RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Temayang berhasil melangkah ke babak tiga verifikasi lapangan (verlap) dalam ajang Bojonegoro Innovative Award (BIA).
BIA merupakan lomba inovasi bergengsi yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Verlap dilakukan, Senin (26/8). Kolaborasi inovasi ini dilakukan Puskesmas Temayang bersama kecamatan setempat dalam upaya memberantas penyakit tuberkulosis (TBC).
Kepala Puskesmas Temayang Bayu Linuwih menyampaikan, inovasi ini berjudul Peltu Tatang, akronim dari Pelayanan Terpadu Tuberkulosis Puskesmas Temayang.
Kolaborasi ini diperkuat dengan Surat Keputusan (SK) Camat Temayang tentang Pemberantasan Penyakit TBC.
Menurut Bayu, sapaan akrabnya, mengatakan, SK ini penting agar diketahui dan dilaksanakan kepala desa (kades) hingga tokoh masyarakat.
Menyebarluaskan bahaya penyakit TBC yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang mudah menular melalui droplet infeksi.
Yakni, penularan lewat udara saat penderita bersin dan batuk. Gejalanya batuk lebih dua minggu, keringat malam, dan penurunan berat badan.
Bayu menuturkan, inovasi puskesmas dipimpinnya menarik perhatian tim juri BIA dalam memberantas TBC.
Sebab, dikemas menarik dengan penamaan yang unik dan mudah diingat. Dia menjelaskan, ada empat jenis inovasi dalam Peltu Tatang.
Baca Juga: Begini Asal-Usul Nama Nama Desa Bakulan di Kecamatan Temayang, Kabupaten Bojonegoro
Meliputi, pelayanan terpadu pasien batuk lebih dua minggu di tes cepat molekuler (TCM), pelayanan terpadu ayo kita pantau minum obat TBC melalui WhatsApp (WA), pelayanan terpadu deteksi dini keluhan batuk bersama kader, dan pelayanan terpadu stop TBC koordinasi lintas program.
Dalam pemeriksaan TBC, lanjut Bayu, petugas kesehatan melakukan konseling, pemeriksaan fisik, dan membantu penegakan diagnosis.
Jika sebelumnya, menggunakan pengecatan ziel nelsen dan dibantu alat ronsen dengan merujuk pasien ke rumah sakit (RS), kini Puskesmas Temayang sudah menyediakan dan menggunakan alat TCM yang mampu mendeteksi bakteri TBC dalam waktu satu jam. Kemudian, dilanjutkan menggunakan ziel nelsen.
"Sehingga menguntungkan masyarakat karena cukup diperiksa, diawasi, dan diobati di puskesmas maupun petugas di desa. Kelebihan inovasi ini juga menghindari overload (penumpukan) pasien di RS," tuturnya.
Bayu menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemkab, camat setempat, kades dan perangkat desa (perades), hingga kader kesehatan.
"Kami tidak menyangka karena inovasi Peltu Tatang yang merupakan program prioritas nasional dan pemkab mendapat kunjungan lapangan dari tim BIA," ucapnya.
Camat Temayang Mochamad Basuki turut hadir memberi dukungan penuh dan apresiasi inovasi kolaborasi memberantas TBC di lingkungan masyarakat kecamatan setempat.
Sementara itu, kades kesehatan kecamatan setempat memberi dukungan dan berperan melalui posyandu.
"Melalui SK untuk dilaksanakan di tingkat desa dengan melakukan deteksi dini keluhan batuk lebih dua minggu. Agar segera diperiksa dahak dan tidak menular," tuturnya. (*/yna)
Editor : Bhagas Dani Purwoko