Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Benarkah Daun Stevia Aman? Mengupas Bukti Ilmiah Pemanis Alami Pengganti Gula

Hakam Alghivari • Selasa, 16 September 2025 | 03:00 WIB

 

Daun stevia punya rasa manis yang khas, cocok sebagai pengganti gula.
Daun stevia punya rasa manis yang khas, cocok sebagai pengganti gula.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Stevia rebaudiana adalah tanaman yang berasal dari Amerika Selatan, khususnya Paraguay, yang sudah lama digunakan masyarakat setempat sebagai pemanis tradisional.

Daunnya mengandung senyawa aktif bernama steviol glycosides, terutama stevioside dan rebaudioside. Senyawa inilah yang memberi rasa manis hingga 200–300 kali lebih kuat dibandingkan sukrosa. Karena sifatnya yang hampir bebas kalori, stevia kemudian dipandang sebagai alternatif pengganti gula yang menarik.

Popularitas stevia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, seiring dengan kekhawatiran global terhadap konsumsi gula berlebih yang dikaitkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular.

Produk berbasis stevia kini tersedia luas di pasar, dari minuman rendah kalori, yogurt, hingga pemanis meja. Menurut laporan World Health Organization (WHO) melalui JECFA Database (2024), steviol glycosides yang dimurnikan sudah mendapat penilaian keamanan yang ketat dan digunakan di lebih dari 130 negara.

Namun, tidak semua produk berlabel “stevia” sama. Badan regulasi, termasuk U.S. Food and Drug Administration (FDA), menegaskan bahwa hanya ekstrak murni dengan kemurnian minimal 95% steviol glycosides yang diakui sebagai aman (GRAS). Sementara daun kering atau ekstrak kasar belum memiliki status yang sama. Hal ini penting diperhatikan konsumen agar tidak salah kaprah dalam memilih produk.

Regulasi dan Standar Keamanan Internasional

Penilaian keamanan stevia dilakukan secara berulang oleh berbagai badan internasional. European Food Safety Authority (EFSA) dalam EFSA Journal (2024) menyimpulkan bahwa konsumsi steviol glycosides dalam batas Acceptable Daily Intake (ADI) sebesar 4 mg per kilogram berat badan per hari (dihitung sebagai steviol equivalents) aman untuk populasi umum. Angka ini menjadi rujukan utama di Eropa dan banyak negara lain.

Di Amerika Serikat, FDA telah menerima sejumlah pemberitahuan GRAS untuk bentuk steviol glycosides murni, termasuk rebaudioside A. Namun, FDA menolak memberikan status GRAS pada daun stevia utuh atau ekstrak yang tidak dimurnikan, karena data toksikologi dan uji klinisnya dinilai belum cukup kuat. Artinya, konsumen tetap perlu membaca label secara teliti dan memastikan produk yang digunakan memang sudah melewati penilaian keamanan resmi.

Meski dinilai aman dalam batas ADI, sejumlah laporan menyebutkan efek samping ringan dapat muncul, terutama bila dikonsumsi berlebihan. Studi yang dirangkum EFSA melaporkan sebagian kecil konsumen mengalami rasa pahit sisa di mulut, mual, atau gangguan pencernaan. Kendati demikian, gejala ini jarang terjadi dan umumnya terkait dengan konsumsi dalam jumlah besar atau kombinasi dengan aditif lain seperti polialkohol.

Bukti Klinis Stevia pada Tekanan Darah

Salah satu aspek yang sering diteliti adalah hubungan stevia dengan tekanan darah. Sebuah penelitian di Clinical Therapeutics (2003) terhadap pasien hipertensi ringan hingga sedang menunjukkan bahwa konsumsi stevioside selama satu tahun dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik dibandingkan dengan kelompok placebo. Hasil ini mendorong harapan bahwa stevia bisa berperan sebagai terapi tambahan bagi penderita hipertensi.

Namun, penelitian serupa belum konsisten di semua populasi. Beberapa uji klinis skala kecil lain yang dikaji dalam meta-analisis oleh PMC (2020) menemukan adanya efek penurunan tekanan darah, tetapi besarnya pengaruh berbeda-beda tergantung dosis dan kondisi awal pasien. Konsensus ilmiah saat ini menilai potensi manfaatnya ada, tetapi masih memerlukan uji lebih besar dan jangka panjang untuk memastikan efeknya.

