Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Suara Ekstrem Sound Horeg dan Ancaman Kesehatan yang Tak Disadari: Dari Telinga Hingga Mental

Hakam Alghivari • Senin, 21 Juli 2025 | 05:38 WIB
Ilustrasi menutup telinga.
Ilustrasi menutup telinga.

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Fenomena sound horeg kian marak di berbagai wilayah Indonesia. Istilah ini merujuk pada parade atau pawai dengan iring-iringan sound system berukuran besar yang mengeluarkan suara musik dengan volume ekstrem, hingga menyebabkan getaran terasa di tanah dan bangunan sekitar.

Tak jarang, genteng rumah warga melorot akibat getaran frekuensi yang sangat tinggi dari beberapa video yang tersebar. 

Meski dianggap hiburan atau budaya lokal yang meriah, sound horeg menyimpan potensi gangguan serius terhadap kesehatan masyarakat, baik dari sisi fisik maupun mental. Sayangnya, risiko ini kerap diabaikan karena efeknya tak selalu langsung terasa.

Ancaman Serius terhadap Kesehatan Telinga

Salah satu dampak paling nyata dari paparan suara bervolume tinggi adalah risiko gangguan pendengaran. Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batas aman paparan suara adalah 85 desibel (dB) selama maksimal 8 jam per hari.

Namun, suara dari sound system horeg dapat mencapai lebih dari 100–120 dB, bahkan dalam durasi yang panjang, terutama jika parade berlangsung berjam-jam.

Efek dari suara ekstrem ini bisa mengarah pada kondisi yang disebut Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) — kerusakan pada sel-sel rambut halus di dalam koklea telinga akibat paparan bising.

Dalam jangka pendek, seseorang bisa mengalami telinga berdengung (tinnitus), dan dalam jangka panjang berisiko kehilangan pendengaran permanen, terutama pada anak-anak dan lansia yang lebih rentan.

Gangguan Kesehatan Mental dan Stres Akustik

Selain gangguan pada telinga, polusi suara seperti yang ditimbulkan oleh sound horeg juga dapat memicu gangguan mental dan emosional.

Penelitian dari Environmental Health Perspectives menunjukkan bahwa paparan suara keras secara terus-menerus meningkatkan kadar hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam tubuh. Akibatnya, seseorang bisa mengalami:

Kondisi ini dikenal dengan istilah stres akustik, yaitu stres yang timbul karena beban suara berlebihan. Bayangkan tinggal di lingkungan yang selama beberapa malam berturut-turut dipenuhi dengan getaran musik keras bagi sebagian orang, ini bisa memicu gangguan psikologis yang cukup serius.

Efek Tidak Langsung: Gangguan pada Jantung hingga Tekanan Darah

Dalam jangka panjang, polusi suara kronis dapat memicu gangguan fisiologis lain seperti peningkatan tekanan darah, gangguan irama jantung, dan bahkan risiko penyakit jantung koroner.

Studi dari European Heart Journal tahun 2018 mencatat bahwa paparan suara di atas 65 dB secara berkelanjutan berkaitan erat dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, khususnya jika terjadi pada malam hari saat tubuh seharusnya beristirahat.

Bukan hanya bagi peserta parade, tetapi juga masyarakat yang terdampak di sepanjang rute pawai sound horeg termasuk bayi, ibu hamil, lansia, dan penderita hipertensi berada dalam posisi yang rawan mengalami gangguan kesehatan akibat kebisingan ekstrem ini.

Edukasi dan Kesadaran: Solusi yang Harus Dimulai Sekarang

Langkah preventif harus dimulai dari masyarakat tentang risiko kesehatan akibat paparan suara ekstrem. Pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan penggiat budaya lokal perlu duduk bersama mencari alternatif hiburan yang tidak membahayakan kesehatan publik.

Menggunakan alat pengukur desibel, membatasi jam operasional sound system, serta menyediakan jarak aman antara sumber suara dan pemukiman warga dapat menjadi awal solusi.

Bila tidak, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita akan menyaksikan lonjakan kasus gangguan pendengaran dan stres di masyarakat, tanpa menyadari bahwa penyebabnya adalah hiburan yang dianggap wajar. (kam) 

Editor : Hakam Alghivari
#dampak kesehatan #sound horeg #who #gangguan pendengaran #Ekstrem