Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Antara UN, Pembentukan Karakter Siswa, Beban Guru, dan AI

Yuan Edo Ramadhana • Rabu, 5 Februari 2025 | 17:47 WIB
BACHTIAR FEBRIANTO (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)
BACHTIAR FEBRIANTO (ISTIMEWA/RADAR BOJONEGORO)

 

Oleh:
BACHTIAR FEBRIANTO
Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro

 

RENCANA pemberlakuan kembali Ujian Nasional (UN) menjadi topik hangat yang memicu pro dan kontra di kalangan pendidik, siswa, dan orang tua. Berita terbaru Radar Bojonegoro edisi Senin, 3 Februari 2025 mengungkap berbagai sudut pandang mengenai pro dan kontra UN tersebut.

Salah satu argumen yang mendukung kembalinya UN adalah klaim bahwa sejak dihapus, semangat belajar siswa cenderung menurun. Tanpa UN, iklim persaingan antarsiswa maupun antarsekolah dinilai kurang terasa. UN dianggap sebagai alat evaluasi yang mampu memacu siswa untuk lebih giat belajar dan berprestasi.

Di sisi lain, banyak pihak yang menentang UN dengan alasan bahwa ujian ini kerap menjadi beban psikologis bagi siswa. Ketika UN dijadikan syarat kelulusan, tekanan yang dirasakan siswa maupun guru semakin besar.

Terutama karena penilaiannya hanya berfokus pada aspek akademis. Padahal, pendidikan seharusnya mencakup pembentukan karakter, keterampilan sosial, dan nilai-nilai moral. Menyikapi pro dan kontra tersebut, muncul gagasan untuk mengubah konsep dan sistem UN.

Jika diberlakukan kembali, maka UN jangan hanya sekadar alat evaluasi akademis, tetapi juga harus menjadi sarana pembentukan dan evaluasi karakter siswa. Nilai-nilai seperti kerja keras, pantang menyerah, siap bersaing, dan kejujuran perlu diintegrasikan ke dalam sistem UN.

Pendekatan holistik yang melibatkan pendidikan karakter, pengurangan tekanan, serta penekanan pada kerja sama dan solidaritas menjadi kunci. Guru memegang peran sentral dalam mewujudkan tujuan ini.

Namun, tantangan yang dihadapi guru tidaklah kecil. Beban administratif yang sudah berat semakin bertambah ketika UN kembali diberlakukan. Namun, harus diingat, kondisi saat ini sudah berbeda dengan saat UN diberlakukan dahulu.

Saat ini, banyak ditemukan teknologi yang menciptakan kemudahan di era digital saat ini. Terbaru ditemukannya Artificial Intelligence (AI), yang bisa menjadi mitra cerdas bagi guru. Di sinilah AI hadir sebagai solusi inovatif. AI tidak hanya meringankan beban guru, tetapi juga meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Kemudahan dari AI antara lain:

  1. Persiapan UN yang Efisien. AI menyediakan bank soal otomatis, analisis materi, dan prediksi soal berdasar tren ujian sebelumnya. Guru tidak perlu lagi menghabiskan waktu menyusun materi secara manual.
  2. Personalisasi Pembelajaran. AI mampu menganalisis kemampuan individu siswa dan memberikan rekomendasi pembelajaran yang disesuaikan. Guru dapat fokus pada siswa yang membutuhkan bantuan lebih.
  3. Evaluasi dan Umpan Balik Instan. AI menilai jawaban ujian secara otomatis dan memberikan analisis mendetail tentang kelemahan siswa, memudahkan guru dalam memberikan bimbingan yang tepat.
  4. Mengurangi Beban Administratif. AI mengotomatisasi tugas administratif seperti pengisian nilai dan pembuatan laporan, sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk interaksi langsung dengan siswa.
  5. Meningkatkan Keterlibatan Siswa. Fitur seperti gamifikasi dan video interaktif membuat proses belajar lebih menarik. Guru dapat memanfaatkan alat ini untuk menciptakan suasana belajar yang dinamis dan tidak membebani siswa.
  6. Fokus pada Pengembangan Karakter. Dengan AI yang menangani tugas teknis, guru memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing siswa dalam pengembangan karakter dan keterampilan sosial, seperti kerja sama dan berpikir kritis.

Kolaborasi UN dan AI untuk Generasi Unggul

UN memiliki potensi besar tidak hanya sebagai alat evaluasi akademis, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter siswa. Namun, hal ini perlu diimbangi dengan pendekatan yang bijak dan holistik, agar tidak malah menimbulkan kontraproduktif. Misalnya, ketidakjujuran oleh guru maupun siswa.

AI justru hadir sebagai mitra cerdas yang tidak hanya meringankan beban guru, tetapi juga memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada pengembangan siswa secara menyeluruh. Kolaborasi antara guru dan AI akan menciptakan sistem pendidikan yang lebih adaptif, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan siswa.

Dengan demikian, UN dan AI dapat menjadi dua pilar penting dalam menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga berkarakter luhur dan siap bersaing di era digital. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana para guru dapat beradaptasi dengan teknologi AI dan memanfaatkannya secara optimal untuk kemajuan pendidikan. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#ujian nasional #un #siswabaru #Guru #evaluasi #Pendidikan #radar bojonegoro #persaingan #Akademis #artificial intelligence #belajar #pengembangan #Beban Psikologis #bojonegoro #pendidikan karakter #pembelajaran #sudut pandang #ai