Penulis : Ikfina Himmati S.Kep,.Ns (Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
Pembimbing: Dr. Fitri Arofiati, S.Kep., Ns., MAN., Ph.D.
RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Menurut (Florentianus, 2023) tujuan khusus yang berkaitan dengan etika keperawatan tersedia bagi setiap orang yang bekerja sebagai perawat, serta bagi seluruh orang yang menikmati layanan keperawatan.
Pada dasarnya, etika keperawatan bertujuan agar para perawat dapat memahami dan menghargai martabat manusia saat melakukan pekerjaan mereka. Tujuan umum dari etika keperawatan adalah untuk menumbuhkan dan mempertahankan kepercayaan antara perawat dan pasien, perawat dengan perawat, dan perawat dengan masyarakat umum.
Perawat harus terus mengembangkan etika profesionalnya untuk beradaptasi dengan kebutuhan baru, untuk meletakkan landasan filosofi keperawatan agar seluruh perawat dapat tetap menikmati profesinya maka perawat harus mampu menanamkan etika keperawatan.
Analisis kompetensi dan etika terhadap keyakinan pemberi layanan keperawatan kepada masyarakat memegang peranan penting dalam pengambilan keputusan dalam melaksanakan praktik keperawatan. Perawat mempunyai tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang menerima prinsip budaya, hak, dan adat istiadat klien.
Prinsip-prinsip dalam etika keperawatan yang harus dimiliki dan dipatuhi oleh seorang perawat yaitu Otonomi (Autonomy), Berbuat Baik (Beneficience), Keadilan (Justice), Tidak Merugikan (Nonmaleficience), Kejujuran (Veracity), Menepati janji (Fidelity), Kerahasiaan (Confidentiality), dan Akuntabilitas (Accountability) atau disebut juga dengan standar yang pasti.
Penerapan prinsip etik begitu penting dilakukan agar kerugian bagi pasien dan keluarga dapat dihindari. Sebelum memulai Tindakan perawatan pada pasien, perawat harus menjelaskan tujuan dari tindakan yang akan dilakukan.
Bahkan, perawat perlu meminta izin atau kesediaan pasien dalam setiap tindakannya. Jika pasien menolak tindakan keperawatan, maka perawat tidak dapat memaksakannya. Pasien pasti sudah mempertimbangkan akibatnya.
Contoh ini menggambarkan betapa esensialnya seorang perawat memahami etika dalam bidang keperawatan. Edukasi juga sangat penting dilakukan kepada pasien dan keluarga agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Dalam contoh lain perawat melakukan sebuah tindakan keperawatan berupa pemasangan infus kepada pasien dan tidak menerapkan SOP (standart operational procedure). Diketahui perawat sudah mencoba memasang infusan dengan jarum infus selama dua kali dan tanpa mengganti jarum infusan, perawat mecoba lagi untuk yang ketiga kalinya dan berhasil dan kemudian perawat menghubungkannya dengan cairan infus tanpa memperhatikan tetesannya.
Setelah tiga jam pasien mengeluh nyeri di area infusan dan perawat segera memeriksa dan diketahui terdapat pembengkakan di area infusan. Berdasar kasus ini maka dapat ditemukan bahwa perawat melanggar prinsip etik keperawatan Nonmalefecience (tidak merugikan) dalam Tindakan perawat tersebut yang tidak sesuai dengan SOP dan tidak memperhatikan tetesan infusan sehingga sampai mencederai pasien dan menimbulkan kebengkakan di area infusan.
Juga dalam kasus tersebut perawat melanggar etik Beneficience (berbuat baik) etika ini berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain.
Terkadang dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi, dan dalam kasus tersebut maka Tindakan perawat dapat menyalahi prinsip etik benefecience. Perawat adalah tenaga Kesehatan yang setia di sisi pasien selama 24 jam, sehingga harus memberikan perawatan yang berkualitas dan selalu menghormati kode etik keperawatan serta menerapkan prinsip-prinsip etik tersebut saat memberikan layanan kesehatan. Penerapan etik keperawatan tak akan terlepas dari pribadi perawat tersebut. (*/kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari