LAMONGAN, Radar Lamongan - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi perhatian serius, karena jumlah penderitanya masih cukup tinggi. Tahun 2022 ditemukan sebanyak 2.633 penderita, serta tahun lalu terdeteksi 3.187 penderita. Sehingga, dalam setahun kasus TBC meningkat sebanyak 554 kasus.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Lamongan, dr. Mafidhatul Laely menjelaskan, untuk TBC akan dicari suspek sebanyak-banyaknya. Tiga bulan ini sudah ada kasus baru, dan penderitanya dari semua kategori usia.
Berdasarkan pengamatannya, banyak pasien yang tidak menyadari kalau mereka terpapar penyakit TBC. Gejala paling sering dijumpai adalah batuk, yang biasanya disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis.
Batuk terus menerus yang disertai dengan dahak keruh, bahkan hingga berdarah. Kemudian disertai demam, turun berat badan, hilang nafsu makan, berkeringat malam tanpa aktivitas, dan gejala lainnya. Jika kondisi demikian sebaiknya segera periksa ke doker untuk dilakukan penanganan sesuai gejalanya.
‘’Kasusnya banyak pasien TB yang lambat penanganannya sehingga sudah ditemukan gejala sakit lainnya,” imbuhnya.
Fidha menuturkan, Indonesia menduduki peringkat kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia setelah India. Data global terdapat 1 juta penduduk yang terkena TBC dengan angka kematian sebanyak 134 ribu.
Dia menjelaskan, TBC bisa ditularkan melalui inhalasi (terhirup) masuk melalui hidung dan mulut. Dari saluran pernapasan, bakteri TBC akan terus masuk hingga mencapai alveolus yang ada di paru-paru.
Dr. Fidha meminta agar semua menjaga imun tubuh. Serta masyarakat diimbau menjaga kebersihan, kesehatan, pola makan, dan hindari stress. Sebab stress menjadi pemicu dari semua penyakit.
Pihaknya berupaya menemukan penderita sebanyak-banyaknya, sebagai upaya untuk melakukan pengobatan sebelum menyebar ke organ lain. ‘’TB ini menyerang semua usia, tapi paling banyak memang lanjut usia (lansia) karena biasanya disertai komorbid,” katanya. (rka/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana