligus perawatan diri yang paling sederhana.
Editor : Hakam Alghivari