RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pernah mendapati anak tiba-tiba melontarkan kata kasar yang tak pernah diajarkan? Banyak orang tua merasa terkejut dan cemas ketika anak mereka mulai meniru ucapan-ucapan tak pantas.
Tapi perlu diingat, anak bukan tiba-tiba menjadi “nakal”. Ada proses belajar sosial yang terjadi di balik kebiasaan tersebut.
Dalam dunia psikologi perkembangan, anak-anak sangat ahli dalam mengamati dan meniru. Konsep ini dikenal dalam teori social learning yang diperkenalkan oleh Albert Bandura. Menurut teori ini, anak belajar banyak hal—termasuk bahasa dan perilaku—dari lingkungan sekitarnya melalui observasi dan imitasi.
Artinya, jika anak mendengar kata kasar dari orang tua, teman, atau bahkan dari media digital, besar kemungkinan ia akan menirunya, bahkan tanpa memahami makna sesungguhnya.
Kenapa Anak Meniru Kata-Kata Kasar?
1. Proses Peniruan Alamiah
Anak usia dini berada dalam fase “menyerap” informasi dari sekeliling mereka. Kata-kata kasar yang terdengar mencolok atau sering diulang-ulang akan mudah tersimpan dalam ingatan mereka.
2. Menguji Reaksi Lingkungan
Kadang anak mengatakan kata kasar untuk melihat reaksi orang tua atau orang dewasa. Jika mereka mendapatkan perhatian lebih atau respon emosional (marah, tertawa, dll), maka besar kemungkinan mereka akan mengulangi hal itu.
3. Konten Digital yang Tidak Tersaring
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), anak-anak yang terlalu lama terpapar konten digital tanpa pengawasan cenderung meniru perilaku tidak pantas yang mereka lihat—termasuk penggunaan kata kasar.
Cara Positif Menghadapi Anak yang Meniru Kata Kasar
1. Tetap Tenang dan Jangan Langsung Marah
Hindari membentak atau menghukum anak secara langsung. Reaksi keras justru bisa memperkuat perilaku karena anak merasa mendapatkan atensi.
2. Tanyakan dengan Lembut Asal Usulnya
Misalnya, “Kamu dengar kata itu dari mana, Nak?” Hal ini membuka dialog tanpa menghakimi, sekaligus memberi tahu bahwa kamu peduli terhadap sumber pengaruhnya.
3. Jelaskan Konsekuensi Sosialnya
Beri tahu anak bahwa ada kata-kata yang bisa menyakiti orang lain. Gunakan empati, misalnya: “Kalau kamu bilang begitu ke teman, bisa-bisa dia sedih, lho.”
4. Berikan Alternatif yang Positif
Ganti kata-kata kasar dengan kata lucu atau ekspresi netral. Anak bisa diajari menggunakan frasa seperti “Aduh, kok bisa ya?” atau “Yah, sayang sekali,” untuk menggantikan umpatan.
5. Jadilah Teladan
Ini kunci utamanya. Orang tua dan orang dewasa di sekitar anak harus menjaga bahasa sehari-hari. Anak meniru bukan hanya apa yang dia dengar, tapi dari siapa ia mendengarnya.
Jangan Lupa: Konsistensi dan Kasih Sayang
Mengatasi anak yang terbiasa mengucapkan kata kasar butuh konsistensi. Tapi lebih dari itu, anak perlu merasakan bahwa ia tetap dicintai dan dibimbing, bukan hanya dikoreksi.
Menurut psikolog anak dari University of Michigan, Dr. Jenny Radesky, hubungan yang hangat dan suportif lebih efektif dalam mengubah perilaku dibanding hukuman verbal. (kam)
Editor : Hakam Alghivari