Oleh:
Bachtiar Febrianto
Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro
Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis angka pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini yang mencapai 5,12%. Sebuah angka yang seolah memberi kabar baik di tengah turbulensi global. Namun, pertanyaan krusial muncul: apakah angka itu benar-benar menggambarkan kenyataan yang dirasakan rakyat?
Di lapangan, fakta berbeda justru menampar. PHK massal menghantui sektor industri, daya beli masyarakat kian melemah, harga-harga bahan pokok melambung tak terkendali, dan kelas menengah—yang selama ini menjadi penyangga ekonomi nasional—pelan tapi pasti tergerus, turun derajat menjadi kelas rentan miskin. Ironisnya, segelintir orang tetap menguasai mayoritas sumber daya. Inilah wajah pertumbuhan semu, pertumbuhan yang hanya tercatat di laporan statistik, bukan di dapur rakyat.
Kesenjangan: Bom Waktu Ekonomi dan Politik
Data BPS memang menunjukkan Gini Ratio sedikit membaik, dari 0,381 menjadi 0,375. Namun mari jujur, apakah selisih nol koma sekian itu mampu menghapus jurang kaya-miskin yang semakin menganga? Tentu tidak. Bagaimana mungkin kita bicara pertumbuhan ekonomi, sementara masih banyak keluarga yang sekadar untuk makan sehari saja harus berjibaku?
Jika kondisi ini dibiarkan, kesenjangan ekonomi bisa meledak menjadi masalah sosial dan politik. Kita tentu tak ingin melihat desa-desa yang mestinya menjadi penopang ekonomi justru berubah menjadi kantong-kantong kemiskinan.
Jawaban Ada di Desa
Di tengah kelesuan itu, justru desa-desa menunjukkan harapan baru. Hasil survei tim Radar Bojonegoro terhadap desa-desa di Bojonegoro, Lamongan, dan Blora membuktikan banyak kepala desa diam-diam melahirkan program kreatif dan inovatif. Ada desa yang berhasil mengembangkan produk lokal menjadi komoditas bernilai tinggi, ada yang sudah menerapkan pelayanan secara digital, mengembangkan desanya menjadi sentra komoditi pertanian tertentu, dan lainnya.
Mereka bergerak, berkreasi, dan menolak menyerah pada keterbatasan. Fenomena inilah yang melahirkan tema besar Radar Bojonegoro Award 2025, yaitu: Anugerah Desa Inspiratif.
Radar Bojonegoro Award: Membalik Narasi
Radar Bojonegoro dengan berani membalik narasi besar ekonomi nasional. Jika selama ini desa hanya dianggap “penerima/obyek” pembangunan, lewat Anugerah Desa Inspiratif, desa justru diposisikan sebagai subyek/motor pemerataan ekonomi.
Lebih dari sekadar seremoni penghargaan, award ini adalah panggung untuk memperlihatkan bahwa solusi kesenjangan bukan melulu di tangan investor besar atau megaproyek di kota-kota, melainkan di tangan masyarakat desa yang kreatif dan inovatif.
Momen Koreksi dan Inspirasi
Radar Bojonegoro Award 2025 harus dibaca bukan sekadar sebagai ajang apresiasi, melainkan sebagai momen koreksi terhadap ilusi pertumbuhan ekonomi. Bahwa yang dibutuhkan Indonesia hari ini bukan sekadar angka 5% di laporan BPS, tapi pemerataan nyata yang bisa dirasakan oleh rakyat, termasuk yang ada di desa.
Dengan memberi panggung bagi desa-desa inspiratif, Radar Bojonegoro sesungguhnya sedang mengirim pesan : “Keadilan ekonomi tidak hanya lahir dari atas, tapi juga dari bawah. Dari desa.”
Penutup: Jalan Terang dari Desa
Bangsa ini tidak butuh lagi pertumbuhan ekonomi semu. Yang dibutuhkan adalah model pembangunan yang membumi, yang berpihak pada desa, yang memotong jalur kesenjangan.
Radar Bojonegoro Award 2025 hadir sebagai momentum historis. Desa-desa yang kreatif dan inovatif harus jadi teladan, bukan sekadar bagi Bojonegoro, Lamongan, atau Blora, tetapi bagi seluruh Indonesia.
Jika desa diberi ruang dan dukungan penuh, maka pertumbuhan 5% bukan hanya catatan statistik, melainkan nyata terasa di kantong rakyat. Saatnya desa bicara, saatnya pertumbuhan ekonomi turun ke tanah, menyentuh bumi tempat rakyat berpijak. (*)
Editor : Yuan Edo Ramadhana