RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pengembangan geosite Kedung Lantung di Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras, terus didorong melalui kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya melalui forum Sarasehan Budaya yang diselenggarakan Bojonegoro History, Senin (10/8/26).
Pada kesempatan ini, Kelompok 4 KKN TK Universitas Bojonegoro (Unigoro) turut memaparkan sejumlah program yang mereka jalankan untuk mendukung pengembangan Kedung Lantung sebagai kawasan eduwisata.
Hadirnya peserta KKN ini juga mendukung Program Pengembangan Masyarakat (PPM) ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unigoro.
“Melalui berbagai program yang dilaksanakan di Desa Drenges, mahasiswa turut memperkuat upaya pengembangan potensi lokal, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan geosite Kedung Lantung sebagai kawasan eduwisata,” tutur Ketua LPPM Unigoro, Dr. Laily Agustina R., S.Si., M.Sc., Jumat (14/8).
Ketua Kelompok 4 KKN TK Unigoro, Imdadul Muarijil Ula, menerangkan sejumlah program kerja yang telah dan sedang dilakukan. Mulai dari reintroduksi anggrek Bojonegoro, penanaman pohon bougenville dan pule, pendampingan UMKM, pembuatan motif batik khas Kedung Lantung, pemetaan potensi desa, hingga Ekspedisi Sejarah dan Budaya Desa Drenges.
Kegiatan tersebut dirancang untuk mengangkat potensi yang ada di desa dari berbagai sisi. “Jadi tidak hanya berfokus pada lingkungan dan keanekaragaman hayati. Tetapi juga budaya, sejarah, ekonomi masyarakat, serta identitas lokal dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata di Kedung Lantung,” terangnya.
Baca Juga: PMB Unigoro Ditutup 31 Agustus 2026, Masih Ada Kesempatan Dapat Beasiswa
Dia menambahkan, program kerja kelompoknya di Desa Drenges diarahkan agar dapat berjalan beriringan dengan program PPM EMCL bersama LPPM Unigoro. “Sehingga semakin memperkuat program yang sudah berjalan, terutama dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi Desa Drenges,” imbuhnya.
Sementara itu, Almaliki Ukay Sukaya Subqy selaku perwakilan EMCL, dalam sarasehan tersebut menekankan bahwa pengembangan eduwisata tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas fisik. Menurutnya, hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana sebuah destinasi mampu memberikan pengalaman yang baik sehingga meninggalkan kesan bagi pengunjung.
“Wisata yang baik itu harus menciptakan pengalaman yang berkesan dalam setiap memori pengunjung. Oleh karena itu, kita harus gali dan kreasikan semua hal yang ada di sini. Sejak dari perjalanan menuju ke sini hingga mereka pulang,” jelas pria yang sudah puluhan tahun berkecimpung di bidang komunikasi ini.
Menurut Malik, konsep tersebut penting dalam pengembangan Kedung Lantung. Kawasan ini tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga harus punya cerita, interaksi, dan pengalaman yang membuat pengunjung memahami apa yang menjadi keunikan Wisata Edukasi Geopark Kedung Lantung ini. “Mindset dan pola komunikasi pengelola juga harus diolah agar memperkuat hospitality, meningkatkan penguasaan pengetahuan tentang Kedung Lantung, dan terus melatih kemampuan komunikasinya,” tandas praktisi komunikasi kehumasan ini.
Program kerja Kelompok 4 KKN TK Unigoro seperti pengembangan keanekaragaman hayati, penggalian sejarah dan budaya, penguatan UMKM, hingga pengenalan identitas lokal melalui batik menjadi bagian yang saling melengkapi. Potensi tersebut diharapkan dapat membentuk pengalaman wisata yang lebih utuh, sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat dan memperoleh manfaat dari pengembangan kawasan.
Kolaborasi antara EMCL, LPPM Unigoro, Kelompok 4 KKN TK Unigoro, dan masyarakat Desa Drenges menjadi salah satu langkah untuk memastikan pengembangan Kedung Lantung tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Lebih dari itu, Kedung Lantung diarahkan menjadi kawasan eduwisata yang memiliki daya tarik, cerita, identitas, dan pengalaman yang dapat dikenang pengunjung. (din)
Editor : Bhagas Dani Purwoko