Apa Itu Detachment Syndrome?
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Detachment syndrome secara umum merujuk pada dua kondisi utama dalam psikiatri: depersonalization (merasa terpisah dari diri sendiri) dan derealization (merasa lingkungan sekitar tidak nyata).
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), kondisi ini masuk dalam kategori Dissociative Disorders dan dikenal sebagai Depersonalization/Derealization Disorder (DPDR).
Orang yang mengalami detachment mungkin mengatakan bahwa mereka merasa seperti sedang menonton dirinya sendiri dalam sebuah film. Mereka bisa merespons percakapan atau melakukan aktivitas, tetapi tidak merasa benar-benar “terlibat”.
Gejala ini bisa datang sesekali atau bertahan lama, dan sering dikacaukan dengan gangguan kecemasan, kelelahan ekstrem, bahkan efek dari konsumsi obat tertentu.
Penyebab Umum dan Faktor Pemicu
Beberapa penyebab umum detachment syndrome antara lain:
-
Paparan stres atau trauma berat, seperti kecelakaan, kekerasan, atau kehilangan orang terdekat.
-
Kecemasan berlebih atau serangan panik yang tidak ditangani dengan baik.
-
Kurang tidur kronis, yang dapat menyebabkan otak bekerja dalam mode “auto-pilot”.
-
Penggunaan zat tertentu, termasuk narkoba jenis dissociative (LSD, ketamin), alkohol, atau obat penenang dalam dosis tinggi.
Meski kondisi ini bisa dialami siapa saja, individu dengan riwayat trauma masa kecil, depresi, atau gangguan kepribadian tertentu memiliki risiko lebih tinggi. Bahkan, dalam era digital seperti sekarang, paparan berlebihan terhadap media sosial dan multitasking ekstrem juga disebut sebagai pemicu gangguan pemisahan kesadaran ini.
Gejala-Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala dari detachment syndrome bisa sangat halus dan samar, namun bila terjadi secara konsisten, perlu menjadi perhatian. Beberapa gejala khas di antaranya:
-
Merasa seperti sedang menonton diri sendiri dari luar tubuh.
-
Mengalami waktu sebagai sesuatu yang "lambat" atau "kabur".
-
Tidak merasa terhubung secara emosional dengan orang lain.
-
Kesulitan mengingat percakapan atau kejadian baru-baru ini.
-
Perasaan hampa, seolah tidak memiliki kendali atas pikiran atau tubuh.
Orang yang mengalaminya sering merasa bingung dengan apa yang mereka alami, terutama karena secara fisik mereka sehat dan mampu beraktivitas normal. Hal ini bisa memperburuk isolasi emosional dan meningkatkan risiko gangguan mental lainnya.
Tinjauan Studi dan Penelitian Terkait
Menurut National Alliance on Mental Illness (NAMI), sekitar 2% dari populasi dunia pernah mengalami episode depersonalization atau derealization dalam hidupnya. Studi dari American Journal of Psychiatry juga menemukan bahwa lebih dari 50% orang dewasa pernah mengalami gejala semacam ini, meski hanya sebagian kecil yang berkembang menjadi gangguan kronis.
Dalam studi tahun 2020 oleh UCLA’s Mindful Awareness Research Center, ditemukan bahwa praktik mindfulness secara teratur dapat membantu mengurangi gejala detachment dengan melatih kesadaran penuh terhadap momen sekarang. Hal ini menunjukkan pentingnya penanganan non-medis seperti terapi perilaku kognitif (CBT) atau teknik grounding.
Langkah Penanganan dan Pencegahan
Jika kamu merasa mengalami gejala-gejala detachment, langkah pertama adalah mengenali dan menerima kondisi tersebut, bukan mengabaikannya.
Terapi psikologis, seperti CBT, efektif untuk membantu individu mengenali pola pikir disosiatif dan menggantinya dengan respons yang lebih sehat.
Langkah lain yang bisa dilakukan secara mandiri antara lain:
-
Tidur cukup dan berkualitas.
-
Kurangi stimulasi digital berlebihan, seperti penggunaan media sosial secara impulsif.
-
Lakukan grounding exercise, seperti menyentuh benda nyata atau menyebutkan lima hal yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan secara sadar.
-
Bicara dengan profesional, meskipun hanya sekali konsultasi.
Detachment bukan bentuk kelemahan mental, melainkan cara otak bertahan dari tekanan. Dengan pendekatan yang tepat, seseorang bisa kembali merasa utuh dan terhubung dengan dunia di sekitarnya. (kam)
Editor : Hakam Alghivari