Pakar kardiologi mengingatkan, meski ada bukti awal yang positif, stevia tidak boleh dianggap sebagai pengganti obat antihipertensi. Posisi yang lebih tepat adalah sebagai pemanis alternatif yang tidak memperburuk kondisi pasien, dan berpotensi memberi manfaat tambahan bila dikonsumsi sesuai takaran.

Pengaruh Stevia terhadap Gula Darah dan Diabetes

Bagi penderita diabetes, isu utama adalah apakah stevia benar-benar aman dan bermanfaat untuk kontrol glikemik. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Appetite (2010), konsumsi makanan yang mengandung stevia tidak meningkatkan kadar glukosa darah maupun insulin pada individu sehat maupun pasien diabetes. Hal ini berbeda dengan gula biasa yang jelas menaikkan kadar glukosa pasca makan.

Studi lain di Journal of Medicinal Food (2020) menguji efek stevia pada pasien diabetes tipe 2. Hasilnya, stevia dapat menjadi pemanis pengganti yang aman tanpa memengaruhi kontrol glikemik dalam penggunaan jangka pendek. Meski begitu, sebagian besar penelitian berlangsung hanya beberapa minggu hingga bulan, sehingga manfaat jangka panjang masih perlu dievaluasi lebih lanjut.

Menurut tinjauan di Nutrients (2020), efek stevia bisa lebih jelas terlihat pada kelompok dengan risiko metabolik tinggi, misalnya pasien obesitas atau diabetes. Namun karena variasi hasil antar studi masih besar, penulis menekankan pentingnya uji klinis terkontrol dengan durasi panjang sebelum kesimpulan definitif bisa diambil.

Dampak pada Mikrobiota Usus

Kekhawatiran lain yang sempat muncul adalah potensi perubahan komposisi mikrobiota usus akibat konsumsi stevia. Hal ini wajar, mengingat steviol glycosides tidak dicerna di usus halus, melainkan difermentasi oleh bakteri di usus besar.

Penelitian terbaru yang diterbitkan di Nutrients (2024) melakukan intervensi 12 minggu pada manusia. Hasilnya, konsumsi stevia dalam batas wajar tidak menimbulkan perubahan signifikan pada komposisi mikrobiota. Temuan ini memberikan gambaran menenangkan bahwa konsumsi rutin tidak serta-merta mengganggu keseimbangan flora usus.

Meski demikian, studi in vitro dan pada hewan menunjukkan adanya kemungkinan efek lain, seperti peningkatan aktivitas antioksidan atau modulasi metabolisme lemak. Perbedaan hasil antara penelitian laboratorium dan studi klinis pada manusia menegaskan bahwa kajian lebih lanjut tetap diperlukan, khususnya terkait konsumsi jangka panjang.

Bagaimana Menggunakannya Secara Aman?

Berdasarkan panduan regulasi, cara paling aman menggunakan stevia adalah memilih produk dengan label jelas yang menyebutkan “purified steviol glycosides (≥95%)”. Produk semacam ini sudah mendapat izin edar di banyak yurisdiksi, termasuk Eropa, Amerika Serikat, dan Asia. Konsumen sebaiknya tidak menyamakan daun kering atau ekstrak kasar dengan produk yang sudah dimurnikan.

Kedua, gunakan stevia sebagai pengganti sebagian gula, bukan sebagai “obat ajaib”. Menurut rekomendasi EFSA Journal (2024), konsumsi dalam batas ADI tidak menimbulkan risiko kesehatan. Namun, pola makan keseluruhan tetap harus dijaga seimbang, dengan pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak jenuh.

Ketiga, bagi individu dengan kondisi medis tertentu—seperti diabetes atau hipertensi—disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menjadikan stevia sebagai bagian rutin diet. Meski data klinis sejauh ini menunjukkan keamanan yang baik, kombinasi dengan obat-obatan tertentu bisa menimbulkan interaksi yang tidak diinginkan.

Stevia menawarkan alternatif pemanis yang menarik di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan bahaya konsumsi gula berlebih. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa stevia, khususnya dalam bentuk steviol glycosides yang dimurnikan, aman digunakan dalam batasan yang ditetapkan oleh badan regulasi internasional. Penelitian juga memberi indikasi potensi manfaat bagi tekanan darah dan kontrol gula darah, meski konsensus jangka panjang masih memerlukan studi lebih lanjut.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, stevia bukanlah solusi tunggal, melainkan salah satu strategi untuk membantu mengurangi asupan gula. Dengan pemilihan produk yang tepat dan konsumsi yang wajar, stevia dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#manfaat #daun stevia #bukti ilmiah #pengganti gula