Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Samin, Mbah Harjo, dan Budaya Kejujuran

M. Yusuf Purwanto • Minggu, 28 Mei 2023 | 20:14 WIB
DOK/RDR.BJN
DOK/RDR.BJN
Zaman saiki gawat, ati-ati ayo dedungo. Wes nggak usah neko-neko, kerjo ae tandur. Nggak usah ribut koyo negoro saiki,” itulah pesan Mbah Hardjo Kardi saat saya mewancarainya di rumahnya di Dusun Jepang, Desa/Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro.

Pesan itu masih kuingat sampai sekarang karena saya catat. Pitutur Mbah Hardjo tersebut menanggapi dinamika perpolitikan menjelang pemilihan legislatif (pileg) dengan aksi para calon legislatif. Saat itu, saya meliput coblosan di Kampung Samin Dusun Jepang. Mungkin, pesan Mbah Harjo di atas masih relevansi mengingat saat ini tahun politik.

Berangkat usai Subuh, pulang usai Asar. Dusun Jepang cukup jauh. Lebih dekat dengan Kabupaten Ngawi. Jarak dengan Alun-Alun Bojonegoro sekitar 69 kilometer ditempuh hampir 2 jam. Ngobrol panjang dengan Mbah Hardjo Kardi.

Obrolan dengan Mbah Harjo pun jadi kenangan. Masyarakat Dusun Jepang, Desa Margomulyo, kemarin (27/5) berkabung. Tokoh dan sesepuh Mbah Hardjo Kardi tutup usia. Mbah Harjo merupakan generasi keempat dari Samin Surosentiko.

Mbah Harjo merupakan sosok dihormati masyarakat setempat. Kesederhanaan hingga pituturnya cukup mengena. Semua tokoh, bupati maupun wakil bupati, birokrat, pejabat kepolisian hingga milier pun kerap kali silaturahmi ke sosok yang meneduhkan ini. Selalu menitipkan ajaran kejujuran.

Siapa sangka di balik sosok sederhana ini, ternyata yang membuka masyarakat Dusun Jepang dan sekitarnya mulai mengenyam pendidikan. Sosok yang menghapus Dusun Jepang dahulunya daerah buta huruf karena belum ada lembaga pendidikan. Dahulu, masyarakat Dusun Jepang sulit mengakses sekolah karena lokasinya jauh. Harus melewati hutan dan pepohonan jati untuk menuju sekolah di desa tetangga.

Usai Orde Baru, Mbah Hardjo Kardi akhirnya bertekad kuat agar di Dusun Jepang, ngadek lembaga pendidikan di kampungnya. Berembug dengan masyarakat mengajak mendirikan sekolah. Dan, berdirilah sebuah sekolah dimiliki empat dusun yaitu Jepang, Kaligede, Tepus dan Batang. Guru-gurunya sukarelawan. Dibayar oleh wali murid.

Mbah Harjo selalu menitipkan ajaran kejujuran. Ajaran itu menjadi simpul masyarakat Samin. Bertemu siapapun, kerap kali Mbah Harjo menitipkan laku jujur. Ajaran kejujuran ini ternyata tak hanya saya dapatkan saat bertemu Mbah Harjo.

Suatu ketika penasaran dengan Sedulur Sikep Samin di Blora. Bersama para jurnalis mengunjungi kampung Samin di Kecamatan Sambong, Blora. Bertemu dengan sesepuh dan masyarakat setempat. Lagi-lagi, ajaran kejujuran selalu dipituturkan. Bertemu siapapun selalu menitipkan pesan laku kejujuran.

Ternyata, ajaran kejujuran Samin inilah yang ditakuti kolonial Belanda. Harry J. Benda dan Lance Castles pernah menulis jurnal berjudul “The Samin Movement”. Jurnal karya penulis asal Belanda ini mengagumkan. Bukunya berbahasa Inggris diterbitkan pada 1969 itu memotret kisah gerakan masyarakat Samin di masa penjajahan Belanda.

Kejujuran itulah yang menguatkan masyarakat Sedulur Sikep Samin menghadapi penjajah. Seakan, Samin melawan Belanda tanpa perang.

Seandainya ajaran kejujuran Samin ini dipopulerkan tentu akan menjadi teladan. Selalu dikampanyekan di acara apapun. Misalnya, ketika ulama atau kiai berkhutbah, tentu diawali kalimat ajakan menjadi manusia bertakwa.

Nah, tentu akan menarik seandainya semua pejabat di Bojonegoro, saat membuka pidato diawali dengan ajakan kejujuran atau menjadi manusia jujur. Pak Lurah atau Kades saat pidato alangkah senangnya bila saat pidato diawali ajakan menjadi manusia jujur.

Bahkan, sampai Pak RT atau kepala sekolah pun alangkah bagusnya ketika pidato di awali ajakan kejujuran. Apalagi musim politik saat ini, caleg, capres, atau cabup, perlu saat pidato mengawali ajaran kejujuran. Atau kalau perlu menjadi identitas nama jalan atau ruangan di gedung pemerintahan, seperti Jalan Jujur atau Ruang Jujur.

Ajaran kejujuran Samin ini, mungkin sampai di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena, KPK memasang slogan besar: Berani Jujur, Hebat!.  Kejujuran bukan sekadar lipstik, tapi keabadian. Seperti pesan Mbah Harjo dengan laku kejujuran adalah keabadian. Selamat Jalan Mbah Harjo. (*)

 

 

*KHORIJ ZAENAL ASRORI
Wartawan Radar Bojonegoro Editor : M. Yusuf Purwanto
#teladan #sedulur sikep #kejujuran #samin #mbah harjo