RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Saat pikiran terasa penuh, kerjaan menumpuk, dan tenggat waktu menghantui, pernahkah Anda mencoba keluar rumah dan masuk ke area penuh pepohonan? Ada sebuah efek ajaib dari langkah kaki yang membawa tubuh menjauh dari beton dan aspal, menuju rimbun pepohonan dan udara segar.
Berada di tengah hutan bukan hanya soal menikmati pemandangan, tetapi juga memberi kesempatan bagi otak dan tubuh untuk “beristirahat” dari intensitas kota yang tak pernah surut.
Penelitian ilmiah semakin mengungkap bahwa berada di tengah pepohonan memang dapat memberi efek signifikan bagi kesehatan mental.
Sebuah studi dari Environmental Health and Preventive Medicine (Park et al., 2010) menjelaskan bahwa peserta yang menghabiskan waktu 15–30 menit di dalam hutan menunjukkan penurunan signifikan kadar hormon kortisol (hormon stres) dibandingkan mereka yang berada di daerah perkotaan. Bahkan, efek positif ini dapat dirasakan dari hanya satu kali pengalaman di alam.
Berjalan di Hutan dan Efeknya pada Kesehatan Mental
Saat berada di tengah hutan, area prefrontal cortex otak — daerah yang terkait dengan pola berpikir berlebihan, kegelisahan, dan kecemasan — dapat “beristirahat” dari stimulasi kota yang intens. Hal ini dijelaskan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Environmental Health and Preventive Medicine (Park et al., 2010), yang menemukan bahwa peserta yang berjalan di area hutan memiliki tingkat kecemasan dan stres yang lebih rendah dibandingkan dengan peserta yang berjalan di area kota.
Selain itu, efek positif ini juga terkait dengan keberadaan senyawa volatil dari tumbuhan yang disebut phytoncide. Menurut laporan dari Badan Kehutanan Jepang (Forest Agency of Japan), phytoncide dapat membantu menurunkan tingkat stres, memperbaiki kualitas tidur, dan bahkan menguatkan sistem imun.
Forest Bathing: Rahasia Jepang untuk Ketenangan
Konsep ini juga dikenal sebagai shinrin-yoku atau forest bathing, yang mulai diperkenalkan Jepang pada tahun 1982 sebagai metode terapi pencegahan stres.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan di International Journal of Immunopathology and Pharmacology (Li et al., 2009), dijelaskan bahwa partisipasi dalam shinrin-yoku dapat meningkatkan jumlah sel NK (natural killer) dan menurunkan tingkat hormon stres. Efek ini tidak hanya membuat tubuh lebih relaks, tetapi juga membuat sistem imun bekerja lebih efisien.
Alam vs. Hiruk Pikuk Kota: Dua Pola Gelombang Berbeda
Selain efek fisiologis, terdapat juga efek neurologis dari berada di tengah hutan. Penelitian dari University of Melbourne (Lee et al., 2013) mengungkap bahwa suara gemerisik daun dan aliran air dapat merangsang pola gelombang otak alfa — pola terkait dengan relaksasi dan kewaspadaan tenang. Berbeda dengan pola gelombang beta tinggi yang biasa aktif di tengah kota yang penuh distraksi dan hiruk pikuk.
Saat pola alfa ini aktif, otak dapat lebih fokus dan jernih berpikir, memungkinkan seseorang keluar dari pola overthinking atau kecemasan yang biasa muncul dari tekanan pekerjaan maupun beban pribadi.
Baca Juga: Menurut Studi Olahraga Isometrik Adalah Cara Efektif Turunkan Tekanan Darah Tanpa Obat
Tak Sekadar Berjalan, tetapi Berkesadaran
Yang membuat efek berada di hutan semakin kuat adalah kesadaran penuh (mindfulness). Berjalan dengan penuh kesadaran sambil memerhatikan warna daun, pola ranting, atau suara angin dapat membantu pikiran keluar dari perangkap masa lalu maupun kegelisahan soal masa depan.
Hal ini juga dijelaskan dalam sebuah laporan dari Massachusetts General Hospital (Hölzel et al., 2011), yang menyebutkan bahwa latihan kesadaran dapat menurunkan aktivitas amigdala — area otak yang terkait dengan respon stres dan kecemasan.
Alam sebagai Ruang Pemulihan Alami
Saat teknologi membuat manusia terus berada dalam pola kerja dan komunikasi yang tak pernah putus, kebutuhan untuk kembali ke alam bukanlah tren semata, tetapi kebutuhan mendasar bagi kesehatan jiwa dan raga. Berjalan di hutan, merasakan semilir angin, dan memandang rimbunnya pepohonan memberi kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk memulihkan harmoni alaminya.
Seperti dijelaskan dalam berbagai penelitian, termasuk oleh Badan Kehutanan Jepang dan jurnal-jurnal terkait, efek berada di tengah alam bukan hanya soal udara segar, tetapi juga soal memberi kesempatan bagi manusia untuk kembali ke rumah yang paling tua bagi spesies ini — alam itu sendiri. (kam)
Editor : Hakam Alghivari