RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Diabetes melitus adalah salah satu penyakit kronis yang paling banyak diderita di seluruh dunia.
Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 500 juta orang hidup dengan diabetes, dan angka ini diprediksi terus meningkat.
Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi atau menggunakan insulin secara efektif—hormon yang penting untuk mengatur kadar gula dalam darah. Tanpa insulin yang memadai, glukosa akan menumpuk dalam aliran darah dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan saraf hingga komplikasi jantung dan ginjal.
Yang membuat diabetes berbahaya adalah kenyataan bahwa ia sering berkembang secara perlahan dan tanpa gejala mencolok di tahap awal. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda awal sangat penting.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), deteksi dini dapat membantu penderita mengelola penyakit dengan lebih baik dan mencegah komplikasi jangka panjang.
7 Tanda Awal Diabetes yang Perlu Diperhatikan
Penting untuk diingat bahwa gejala diabetes bisa bervariasi antar individu. Munculnya satu atau dua gejala tidak serta-merta berarti seseorang mengidap diabetes. Namun, jika beberapa dari gejala ini terjadi bersamaan dan berlangsung terus-menerus, pemeriksaan medis menjadi sangat dianjurkan.
1. Peningkatan Frekuensi Buang Air Kecil (Poliuria)
Poliuria terjadi ketika kadar glukosa dalam darah meningkat melebihi ambang ginjal. Tubuh akan mencoba membuang kelebihan glukosa ini melalui urine.
Akibatnya, ginjal menyaring lebih banyak cairan dari darah, menyebabkan seseorang lebih sering buang air kecil, terutama di malam hari.
Menurut penjelasan dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), buang air kecil yang berlebihan merupakan gejala khas diabetes tipe 1 maupun tipe 2, dan biasanya menjadi salah satu gejala paling awal yang dirasakan pasien.
2. Rasa Haus Berlebihan (Polidipsi)
Ketika tubuh kehilangan banyak cairan akibat poliuria, ia akan berusaha menyeimbangkan kondisi dengan memicu rasa haus. Ini adalah respons alami dari tubuh untuk mencegah dehidrasi. Namun, pada penderita diabetes, rasa haus ini bisa menjadi ekstrem dan tidak kunjung hilang meskipun sudah minum banyak air.
Studi dalam jurnal Diabetes Spectrum (American Diabetes Association, 2020) menunjukkan bahwa rasa haus berlebih menjadi indikator penting dalam mendiagnosis diabetes dini, terutama bila dikaitkan dengan peningkatan jumlah urine.
3. Peningkatan Nafsu Makan yang Konstan (Polifagia)
Meskipun tubuh mendapatkan cukup makanan, sel tidak bisa menyerap glukosa akibat kurangnya insulin. Hal ini membuat tubuh "merasa" kekurangan energi, dan otak merespons dengan meningkatkan nafsu makan.
Sebuah studi dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa polifagia adalah akibat dari kelaparan seluler, bukan kelaparan sejati. Pasien bisa merasa lapar tak tertahankan hanya beberapa jam setelah makan besar, karena tubuhnya tidak mampu memanfaatkan energi dari makanan.
4. Penurunan Berat Badan Tanpa Sebab yang Jelas
Penurunan berat badan yang cepat dan tidak direncanakan merupakan gejala yang umum pada diabetes tipe 1, dan kadang juga terjadi pada tipe 2. Ketika glukosa tidak bisa masuk ke sel untuk digunakan sebagai energi, tubuh akan mulai memecah lemak dan otot sebagai sumber energi alternatif.
Menurut laman Mayo Clinic, penurunan berat badan hingga 4–5 kg dalam beberapa minggu tanpa perubahan pola makan atau olahraga merupakan red flag dan bisa menjadi gejala awal diabetes yang perlu ditindaklanjuti.
5. Luka yang Sulit Sembuh
Kadar gula darah tinggi bisa merusak pembuluh darah kecil dan memperlambat aliran darah ke area luka. Ini menyebabkan proses penyembuhan menjadi sangat lambat. Selain itu, tingginya gula darah menciptakan lingkungan yang ideal bagi pertumbuhan bakteri, memperburuk infeksi.
Penelitian yang dimuat dalam jurnal Wound Repair and Regeneration (2021) menemukan bahwa pasien diabetes memiliki penurunan signifikan dalam respons imun lokal terhadap luka, serta penurunan produksi kolagen, yang penting dalam pembentukan jaringan baru.
6. Kelelahan dan Lemas Berlebihan
Rasa lelah yang tidak kunjung membaik meski telah cukup istirahat adalah ciri khas lain dari diabetes. Tanpa energi dari glukosa, tubuh akan bekerja lebih keras untuk menjalankan fungsi dasarnya.
Sebuah studi dari Johns Hopkins Medicine menyatakan bahwa kelelahan kronis pada pasien diabetes seringkali disebabkan oleh ketidakseimbangan kadar gula darah, dehidrasi, dan gangguan metabolisme. Hal ini bisa berdampak signifikan pada kualitas hidup dan produktivitas sehari-hari.
7. Penglihatan Kabur
Kadar gula darah tinggi menyebabkan cairan masuk ke dalam lensa mata, yang mengakibatkan lensa membengkak dan berubah bentuk. Ini memengaruhi kemampuan fokus dan menyebabkan penglihatan menjadi buram.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi retinopati diabetik, yaitu kerusakan pembuluh darah di retina mata. Menurut American Academy of Ophthalmology, retinopati diabetik adalah penyebab utama kebutaan pada orang dewasa usia kerja.
Pentingnya Deteksi Dini dan Konsultasi Medis
Deteksi dini sangat krusial karena diabetes sering tidak menunjukkan gejala jelas sampai terjadi kerusakan permanen pada organ. Dengan mengenali gejala sedini mungkin, seseorang bisa menjalani pemeriksaan laboratorium seperti:
-
Tes Gula Darah Puasa
-
Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
-
Tes HbA1c, yang menunjukkan kadar gula darah rata-rata selama 3 bulan terakhir
WebMD merekomendasikan agar siapa pun yang mengalami kombinasi gejala-gejala di atas segera melakukan konsultasi dengan dokter. Diagnosis yang cepat dapat membuka jalan untuk intervensi gaya hidup dan pengobatan yang lebih efektif, sehingga kualitas hidup tetap terjaga dan risiko komplikasi dapat diminimalkan.
Jangan Abaikan Sinyal Tubuh
Tubuh kita sering memberi sinyal ketika ada sesuatu yang tidak beres. Gejala awal diabetes mungkin tampak sepele, tetapi bisa menjadi petunjuk penting untuk kondisi yang lebih serius. Dengan pemahaman yang tepat dan perhatian terhadap sinyal tubuh, Anda dapat mengambil langkah pencegahan yang efektif.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami beberapa gejala di atas secara bersamaan, jangan ragu untuk mencari bantuan medis. Deteksi dini bisa menjadi penyelamat hidup. (kam)
Editor : Hakam Alghivari